Sympathy for Mr. Vengeance (Park Chan-Wook, Drama, 2002)

October 11th, 2005 by yukiyuki

Seorang pemuda mengirimkan surat mengenai rasa sayang dan hormat pada kakak perempuannya atas pengorbanan yang telah dilakukan oleh sang kakak. Tidak bohong, saat dibacakan surat tersebut hati gue tersentuh (i’m really a sucker for this kinda thing). Film dimulai dengan pengenalan karakter utamanya yaitu seorang pemuda bisu dan kakaknya yang sakit parah hingga memerlukan transplantasi ginjal untuk tetap bertahan hidup. Si adik yang mengakui dirinya sebagai orang yang bodoh mencoba untuk kali ini mencari uang demi ginjal untuk sang kakak. Dibantu oleh pacarnya yang rada nyentrik dan ikut suatu organisasi sayap kiri di Korea, si adik sudah frustrasi karena ga tahan menunggu lebih lama lagi untuk ginjal disaat si kakak sudah dilanda kesakitan yang amat sangat. Si adik memutuskan untuk mencari ginjal ke pasar gelap perdagangan organ tubuh dan ditipu dengan kehilangan uang 10 juta won ditambah ginjalnya sendiri.

Karena tertipu, dan harus mengumpulkan uang 10 juta won untuk biaya transplantasi ginjal si kakak, si adik dgn dorongan pacarnya mempunyai ide untuk menculik seorang anak pengusaha kaya. Tanpa sengaja si anak kecil mati tenggelam dan ayah si anak berusaha untuk menuntut balas dendam.

Gue sendiri suka sekali dengan separuh bagian awal film ini. Dengan mengusung tema layaknya film-film Ken Loach, niat penculikan itu disisipi embel-embel ketidakadilan di sebuah negara yang cukup maju seperti Korea Selatan, pilihan mereka berdua begitu terbatasnya.Namun, ketika paruh kedua film ini berlangsung, film ini terasa lama sekali dan menjadi kehilangan fokus. Ceritanya berpindah ke ambisi balas dendam seorang ayah yang sedih karena satu-satunya anggota keluar yang dia miliki telah mati karena orang lain. Ini seperti memaksakan sebuah kolaborasi antara Loach dan Takashi Miike, dan ini bukan pujian. Timbul pertanyaan-pertanyaan dalam benak gue, apakah sebenarnya yang mau dikatakan oleh Chan-Wook?Apakah kejahatan itu sebuah vicious circle?Atau apakah Chan-Wook berupaya menyentil kesenjangan ekonomi akibat kapitalisme pengaruh Amerika di Korea?Film ini membuat gue lebih menghormati film-film seperti Dead Alive, Evil Dead, dan Ichi the Killer yang gue kasih rating 1 bintang karena masalah selera, tapi setidaknya Jackson, Raimi, dan Miike konsisten dalam filmnya yang memang tentang “bad taste”.

Film ini mempunyai atmosfir yang sunyi, hening, layaknya dunia dalam kepala pria rambut hijau yang tuli dan bisu. Setting film dan visual yang sedap dipandang mata membuktikan bahwa perfilman Korea Selatan siap maju dan berhadapan dengan film-film Hollywood.Gaya penyutradaraan Chan-Wook Park sendiri sedikitnya mempunyai “resemblance” dengan gaya Robert Bresson. Ada momen-momen dimana kita tidak diperlihatkan secara jelas mengapa suatu hal dapat terjadi alias penonton dibiarkan berkhayal sendiri, seperti saat kita tidak tahu bagaimana akhirnya pasangan itu dapat membujuk anak kecil untuk ikut ke rumah mereka dan merasa nyaman sehingga lupa akan ayahnya. Namun tidak seperti Bresson yang konsisten untuk tidak menampilkan hal-hal kurang penting ke dalam filmnya, Chan-Wook memasukkan hal-hal yang terkadang sangat obvious dan ketebak seperti saat si pria rambut hijau didalam lift dan melihat mayat pacarnya dengan kain putih melorot.

Ada beberapa momen2 lucu. Terutama saat para pemuda yang nge kos di samping kamar pemuda berambut hijau menguping ke kamarnya hanya agar dapat berfantasi dengan suara orang yg sedang berhubungan seks diatas kamar si hijau. Ada juga momen2 sedih seperti awal film ini. Namun di akhir film gue mematikan DVD dengan tangan hampa. Give me another Korean movies. (**, worth seeing)

NB: I think Oldboy is far better. Seteah menonton lagi, twisted dah tau, ternyata memberikan pengalaman nonton yang baru. Dan terkadang ada sedikit flaws tapi selain itu, sempurna….Ending yang rada hiperbolis sedikit tapi tidak mengapa karena motifasi dan pengembangan karakter2nya sudah kuat. Park Chan-Wook memang sutradara berbakat, dan Oldboy adalah kulminasi dari hasil kerja kerasnya selama ini. (***1/2, great movie)

Wild Strawberries / Smultronstallet (Ingmar Bergman, Drama/Art-House International, 1957)

October 11th, 2005 by yukiyuki

WARNING:Might Contain Spoilers!!!

Teringat oleh kata2 yang diperankan oleh karakter Kevin Spacey dalam film “American Beauty”, “your entire life flashes in front of your eyes the second before your die”. Kata-kata itu terasa pas dalam menggambarkan film Wild Strawberries sebagai film yang rada berbeda dengan film2 Bergman lainnya. Wild Strawberries menangkap sekaligus kedalaman tema yang biasa diperlihatkan Bergman dengan rasa simpati terhadap karakter utama dalam film ini, yang jarang terjadi film-film Bergman lainnya. Film ini bercerita tentang perjalanan introspektif dalam mendefinisikan arti hidupnya, dan kematian yang dia rasakan akan menjemputnya sebentar lagi.

Kehidupan sebelumnya dari Isak Borg yang diperankan secara meyakinkan oleh Victor Sjostrom (sutradara kenamaan Swedia di era film bisu) tidak ditampilkan sesaat sebelum dia mati, namun pada sepanjang film ini. Isak adalah seorang professor di bidang kedokteran yang telah menjadi dokter selama 50 tahun. Dia dapat dibilang kejam pada orang2 di sekitarnya dalam artian tidak perduli dengan kehidupan orang lain dan ga mau ambil pusing juga. Isak dibenci oleh anaknya sendiri dan menantunya.

Film ini mengisahkah perjalanan Isak dari Stockholm ke kota Lund untuk menerima penghargaan atas pengabdiannya sebagai dokter selama 50 tahun. Didampingi oleh Marianne menantunya dalam perjalanan mereka bertemu 3 orang muda-mudi yang ingin menumpang.Perjalanan ke Lund itu bagaikan mengulang kembali kehidupan Isak mulai dari kecil hingga beranjak dewasa karena melewati beberapa tempat dia pernah menghabiskan hidupnya melalui mimpi2 yang dia dapatkan dalam sepanjang perjalanan ke Lund.

Isak yang sebelumnya tidak pernah merasa perduli dengan orang lain dan mungkin juga merasa tidak yakin orang lain juga perduli dengan dirinya mulai merasakan arti hidup dalam perjalanannya itu. Mulai dari Marianne yang mengkritik habis2an atas perilaku Isak yang tidak disadari sendiri oleh Isak. Lalu pada suatu tempat pengisian bensin dimana tukang bensin dan istrinya begitu berterima kasih atas jasa Isak dahulu ketika menjadi dokter di daerah tersebut yang Isak sendiri juga lupa jasa apa. Tukang bensin itu menggratiskan bensinnya untuk Isak. Dari situlah mata Isak mulai terbuka bahwa dibalik sikap “irritating”nya selama ini ternyata ada orang-orang yang memperhatikannya dan tersentuh olehnya. Bahkan 3 orang yang menumpang mobilnya pun merasa kagum dengan Isak walaupun baru hari itu mereka bertemu.

Bukan Bergman kalau didalam filmnya tidak menyindir apa yang disebut “organized religion”. Kali ini pertanyaan tentang keberadaan Tuhan disampaikan oleh 3 orang yang menumpang dalam mobilnya. Penumpang yang wanita sedang dalam kondisi bimbang memilih diantara kedua lelaki temannya dimana yang satu adalah calon dokter dan yang satu lagi adalah calon pastur (mmm mungkin 3 orang inilah yang mendasari Truffaut membuat film Jules and Jim). Kedua lelaki tersebut sepanjang perjalanan selalu memperdebatka keberadaan Tuhan. Seperti dalam the Seventh Seal, pandang Bergman mengenai Tuhan adalah lebih luas dari apa yang dicitrakan oleh “organized religion”. Tuhan dalam film2 Bergman munculdalam keseharian kita, dalam Wild Strawberries dapat dikatakan ada diantara keceriaan keluarga, persahabatan antara manusia, hubungan antara majikan-pembantu, bahkan pada tumbuh rimbunnya pepohonan Strawberry liar.

Yang unik dari film-film dari Bergman adalah dia selalu menampilkan kontradiksi & satir kehidupan seperti pertanyaan keberadaan Tuhan atau pada hubungan ayah-anak antara Isak dan Evald, dimana salah satu penyebab Evald akan bercerai dengan Marianne adalah Evald enggan untuk memiliki anak yang sedang dikandung oleh Marianne dikarenakan bayangan masa lalunya tentang dia dan ayahnya yang dia rasakan sebagai anak yang tidak diinginkan. Namun pada akhirnya dijawab tuntas oleh Bergman dalam final sekuen mimpi setelah secara subtle Isak berhasil mempersatukan kembali Evald dan Marianne. Mimpi mengenai ingatan akan piknik bareng keluarga yang efeknya terasa hangat, nyaman dan perubahan pada diri Isak. Tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah, dan ini adalah film yang akan gue tonton kembali di masa-masa mendatang mungkin sampai gue setua karakter Isak . One of my all-time fave. (****, a truly masterpiece)

Au Hasard Balthazar (France, 1966, Drama/Faith/Art-House International, Robert Bresson, 2nd viewing)

September 23rd, 2005 by yukiyuki

Ketika DVD film ini dirilis di Amerika oleh Criterion baru-baru ini, Manohla Dargis kritikus film dari New York Times berujar “Forget the Sith, Tom and Katie, the big movie news this summer is the release on DVD of one of the greatest films in history: Au Hasard Balthazar.”

Mengapa film ini begitu dipuji setinggi langit sehingga dalam polling para kritikus dari seluruh dunia yang digelar oleh Sight & Sound pada tahun 2002 menempatkan film ini sebagai salah satu dari 20 film terbaik yang pernah dibuat sepanjang masa?

Film ini sendiri padahal dari permukaannya hanya menampilkan kehidupan seekor keledai yang di distereotipkan sebagai binatang yang dungu dan kehidupan sehari-hari di sekitar keledai tersebut. Tidak mungkin bila hanya hal tersebut yang dikejar oleh sutradaranya Robert Bresson yang disebut2 sebagai salah satu orang suci dalam dunia perfilman akan menjadikan film ini begitu terkenal.

Salah satu kriteria gue dalam menilai sebuah masterpiece sendiri adalah film tersebut harus membutuhkan pencarian data lebih lanjut atau tidak selesai begitu kata “Tamat” muncul di layar kaca.

Untuk orang yang awam mengenai Christian faith, gue sendiri merasa saat waktu menonton film ini pertama kali cukup pusing dengan apa yang disajikan Bresson di layar televisi. Peristiwa berlangsung dari yang satu kemudian pindah ke adegan berikutnya tanpa ada hubungan langsung dengan adegan sebelumnya. Who is this guy Robert Bresson. Siapa si laki-laki yang disebut-sebut David Lynch dan Andrei Tarkovsky sebagai salah satu pengaruh paling kuat dalam film-filmnya.

Dengan membaca beberapa artikel tentang film ini gue mendapatkan gambaran bahwa keledai bernama Balthazar tersebut adalah simbolisasi Bresson terhadap Yesus Kristus. Digambarkan mulai dari kelahirannya sampai dengan kematiannya. Disaat menonton untuk kedua kalinya lah semua menjadi lebih jelas dan terlihat hubungan2 yang sebelumnya banyak gue acuhkan dalam film ini.

Film ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seekor keledai bernama Balthazar semenjak kecil hingga mati dengan perbandingannya dengan Marie seorang gadis yang merupakan pemilik Balthazar kecil dan tetap ada di sekitar Balthazar walau keledai tersebut berganti kepemilikan. Bresson terkenal dengan gaya penyutradaraannya untuk mengeliminasi setiap adegan yang dia rasa kurang penting dan selalu menunjukkan “akibat dari suatu peristiwa selalu lebih dahulu tampil terhadap sebab dari peristiwa tersebut.” Hal ini terlihat dari adegan2 awal dalam film ini dimana Marie menanyakan kepada ayahnya agar dapat memiliki Balthazar untuk dipelihara, ayahnya menjawab tidak. Namun di adegan berikutnya ternyata Balthazar sudah menjadi milik Marie dan kita tidak mengetahui bagaimana proses Marie meyakinkan ayahnya untuk mendapatkan Balthazar.

Terdapat karakter berikutnya sebagai kontradiksi Balthazar yang selalu menjadi objek penderitaan kodratnya sebagai binatang pengangkut yang selalu dicambuk adalah karakter Gerard yang merupakan seorang pemuda dengan perangai layaknya seorang preman didampingi teman2nya yang sering mengganggu Balthazar untuk ditendangi dan dipukuli. Marie yang mempunyai pujaan hati nun jauh disana yang awalnya benci dengan Gerard lama kelamaan menjadi jatuh cinta dengan Gerard dengan alasan hanya kita sebagai penonton yang bisa menentukannya. Balthazar disini selalu sebagai saksi mata yang hanya bisa meringkik dan melenguh bila terjadi suatu kejahatan dan ketidakadilan dalam lingkungan sekitarnya. Sampai ending yang menyedihkan dimana akhirnya Balthazar mati di tengah2 sekumpulan domba dengan diringi musik orkestra gubahan Schubert.

Perjalanan hidup Balthazar selalu berpindah tangan dari satu pemilik ke pemilik yang lain, antara lainnya tukang roti, pemabuk, seorang rentenir yang kikir, dan dijadikan binatang sirkus. Balthazar layaknya seorang manusia ditampilkan mulai dari kelahirannya, masa kecilnya yang menyenangkan bermain-main dengan anak2 disekitarnya, menjadi dewasa dan kerja untuk para pemiliknya, cerdas dalam berhitung, sampai tua dan mati.

Menonton film ini secara “literal” atau lurus2 saja dengan bekal sedikit yaitu Balthazar adalah representasi Yesus, maka dapat ditangkap bahwa film ini merupakan potret fragment tentang kehidupan di sebuah desa di Perancis di pertengahan era 1960. Dihubungkan oleh delapan karakter yang saling bersinggungan satu sama lainnya. Merupakan studi tentang lemah dan kejamnya manusia, sebuah gambaran memilukan bagaimana seorang gadis yang baik dan polos berubah mengalami degradasi moral dan harapan, maupun kekejaman yang ada di diri para pemilik Balthazar sebagai representasi dari “7 deadly sins’ dalam kehidupan sehari-hari sehingga tepatlah pendapat terkenal dari Jean-Luc Godard mengenai film ini bahwa “Au Hasard Balthazar adalah dunia dalam 1 setengah jam.”. Tapi dari semua itu, film ini adalah tentang seekor keledai.

Bresson sendiri merupakan sutradara yang tidak tertarik untuk hanya “sekedar” membuat film, dia tidak pernah membuat hasil karyanya sebagai suatu film melainkan merupakan “cinema”. Dialah salah satu sutradara yang meyakini pencapaian media film sebagai seni adalah sama dengan yang dapat dicapai oleh media lain seperti buku, lukisan, dan karya sastra lainnya. Gaya penyutradaraan Bresson yang dikenal dengan sebutan kasar atau “rigorous” dan “austere”. Kasarnya Bresson adalah seperti yang telah disebutkan diatas dengan seenaknya pindah dari satu adegan ke adegan lainnya yang akan membuat kita sebagai penonton terbengong2 mengapa tiba2 Balthazar udah berganti kepemilikan padahal sebelumnya punyanya si marie atau adegan yang tiba2 Gerard dinyatakan sebagai buronan kepolisian tanpa kita tahu penyebabnya apa. Bresson mengharapkan partisipasi aktif kita sebagai penonton untuk menentukan sendiri sebab dari peristiwa2 yang ada dalam film ini karena menurut Bresson bukanlah seni jika semua hal ditampilkan keseluruhan secara jelas di hadapan penonton. Ini sebabnya gue merasa film ini berdurasi 95 menit tapi berjalan tiga kali lipatnya lebih lama dalam pikiran gue dalam menyambung2kan cerita dalam film ini.

Bresson merupakan sutradara yang cerdas menyadari bahwa suara dalam film lebih penting ketimbang visualisasi dalam film. Karena menurut Bresson mata itu mudah dibohongi namun kuping adalah indra terpenting dalam menonton film, sedangkan kuping selalu menangkap suatu bunyi untuk kemudian diteruskan ke otak dan pikiran penonton untuk dapat dicerna dan merekontruksi bunyi tersebut sesuai khayalan dan logis penonton. Oleh sebab itu tidak heran dalam film ini Bresson selalu membuat suara2 efek seperti ringkikan Balthazar terdengar lebih besar daripada saat karakter2 berdialog.

Bresson juga terkenal akan kebiasaannya untuk tidak memakai aktor professional dalam film2nya (sebenarnya dia menyebut mereka sebagai “model” bukan aktor), karena kecenderungan aktor yang terbiasa untuk terlihat sempurna dalam berakting sehingga film tidak akan terasa wajar dan natural. Oleh karena itu dia selalu melarang modelnya untuk berimprovisasi atau mencoba mengerti skenario yang dia berikan kepada mereka untuk kemudian Bresson mengambil adegan 10, 20, sampai 50 puluh kali suatu adegan agar modelnya mengeluarkan dialog secara otomatis dari mulut mereka tanpa berpikir mengenai makna dialog tersebut. Tidak ada tempat untuk Al Pacino dan Robert De Niro dalam film2 Bresson.

Terdengar cukup berat sekali tampaknya film ini. Tapi secara mengejutkan gue sendiri akhirnya menyadari film ini sangat kuat dan menyentuh, juga jauh lebih mudah dicerna dibandingkan, let’s say film2nya Andrei Tarkovsky atau Ingmar Bergman. Dan ada kutipan menarik dari Abbas Kiarostami mengenai film:”I think that a good film is one that has a lasting power, and you start to reconstruct it after you leave the theater. There are a lot of films that seem to be boring, but they are decent films. On the other hand, there are films that nail you to your seat and overwhelm you to the point that you forget everything, but you feel cheated later. These are the films that take you hostage. I absolutely don’t like the films in which the filmmakers take their viewers hostage and provoke them. I prefer the films that put their audience to sleep in the theater. I think those films are kind enough to offer you a nice nap and not leave you disturbed when you leave the theater. Some films have made me doze off in the theater, but the same films have made me stay up at night, wake up thinking about them in the morning, and keep on thinking about them for weeks. Those are the kind of films I like.”

Penyatuan semua elemen2 diatas membuat film ini terdorong pada titik tertinggi mengapa film dapat disebut sebagai seni, dan apakah bukan ini yang dinamakan hiburan jika kita sendiri ikut berpartisipasi langsung dalam menikmati sebuah film? Hanya kitalah sebagai penonton yang dapat memutuskan. One of my all time fave. (****, a truly masterpiece)

Diabolique / The Devils (Henri-Georges Clouzot, 1954)

September 16th, 2005 by yukiyuki

Diabolique adalah sebuah film “whodunit” dengan genre film-noir. Dibuat oleh salah satu saingan terbaik Alfred Hitchcock dalam genre ini yaitu Henri-Georges Clouzot.

Setting filmnya adalah di sebuah boarding school khusus anak laki-laki di Perancis yang dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah kejam bernama Michel (Paul Meurisse) dan suka menempeleng istrinya Christina (Vera Clouzot, yang tak lain adalah istri sang sutradara) di depan anak-anak sekolah tersebut. Michel bahkan tega menyajikan ikan murah dan basi terhadap anak-anak tersebut dengan dalih keuangan sekolah yang menipis.

Sekolah tersebut sebenarnya adalah milik Christina yang lama-kelamaan memendam kekesalan kepada Michel dan membuatnya ingin segera bercerai dengan si suami untuk kemudian menjual sekolah tersebut dan hidup dengan tenang. Dengan bantuan Nicole (Simone Signoret, Marilyn Monroe-nya Perancis pada saat itu) yang juga merupakan mantan kekasih gelap Michel, mereka berdua mempunyai rencana untuk membunuh Michel di sebuah tempat peristirahatan milik Nicole.

Mereka berdua memancing Michel untuk datang ke tempat tersebut dengan dalih bahwa surat perceraian telah disiapkan oleh Christina sehingga membuat Michel datang untuk memperbaiki keadaan dengan Christina.Sesampainya di tempat peristirahatan, Michel dibunuh dengan ditenggelamkan kedalam Bath Tub dan kemudian dibuang ke kolam renang di halaman sekolah sesampainya Nicole dan Christina kembali ke sekolah.

Hal diatas bukanlah jalan cerita sesungguhnya dari film ini. Cerita dimulai ketika kolam renang di sekolah tersebut dikeringkan, ternyata tidak ditemukan mayat Michel didalamnya, dan beberapa hari kemudian datang setelan jas yang dikenakan Michel pada saat dia dibunuh dari dry-cleaner. Sampai sinilah penonton dibuat berpikir apakah dua wanita itu sudah gila? Seperti yang dikemukakan Clouzot pada akhir film ini “Please do not reveal the ending to those who have not yet seen the film!”, Diabolique bekerja sebagai pedang bermata dua yang terus membuat penontonnya berpikir sampai akhir film.

Gue teringat dengan jenis film yang sama yaitu “Usual Suspects”, dimana mempunyai cukup satu twist ending sejenis dengan Diabolique. Jika pada akhir film “Usual Suspects” yang ada di pikiran gue adalah “Polisinya aja yang bodoh” atau “Nonton film ini kayak ngedengerin seorang teman yang lagi cerita pengalaman serunya tapi pada akhirnya bilang, eh tapi boong deh”, berbeda hal nya dengan Diabolique. Karena Diabolique menggunakan waktu sama banyaknya dan sama baiknya dalam hal membangun karakter-karakternya dengan membangun plot atau jalan cerita filmnya. Sehingga pada saat film berakhir semua keraguan dan kebingungan saat kita menonton film tersebut terbayar penuh atau terjawab semua, semua hal yang diceritakan sebelumnya mempunyai alasan yang kuat.

Hal yang unik saat menonton film ini adalah, gue dapat merasakan film ini seperti keluar dari layar televisi dan berada di sekitar gue. Skenario yang dibangun Clouzot kuat sekaligus “believable”.Hitchcock pernah menjelaskan bahwa ada perbedaan antara “Surprise” dan “Suspense”. Sebuah bom mati dibawah meja, itu “surprise”. Tapi ketika kita tahu bahwa ada bom di bawah meja tapi ga tahu kapan bom itu akan meledak, itu ybaru yang dinamakan “suspense”. Film-film misteri moderen bergantung pada bahaya yang keluar tiba-tiba dan mengejutkan. Surprise.Dan itu kejutan yang akan cepat hilang, kejutan macam tersebut akan menimbulkan kesenangan sesaat tapi tidak kepuasan. “Diabolique” menanamkan suspense di sepanjang filmnya, menanamkan juga didalam ingatan kita, sehingga ketika saat terakhir film itu tiba, seluruh film adalah sebuah thriller sama baiknya dengan awal film.

Ada cerita terkenal: A man wrote to Alfred Hitchcock: “Sir, After seeing `Diabolique,’ my daughter was afraid to take a bath. Now she has seen your `Psycho’ and is afraid to take a shower. What should I do with her?” Hitchcock replied: “Send her to the dry cleaners.” (Watch Diabolique, and you’ll know what it means)

One of my all time favorite. (****, a truly masterpiece)

Belle De Jour (Luis Bunuel, 1967)

September 3rd, 2005 by yukiyuki

Belle De Jour adalah sebuah film yang provokatif dan kompleks secara emosional mengenai seksualitas. Film yang lebih maju daripada zamannya. Seperti layaknya film Bunuel yang lain, Belle de Jour adalah film yang artistik dan mengejutkan karena ceritanya sendiri berjalan “subtle” dengan mengeksploitasi erotisme tanpa harus mengumbar ketelanjangan dan adegan2 panas layaknya film dengan tema yang sama.

Severine (Catherine Deneuve) adalah seorang istri dari suami yang tampan dan bosan dengan kehidupan perkawinannya. Dari adegan pembukanya pun terlihat Severine adalah wanita yang suka bila didominasi secara seksual (disakiti dan dipermalukan) atau lebih kerennya bahasa zaman sekarang dia tertarik dengan konsep “masochism” dimana Severine senang berperan sebagai budaknya atau “slave”, dan suaminya Pierre adalah bukan tipe suami atau laki-laki ideal bagi dirinya karena kesabaran dan kesopanannya.

Rasa penasaran dan tidak terpuaskan itulah yang mendasari Severine untuk memutuskan mau menjadi salah satu Wanita Tuna Susila sebagai kehidupannya yang lain namun hanya di waktu siang. Itulah yang membawanya kepada Madame Anais, seorang germo kelas atas yang menjalankan “Bordello” yang berisikan hanya wanita-wanita cantik dan seksi. Severine diberikan nama paggilan sebagai “Belle De Jour” karena dia harus meninggalkan rumah bordil itu sebelum jam 5 sore.

Pada suatu hari rumah bordil tersebut didatangi oleh dua gangster dimana salah satunya yang masih muda bernama Marcel tertaik dengan Severine. Marcel adalah pria yang kasar, sombong, selalu membawa tongkat besi, berpakaian kulit, dan gigi yang terbuat dari baja. “For You there is no charge” kata Severine langsung aja karena Marcel adalah tipe pria yang diidam-idamkannya selama ini. Severine tertarik dengan Marcel karena perlakuan kasar dan caci maki yang kerap dilakukannya terhadap Severine.

Keadaan tersebut tidak berlangsung lama sampai salah seorang kenalan Severine dan suaminya tiba2 datang ke rumah bordil tersebut dan terobsesi dengan Severine juga. Takut karena akan diadukan ke suaminya, Severine memutuskan untuk berhenti. Dan hal tersebut yang akan menuntun kita ke ending film ini yang terbuka, membingungkan, tidak terpecahkan, dan bukan saja ambigu, namun banyak kemungkinan yang dapat kita simpulkan dari ending tersebut (setidaknya gue sendiri berpikir ada tiga kemungkinan).

Didaulat sebagai salah satu film erotis terbaik dan paling terkenal yang pernah dibuat, karena menurut Roger Ebert Belle de Jour mengerti erotisme dan seksualitas luar dalam, dan menampilkannya bukan di permukaan film namun dalam imajinasi penontonnya. Contohnya adalah ketika Severine berjalan pertama kalinya ke dalam kamar untuk melayani kebutuhan seks pelanggan bordello tersebut, suasana kuatnya erotisme bukan kepada siapa yang sedang menunggu Severine didalam kamar tersebut, tapi dari kenyataan saat Severine berjalan menuju ruangan tersebut. Dan menurut gue, itulah salah satu kehebatan dari Bunuel yang dapat menciptakan suasana erotis dan penuh intensitas seksual tanpa harus menggembar-gemborkannya dengan ketelanjangan. Hal ini mengingatkan gue pada film yang gue tonton beberapa waktu yang lalu dari salah satu amster perfilman Perancis Robert Bresson dalam filmnya “Au Hasard Balthazar” dimana dialog dalam Balthazar kebanyakan berlangsung dalam otak dan imajinasi gue dan bukan dalam filmnya, sedangkan dalam “Belle De Jour” yang terjadi adalah hal-hal seksual yang tidak tergambarkan dalam film ini justru terjadi juga dalam imajinasi gue (not in the filthy way, hehehe…a little maybe).

Adegan paling terkenal dalam film ini adalah pada saat seorang pelanggan Severine asal Jepang yang mengaku mempunyai suatu benda didalam kotak kecil yang dia tunjukkan pada Severine. Setelah melihat kotak tersebut (kotak itu tidak diperlihatkan isinya kepada penonton) Severine menolak apa yang pelanggannya itu mau, lalu tanpa menjelaskan apa-apa, adegan film berpindah dengan cara yang rada susah untuk dijelaskan dan menimbulkan banyak pertanyaan dan kemungkinan.

Dalam wawancaranya pada DVD Discreete Charm of Bourgeoisie, Bunuel menjawab pertanyaan banyak orang mengenai apa sebenarnya isi kotak itu karena penonton bingung tidak tahu dan ingin sekali tahu mengapa isi kotak itu membuat Severine terlihat berbeda setelah melihat isi kotak tersebut. Bunuel sendiri dengan enteng menjawab sama aja kalau dia sendiri gak tahu isi kotaknya apa. Inilah salah satu gaya Surreal Bunuel dalam film-filmnya, dimana dia membiarkan penonton menginterpretasikannya sendiri tanpa ada sesuatu yang pasti benar dan Bunuel selalu menolak untuk menjelaskan adegan2 yang banyak menimbulkan pertanyaan2 sejenis dalam film2nya.

Bunuel adalah master dan salah satu pelopor dari gerakan Surrealisme dalam bentuk film. Film-filmnya merupakan penggalian terhadap perilaku dasar manusia (human nature) dari sisi lain dengan sentuhan humor2 gelapnya dan “sly” (zaman sekarang kayak humor dalam film-filmnya Coen Brothers kali yah). Dia juga seorang penulis naskah berbakat dengan insting yang tajam dengan observasi mendalam terhadap subjek-subjek dalam filmnya. Dia juga seorang surrealist yang juga perduli akan struktur, pengembangan plot, pengembangan karakter serta aturan-aturan dalam membuat film yang baik dan benar.

Setelah menonton 4 film dari Luis Bunuel termasuk yang satu dan tiga yang lain adalah Un Chien Andalou, Discreet Charm of Bourgeisie, serta That Obscure Object of Desire, gue menyadari bahwa Bunuel adalah salah satu sutradara film favorit gue. Dengan pace film yang cenderung cepat dan narasi yang mudah diikuti dibanding film2 yang dibuat oleh sutradara2 besar dunia pada masanya seperti Bergman, Bresson, dan Tarkovsky. Oleh karena itu dianjurkan sekali untuk movie-goer sekalian untuk mencari dan menonton film-film dari Bunuel, karena begitu 5 menit pertama film sudah ditonton, bakalan lupa kalau ternyata kita sedang menonton film klasik. One of my all time favorite.(****, a truely, madly, deeply masterpiece)

Offret - Sacrificatio / The Sacrifice (Andrei Tarkovsky, 1986)

August 24th, 2005 by yukiyuki

Menonton film-film dari Andrei Tarkovsky tidak mpernah merupakan perjalanan yang mudah. Tarkovksy yang dikenal juga sebagai sutradara terbaik asal Russia setelah zamannya Sergei Eisenstein selalu menggunakan tema-tema religius atau setidaknya berkaitan dengan hal-hal spiritual serta humanis.

The Sacrifice sendiri adalah film kelima Tarkovksy yang gue tonton. Meskipun telah 4 kali sebelumnya menonton film-filmnya, dan sudah lumayan akrab dengan gaya penceritaannya, tetap saja The Sacrifice bukan film yang mudah untuk dilahap bulat-bulat sebagai hiburan apalagi dengan durasinya yang cukup panjang yaitu sekitar 2,5 jam. Tapi selalu saja timbul rasa senang yang ditimbulkan dalam sulitnya menonton film Tarkovsky.

Ceritanya sendiri adalah tentang seorang pensiunan aktor sekaligus pujangga yang pada hari ulang tahunnya dihadiri oleh anak perempuan, istrinya, teman2nya, dan seorang tukang pos. Pada saat pesta berlangsung terdengar kabar dari televisi bahwa perang telah pecah. Semua diceritakan dengan lambat, namun dengan adegan2 yang dikomposisi begitu elegan dan indah, diselingi keheningan2 sesaat. Ketika karakter2nya berbicara, pastilah akan terjadi monolog2 yang lumayan panjang mengenai arti dan kualitas hidup, serta bagaimana mereka akan mewarisi masa depan kelak ke generasi berikutnya dimana bayangan mereka akan sulit karena perang yang akan berlangsung.

Sampai suatu saat, mantan aktor tersebut memohon kepada Tuhan agar perang dan kekacauan dimuka bumi ini dapat dihilangkan walaupun dengan “mengorbankan” diri, keluarga, bahkan rela untuk tidak akan berbicara lagi sepanjang sisa umurnya.Dan pada saat kegalauan hatinya itu datanglah si tukang pos yang pembawaannya rada mistis di sepanjang film ini untuk memberitahukan kepada si mantan aktor bahwa keinginannya tersebut dapat dikabulkan dengan suatu cara yang lumayan aneh which I won’t reveal.

Film-film Tarkovsky umumnya atau The Sacrifice pada khususnya mungkin bukanlah jenis film yang kebanyakan orang mau menontonnya, tapi untuk mereka yang mau mengambil resiko akan menemukan “reward” yang setimpal. Semuanya berbalik ke diri kita sebagai penonton untuk dapat berempati kepada karakter2 dalam film ini, dan Tarkovsky selalu menolak untuk menggunakan cara bernarasi standar untuk memaksa penonton untuk terserap ke film-filmnya.

Film ini sendiri merupakan film terakhir Tarkovsky dan dikerjakan pada saat dia sedang sakit berat karena gangguan otak. Dan ketika film ini masih di ruang editing, Tarkovsky pun sedang tergolek lemah di suatu Rumah Sakit di Paris. Dibuat di Swedia dimasa Tarkovsky sedang diasingkan oleh pemerintahnya sendiri, tepatnya di Pulau Faro yaitu pulau tempat tinggal sutradara Ingmar Bergman dan dimana Bergman membuat mayoritas film-filmnya, juga Tarkovsky menggunakan jasa sinematografer langganan Bergman yaitu Sven Nykvist sehingga wajar kalau film ini terasa sekali bergmanesque-nya.

This is the kind of movie who works the magic on the mind of the audiences. And it is leaving us free to participate only if we want to. Mmmm it looks like a “sacrifice” too to me as the audience. Take it or leave it. (***1/2, Superb and it’s a must see)

Raise The Red Lantern (Zhang Yimou, 1990)

August 24th, 2005 by yukiyuki

Film keempat dan yang membuat perhatian dunia menoleh kepada film-filmnya Yimou kalo boleh dibilang adalah film ini, Raise the Red Lantern. And it’s damn one of the most sublimely and disturbing movie I’ve ever seen.

Ceritanya sendiri sebenarnya sederhana ajah.. Setting film ini adalah pada zaman feodalisme di Cina.Songlian yang diperankan oleh Gong Li adalah gadis yang lahir dari keluarga pas-pasan dan sempat menimba ilmu sebentar di suatu universitas. Ibunya meminta Songlian untuk mau dinikahi oleh seorang tuan tanah yang telah mempunyai tiga istri lainnya.

Kehidupan Songlian yang baru sekarang menjadi sangat terbatas dimana dia hanya dapat bertemu dan berinteraksi dengan istri-istri tuan tanah lainnya, beberapa pembantu dan juga kawan tuan tanah tersebut. Seperti hidup dalam Sangkar Emas dimana kebutuhan materi Songlian sangat terpenuhi namun batin merasa tersiksa.

Songlian sendiri didampingi oleh seorang pembantu pribadi yang ga suka kepadanya karena sang pembantu menggap bahwa seharusnya dialah yang menjadi selir terbaru dari tuan tanah itu dan bukan Songlian. Ditambah lagi tradisi menyalakan Red Lantern terhadap rumah istri yang mana yang akan diinapi sang tuan tanah pada malam tersebut, membuat persaingan diantara istri-istri tuan tanah tersebut semakin ketat.

Istri yang kedua terlihat paling baik kepada Songlian dan istri ketiga terlihat judes karena merasa dia bukan lagi istri termuda dari tuan tanah tersebut. Keadaan di istana tuan tanah tersebut pun membuat posisi istri yang paling dihormati adalah istri yang paling sering diinapi si tuan tanah sehari-harinya atau dengan kata lain yang paling sering nyala Red Lantern-nya. Permasalahan terus muncul didalam istana tersebut antara istri-istri tuan tanah tersebut dibumbui intrik-intrik persaingan kejam dari para wanita tersebut sehingga terjadilah suatu peristiwa yang menakutkan.

Film ini adalah jenis film yang dapat mempesona penonton pada saat menontonnya, namun tetap menghantui penonton berhari-hari setelah menontonnya, setidaknya itulah yang terjadi kepada gue. Dengan cerita yang sederhana namun dengan tema dan emosi yang kompleks, membuat film ini terasa sebagai film yang akan dibuat Ingmar Bergman jika Ingmar diberikan kesempatan untuk membuat film dengan cerita dan setting di daratan Cina. One of my all time fave movie. (****, definitely positively a masterpiece)

Say Anything (Cameron Crowe, 1989)

August 15th, 2005 by yukiyuki

Gue bukan penggemar berat film dengan genre teenage romantic comedy seperti “Sixteen Candles”, “Can’t Hardly Wait”, atau “American Pie” sekalipun. Tetapi karena selalu saja enjoy dalam menonton film-filmnya Cameron Crowe selain “Jerry MacGuire”, kenapa tidak mencoba menonton film ini.

Yang ada di pikiran gue adalah film ini akan menajdi layaknya film2 remaja lainnya yang kebanyakan mengusung guyonan2 berbau seks dan kasar, atau poorly-defined subplot yang sengaja diada-adain. Dengan ekspektasi tersebut, sebenarnya terkerjut juga waktu menonton film ini. Film ini menangkap aura bagaimana sepasang remaja yang sedang jatuh cinta dimana pada banyak film remaja digambarkan terlalu berlebihan. Ceritanya berjalan natural dari hari ke hari, pasang surut kehidupan percintaan kedua karakternya yaitu Llyod (John Cusack) dan Diane (Ione Skye), tanpa ada subplot yang “tacky” seperti munculnya tiba2 mantan pacar mereka.

Cerita dalam film ini dibuka dengan Lloyd yang ingin sekali mengajak kencan Diane yang merupakan straight A student namun terperangkap didalam tubuh seorang fotomodel atau umumnya gadis cheerleader di SMA. Walau cantik namun kepintaran Diane membuatnya jarang atau nyaris tidak pernah didekati teman laki-laki di sekolahnya. Llyod ingin mengajak Diane kencan dan menghabiskan waktu sebanyak2nya sebelum Diane pergi ke Inggris untuk menjalani beasiswanya. Lloyd tertarik pada Diane bukan karena kecantikannya, namun lebih kepada kekagumannya. Sehingga tidak heran pada suatu pesta dimana banyak orang bertanya mengapa Diane mau pergi dengan Lloyd Dobler. Alasan Diane pun sederhana saja, karena Lloyd membuatnya tertawa.

Situasi kontras lainpun adalah ketika Llyod diajak makan malam bersama ayah Diane dimana Lloyd dengan lugunya menjelaskan bahwa di masa depan dia mau menjadi kick-boxer yang dia percaya akan menjadi olahraga masadepan yang digemari.

Film ini menceritakan tentang kejujuran dan ketidakjujuran, dimana Diane yang orangtuanya telah bercerai dan memilih tinggal bersama ayahnya karena yakin mereka dapat saling jujur dan terbuka. Terlihat dalam salah satu scene terbaik dalam film ini dimana Diane pulang telat tapi tidak menelpon ayahnya seperti biasa dan membuat sang ayah khawatir. Ayahnya marah namun dia masih mau mendengar alasan2 yang dikemukakan oleh Diane.

Walau alur ceritanya terdengar familiar, detail dari film inilah yang membuat film ini begitu spesial. Dialog-dialog yang cerdas dan terasa sungguhan, pengembangan karakter yang baik, believable situations, dan tidak ada yang gue rasa terlalu dieksploitasi atau dikurang-kurangi dalam film inilah antara lain yang membuatnya spesial. (***1/2, A Must See)

My Own Private idaho (Gus Van Sant, 1991)

August 10th, 2005 by yukiyuki

Di malam yang dingin dan gelap sepi, gue menontonnya bersama seorang teman gue. Tersirat dibagian “Opening” film bahwa film ini akan merupakan sebuah Gay film. But it’s not all about gay, karena ternyata film ini lebih merupakan film yang mengangkat kisah orang2 buangan yang jarang kita perdulikan walau ada di sekitar kita, dan kebetulan karakter2 dalam film ini adalah pelacur2 jalanan yang juga melayani birahi para lelaki hidung belang. Walaupun dua karakter sentral adalah pelacur, namun film ini juga bukan melulu soal sex nya, dimana sex tidak terlalu menrik perhatian dari Mike (River Phoenix) dan Scott (Keanu Reeves). Apa yang mereka mau adalah redemption to be loved. Mike yang ditinggal pergi oleh ibu nya membutuhkan figur yang dapat mencintai, menyayangi dan peduli padanya, either it is a he or a she. Sedangkan Scott yang notabene dari keluarga kaya dan hanya tinggal menunggu warisan merasa cinta yang ada dalam keluarganya palsu sehingga dia melacur untuk menjauhkan diri dari keluarga.

Mike sendiri menderita penyakit Narcolepsy dimana pada film ini jika dia mengalami suatu peristiwa tertentu dia akan tiba-tiba tertidur dimana saja dan membutuhkan pertolongan bahkan dari orang asing untuk menggotongnya. Dengan penyakitnya itu, Mike banyak kehilangan momen2 penting dalam pengembangan hidupnya karena pada beberapa momen penting itu dia dia tertidur. Bahkan di saat sedang akan melayani seorang klien, Mike pun sering tertidur.

Persahabatan antara keduanya pun terjadi. Dan kehidupan mereka sehari2 dijalani dengan pengalaman2 unik, antara lainnya ketika Mike harus melayani klien yang mempunyai fetishism terhadap kebersihan sehingga Mike harus membersihkan atau menggosok perkakas rumah si klien agar si klien mendapat kepuasan. Perjalanan mereka pun sampai pada saat Mike mengetahui bahwa ibunya telah pindah ke Italia, dan mereka berdua sepakat untuk menyusul ibu Mike ke Italia.

Film ini sendiri tidak mempunyai alur cerita standar a la Hollywood dengan dialog2 yang mudah dicerna pula. Terlihat dari komentar2 dari teman gue yang tampaknya belum terbiasa menonton film-film dengan gaya art-house. Ketika gue tanyakan kenapa, teman gue bilang bingung karena banyak scene yang terasa jumping dan sering tiba-tiba scene berpindah sangat cepat dari satu kejadian ke kejadian lain dan dialog2 yang ada terdengar rumit dimengerti, serta banyak tingkah lau yang menurut teman gue aneh dan ga penting yang harusnya bisa langsung to the point aja.

Mencermati komentar teman gue, gue jadi teringat film2nya Federico Fellini yang mempunyai gaya sejenis dengan film ini dan umumnya film2 lain dari Mr. Van Sant. Tidak ada suatu alur cerita, lebih ke observasi karakter2nya, jalan ceritanya berjalan secara episodik dimana scene berganti tanpa ada hubungan langsung dengan scene sebelumnya, gue sendiri menanyakan pada etman gue apakah dia merasa kalau scene dalam filmnya berjalan lambat pada suatu kasus namun bila akan pindah ke persoalan berikutnya, adegannya berpindah dengan cepat dan sering membuat teman gue bingung karena dia masih mencoba menyambungkan scene yang sekarang dengan scene sebelumnya dimana jelas ga akan pernah nyambung dan teman gue merasa dipermainkan.

Since I cathegorize this movie as an art-house, dapat dimengerti sinematografi yang dilakukan oleh Mr. Van Sant pun terlihat tidak biasa. Mencengangkan pada momen “Having Sex”, Mr. Van Sant mengambilnya dengan tehnik still photography layaknya sebuah film fenomenal “La Jetee” dari Chris Marker, very creative and it doesn’t feel obscene too. (***, a good…good…good movie)

Les Vacances De Monsieur Hulot / Mr Hulot’s Holidays (Jacques Tati, 1954)

August 9th, 2005 by yukiyuki

Disaat lagi muak sama komedi slapstick macem yang sering diputer di tivi2 Indonesia macem Extravaganza, atau komedi dari para pemenang API (Akademi Pelawak Indonesia), suatu malam gue berakhir dengan menonton film ini. Mendengar sekilas tentang Jacques Tati yang filmnya banyak disanjung2 oleh para kritikus handal dunia macem Ebert dan Rosenbaum di bayangan gue adalah sebuah komedi kelas berat berbau satir atau black comedy macem Dr Strangelove atau Discreet Charm of Bourgeoisie nya Bunuel dimana kalo nonton dua film tersebut dijamin ga bakal ketawa kalo ag ngerti situasi dan kondisi dunia saat film tersebut dibuat alias nonton film komedi aja perlu berwawasan luas.

Kebayang dong bakalan berat nih malem gue nonton film komedi , item putih, dari Perancis, satu dari sedikit sekali film komedi yang pernah dapet Palme D’or nya Cannes film festival yang merupakan piala tertinggi di festival tersebut. Apa yang gue bayangin hilang semua bahkan pada menit pertama film ini dimulai.

Scene pertama memperlihatkan segerombolan orang yang karena saking gapteknya mesti pusing banget untuk menentukan naik kereta dari jalur yang mana, karena saat nunggu di jalur yang satu ternyata keretanya malah berhenti di jalur sebelahnya, eh pindah ke jalur sebelah ternyata kereta ga berhenti juga. Yang gue tangkep adalah Tati mencoba menyindir kehidupan manusia yang mulai diperbudak oleh teknologi sehingga membingungkan manusia itu sendiri.

Terlihat slapstick namun kalo diperhatikan komedi slapstick Tati bukan slapstick kacangan macem Extravaganza dimana orang dibuat ketawa karena seseorang dicela2 karena kekurangannya atau ketawa karena seseorang ditoyor2 dan di keplak macem Srimulat. SEmua komedi dalam film ini diatur sedemikian rupa sehingga kekonyolan yang ada bukan timbul karena kebodohan yang banal namun karena situasi dan kondisi yang terjadi pada film tersebut. Terdengar ngawur?Emang karena kita lagi nyoba ngereview film komedi dimana ga bakal lucu sampe kita lihat sendiri.

Inti dari filmnya sendiri adalah mengenai keseharian Mr Hulot dalam liburannya di suatu pantai. Film ini bekerja nyaris seperti film bisu, dengan sangat sedikit dialog yang terjadi, kalo ada pun kadang terdengar sayup2 ajah, dengan diiringi musik yang cenderung diulang2, sedikit miriplah dengan film2nya Chaplin dan Buster Keaton atau Mr Bean kalo sekarang2 ini (I strongly feel that Mr. Atkinson is one of Tati’s admirer).

Herannya dimana biasanya slapstick comedy biasanya sangat predictable, kekonyolan film ini sangat tidak terduga, bahkan terkadang gue sampe takjub dengan kekonyolan yang ada di layar tivi gue. Satu contoh adalah pada saat Mr Hulot sedang mengecat perahu di pinggir pantai dimana air laut mulai pasang. Saat akan mencelupkan kuasnya ke dalam kaleng cat kembali ternyata kalengnya berpindah ke sisi sebrang perahu tersebut dan Hulot yang terlihat lucu hanya bisa menggeleng heran knapa cat bisa berpindah ke sisi lain.

Terdengar bodoh? Tentu saja karena blom nonton sendiri, karena gue merasa ajaib sekali Tati bisa bikin scene seperti itu dimana adegan itu merupakan sebuah “long take” yang dibuat tanpa adanya cut sekalipun. Sudah mulai terbayang kan bagaimana “meticulous” Tati dalam membuat komedi dalam film2nya, dan masih banyak scene2 lain yang membuat gue terlonjak heran (berlebai amat si Yuk). Karena seperti kata Terry Jones (one of the Monty Python guys) bilang, “I never thought that a comedy can be both funny and beautiful”, yes Terry that’s exactly what I felt when I watched the movie.

Film ini sendiri merupakan film panjang (more than 70 minutes) kedua Tati setelah Jour de F’ete dan sebelum Mon Oncle (which I just recently bought). Tati sendiri sepanjang 20 tahun karirnya di perfilman hanya membuat 6 buah film. Selayaknya seorang “true auteur (director who writes their own screenplay)” Tati selalu membuat jenis film yang sama yaitu physical comedy. Komedinya sering merupakan kritik terhadap manusia2 yang hidupnya dikuasai oleh teknologi namun belum siap, atau tepatnya bagaimana teknologi malahan dapat membuat manusia berbuat hal-hal yang konyol. Tapi konyolnya Tati ga perlu tuh memperlihatkan adegan2 dimana Mr Hulot didorong seseorang sampe tiba2 ada di paha seorang cewek sambil merem-melek. This movie is truly a gem waiting to be discovered. One of my all time fave. (****, a masterpiece)