Archive for October, 2006

Funny Ha Ha (Andre<a href=”http://yukiyuki.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/marniedave.jpg” onclick=”window.open(this.href, ‘_blank’, ‘width=250,height=158,scrollbars=no,resizable=no,toolbar=no,directories=no,location=no,menub

Tuesday, October 10th, 2006

Marniedave_1

Jika kamu tidak suka dengan film indie, lebih cinta pada sinematografi dan spesial efek, serta ga sanggup nonton film-film festival, maka hindarilah Funny Ha Ha, sebuah komedi offbeat nan menarik debutan dari sutradara muda independen Andrew Bujalski.

Pertama-tama, gue akuin emang rada capek nonton film ini, kayak ga ada tujuan mo nyeritain apaan. Ternyata, Funny Ha Ha menarik karena film ini begitu natural, nyata, dan tidak pretentious dalam menceritakan kehidupan seorang perempuan muda yang baru lulus kuliah.

Sutradara Bujalski tidak membuat film ini lebih mengerti kehidupan karakternya dariapda kita yang menonton. Karakter2nya bertindak dan berbicara layaknya kita dalam kehidupan sehari-hari mengenai hal-hal normal, bahkan mayoritas dialog dalam Funny Ha Ha terjadi dalam ruang tamu dan ruang kerja.

Komedi dalam Funny Ha Ha mungkin dapat didefinisikan sebagai komedi dengan dialog-dialog jujur dengan pace yang cepat, mirip komedi Wes Anderson jika tidak di-polished. Komedi dalam film ini lebih terasa peculiar dibanding Ha Ha sesuai judulnya karena Bujalski mengakui dia suka dengan judul film yang misleading.

Tidak ada plot dalam film ini, namun ke studi karakter utamanya yang bernama Marnie (Kate Dollenmayer yang merupakan salah seorang dari animator Waking Life-nya Richard Linklater) yang baru lulus kuliah dan belum fokus terhadap hidup dan obsesinya. Marnie naksir kepada Alex seorang pria yang merupakan kakak dari teman dekat Marnie. Alex yang sedang dalam masa pelarian sesudah dikecewakan dalam hubungan dengan pacarnya terdahulu, membuat Marnie ngerasa digantungin dalam hubungan tersebut. Lalu di tempat magangnya, Marnie bertemu dengan Mitchell (diperankan oleh Bujalski sendiri) yang naksir pada Marnie namun Marnie ga ngeliat Mitchell sebagai pria dengan kualitas “boyfriend material”, meskipun pada akhirnya mereka menjalin hubungan pertemanan yang terlihat canggung.

Yang membuat Funny Ha Ha begitu delightful adalah komedi dalam film ini tidak muncul dari jokes yang telah diatur atau dikalkulasi layaknya film komedi biasa, bahkan terkadang terasa sebagai hasil improvisasi karakter2nya. Karena manusia terkadang lucu pada saat dia gak lagi berusaha lucu. Gue merasa absorbed dari satu momen ke momen lainnya, pengembangan karakternya serta begitu elegan story line film ini dibangun. Salut kepada Bujalski yang lebih senang dan terobsesi dengan pergantian tone dalam hal hubungan antar-manusia, dan tidak berusaha untuk membuat kita sebagai penonton terkesan atau dimanipulasi dengan kekuatannya sebagai sutradara.

Gummo (Harmony Korine, 1997, USA) - ****/Masterpiece

Tuesday, October 10th, 2006

Gummo_1

Sebuah kota bernama Xenia di negara bagian Ohio dilanda tornado yang menghancurkan kehidupan di kota tersebut. Jika tornado tersebut dapat terjadi tanpa alasan logis, maka begitu pula karakter-karakter dalam film ini. Dan layaknya kita tidak menginginkan tornado tersebut, kita juga tidak dapat menolak fakta bahwa ada orang-orang aneh seperti karakter2 dalam Gummo.

Gummo adalah jenis film yang kita lihat, dan mungkin benci tapi tidak sanggup untuk menekan tombol “Stop” pada remote control kita. Kita benci karena tidak ada plot atau narasi dalam film ini, kita benci karena ini hanyalah sebuah film yang terlihat sebagai sebuah dokumenter yang menggambarkan kumpulan orang2 berwajah dan berprilaku aneh, serta kita benci karena melihat fakta ada remaja yang mencari uang dengan membunuhi kucing lalu dijual ke resotran. Tapi kita juga perduli dan ingin tau apa yang akan mereka lakukan di menit-menit berikutnya, dan orang macam apalagi yang akan ditampilkan Korine dalam film, atau sesederhana bahwa kita cinta film ini.

Xenia adalah Athena dalam mitologi Yunani yaitu dewi kebijakan, dan tornado adalah penis nya Tuhan. Apakah film ini sebagai simbolisasi bahwa orang-orang aneh tersebut muncul karena kehendak Tuhan (God fucks Xenia then those characters appear)? Atau sama seperti kemunculan kita yang tidak “aneh” (huehueheue, are we?)

Banyak orang yang bilang film ini disturbing atau offensive, tapi gimana jgua gue bisa bilang begitu jika karakter-karakternya sendiri sangat antusias menjalani hidup seperti yang mereka inginkan.