The Four Films of John Cassavetes - Life as an Art Form.
“People who are making films today are too concerned with mechanics - technical things instead of feeling.” - John Cassavetes (1980)
John Cassavetes, sebuah nama yang mungkin terdengar asing di kalangan pencinta film di Amerika Serikat sekalipun apalagi di Indonesia bukanlah sebuah nama asing untuk sutradara-sutradara film indie kontemporer macam Quentin Tarrantino atau Paul Thomas Anderson. Cassavetes dianggap sebagai sutradara yang pertama berani mendobrak untuk keluar dari sistem studio Hollywood lewat film perdananya Shadows. Walau Maya Deren (Meshes of the Afternoon, At Land) telah lebih dahulu membuat feature2 film pendek namun Deren tidak mengedarkannya secara luas layaknya Cassavetes. Shadows bahkan sampai memecahkan rekor di sebuah gedung bioskop di London pada pemutarannya di tahun 1959, sehingga banyak kritikus maupun pencinta film yang menyandingkan namanya dengan Jean-Luc Godard yang pada saat itu juga sedang merilis film perdananya About de Souffle atau Breathless.
1. Shadows (1959)
Tidak ada satu karakter musuhpun dalam film-film Cassavetes, tidak ada orang baik atau orang jahat. Semua karakter berada diantara baik dan buruk. Jika Lelia, Tony, Bennie, Hughie, dan karakter lain dalam Shadows mempunyai masalah, maka masalah-masalah itu di ciptakan oleh mereka sendiri dan mereka pulalah yang mesti memecahkan.
Dalam karya-karya Cassavetes, permasalahan bukanlah dari luar tapi didalam diri para karakternya. Setiap karakter di Shadows memainkan sebuah
peran yang menyalahi kodrat mereka sendiri atau mencoba menjadi bukan diri mereka sendiri. Tony ingin menjadi seorang cowok yang dikagumi banyak wanita, Bennie ingin terlihat “cool”, hughie ingin dianggap kuat, melindungi, dan kakak yang baik, Lelia berpura-pura bahwa masalah ras tidak penting dan seks tidak mempunyai konsekuensi emosional. Kebohongan yang mereka tampilkan bukanlah kebohongan yang kita katakan kepada orang lain, tapi yang kita katakan pada diri kita sendiri. Tentu saja, ketika kita bertindak bodoh pada diri sendiri, selalu kitalah yang paling terakhir menyadarinya.
Cassavetes ingin menyorot tentang metafora yang hadir di sekeliling kita sendiri yaitu perbandingan antara “topeng” yang kita pakai di masyarakat, dengan “wajah” asli kita yang kita sembunyikan.
2. Faces (1968)
Faces menurut gue adalah yang terberat dari 4 film Cassavetes lainnya. Film ini membingungkan sekaligus offensive. Faces melanggar semua batas-batas bagaimana sebuah film itu dapat dipresentasikan. Shot-shotnya tidak indah sama sekali, dialognya tidak elegan, akting para karakternya mengejutkan dalam standar Hollywood, karakter-karakternya dibuat ekstrim (siapa yang gak kaget sama nenek-nenek yang merindukan belaian hangat laki2 muda), sehingga membuat gue sulit untuk mendefinisikan masing2 karakter dan mesti langsung menonton ulang film ini.
Faces dibuat sebagai ungkapan kekecewaan Cassavetes terhadap studio Hollywood yang baru saja menyewanya untuk menyutradarai Too Late Blues dan Children is Waiting. Cassavetes merasa 2 film tersebut medioker dan pengalaman terburuk dalam karirnya karena campur tangan terlalu besar dari studio, seakan kata “Art” adalah haram bagi para eksekutif studio Hollywood, sehingga Faces direncanakan Cassavetes sebagai gambaran hidup mereka. Hasilnya Faces mengobrak-abrik mitologi tentang “the American life” khususnya kehidupan Hollywood beserta etika bisnisnya dan bagaimana suatu film itu mesti dibuat. Penyembahan terhadap keglamoran, uang dan kekuasaan seseorang ditampilkan tanpa terjebak dalam formula lama, hal-hal klise dengan harapan penonton dapat menemukan cara lain dalam mengerti perilaku para karakternya.
3. A Woman Under the Influence (1974)
A Woman under the Influence adalah sebuah perayaan mengenai perbedaan kita dengan orang lain, dalam hal fisik, pemikiran, status sosial, atau seksual. Mabel adalah seorang istri dari seorang pekerja kasar dengan dikaruniai 3 anak. Mabel mempunyai kelainan dimana pada satu saat dia dapat bertindak layaknya wanita normal dan di saat lain dapat berubah seperti orang gila dengan berprilaku berlebihan, menari-nari balet, atau bahkan lupa ingatan.
Well, jika film ini dibuat oleh seorang sutradara Hollywood, mungkin jadinya akan seperti Forrest Gump yang merupakan suatu kumpulan ide-ide push-button belaka. Dalam film-film Cassavetes, karakter-karakternya dibangun secara mendalam, sampai-sampai mereka tidak harus melakukan apapun untuk menahan perhatian gue terhadap filmnya, emosi menjadi narasi, dan watak karakter menjadi plot.
4. Killing of a Chinese Bookie (1976)
Jika film-film gangster biasanya bangga akan kemachoan atau kemaskulinan, ke “cool” an, atau kekerasan karakter dan jalan ceritanya, Cassavetes mengambil alur lain melalui Killing of a Chinese Bookie. Cassavetes mempertanyanya hal-hal diatas dan melihat hal-hal tersebut sebagai pelarian yang tragis dari kehidupan para gangster.
Jika Ingmar Bergman didaulat sebagai sutradara yang paling mengerti jiwa wanita, atau Fassbinder paling mengerti jiwa kelompok gay, maka Cassavetes adalah yang paling mengerti jiwa lelaki. Cassavetes menggambarkan tuntas bermacam bentuk lelaki dalam berbagai manifestasinya. Tony di Shadows, salesman di Faces, dan kali ini Cosmo dalam Killing of a Chinese Bookie digambarkan sebagai seorang lelaki pemilik tempat hiburan malam yang rada kinky, sedang terjebak dalam hutang judi sehingga ditugaskan untuk membunuh kepala gangster dari geng Tionghoa agar utangnya lunas.
Cassavetes menggunakan jasa Ben Gazzara sebagai Cosmo karena image berwibawa dan tegar yang terlihat pada Ben. Cosmo terlihat kokoh secara emosi diluar. Dia tidak membiarkan siapapin, bahkan kekasihnya Rachel untuk mempengaruhi keputusan atau jalan pikirannya. Dia terus menjalankan show kinky nya baik disaat ramai atau bisnis sedang menurun, dia terlihat dingin bahkan dalam keadaan terjepit. Obsesinya adalah tampil baik dan keren di segala kesempatan, baik di panggung maupun di luar panggung — dan sukses. Tetapi Cassavetes ingin agar kita menilai dan berpikir bahwa biaya tertentu yang harus dibayar jika penampilan sematalah yang kita kejar. Cassavetes ingin kita bertanya pada hidup kita apa yang dapat terjadi jika penampilan baik dan sikap keren sebegitu pentingnya.
Film-film John Cassavetes dapat dikatakan sebagai suatu karya seni yang hebat, sama seperti karya dari maestro lainnya seperti Carl Theodor Dreyer, yasujiro Ozu, Robert Bresson, dan Andrei Tarkovsky. Film-film tersebut merubah persepsi gue (I miss Ordet), memberi tahu pengetahuan yang baru, emosi yang baru (I miss Tokyo Stroy), otak yang baru (I miss Andrei Rublev), hati, mata bahkan kuping yang baru. Visi dari Cassavetes dari film adalah sebuah eksplorasi personal dari dirinya terhadap arti hidup dan kehidupan lain dari orang-orang di sekelilingnya baik yang dia suka atau dia tidak suka.
Cassavetes tidak pernah tertarik untuk membuat filmnya seperti labyrinth dimana penonton seperti dipaksa keras memecahkan suatu puzzle seperti dalam film2 Lynch, atau membuat film-filmnya dengan dialog cerdas seperti Woody Allen dan Coen Brothers dimana penonton akan merasa pintar bila mereka menangkap the in-jokes persis. Kenapa kita harus berpikir apa yang dapat kita lakukan terhadap sutradara dan suatu film (menangkap joke dan sinisme mereka, atau berhasil mengerti jalan cerita layaknya sebuah puzzle)?, film-film Cassavetes memberi kebalikannya yaitu apa yang dapat suatu film dan sutradara dapat berikan kepada kita sebagai penonton untuk memperkaya hidup kita.
Film-film Cassavetes tidak juga berusaha mengungkap sisi gelap dan sisi lain dari manusia seperti layaknya film2 dari Todd Solondz dan Neil LaBute, namun lebih ke permukaan emosi manusia, bagaimana manusia bertindak dan apa yang memicu manusia bertindak, karena kadang filmmaker atau bahkan penonton lupa kalau bagian permukaan itu lebih penting dan nyata sehingga yang membuat karakter2 dalam film Cassavetes misterius adalah karena mereka tidak punya rahasia, semua terlihat. Film-filmnya merupakan suatu pertanyaan dalam dan menyentuh tentang dunia yang kita tempati, dan juga bagaimana kita menghubungkannya dengan pengalaman pribadi kita yang sama dengan dunia dalam film Cassavetes “how to life a live with its imperfections”. Film-film Cassavetes memang hard-to-sit through, but it grows on me, the characters are ugly in manner but does beautify my perception of life, the characters look weak but leaves strong impression. This is the place where I can see a person making a mistake but they get the consequences or they pretend to be strong, this is where I can see SEX scene is not that easy (the moral and emotional consequences or the inability performing great sex), this is LIFE.





August 1st, 2006 at 9:28 pm
DAmn bro..got loaded with all dat movie stuff,any willingness 2 be, let say, a movie director?? i mean, it’s like readin movie magz man..still bro, black movie, no matter how shitty they are, is stil on top of my list hehehe..Cmon man, any SPike Lee’s ??? hehehe
August 11th, 2006 at 6:53 pm
hauhauhauauahua. Black movie is comin’ soon, but maybe not from Spike. Thx.