Pulp Fiction (Quentin Tarantino, 1994, USA)

Pulp_fiction

1 Story.
Terdapat 3 cerita utama dalam Pulp Fiction. Pertama adalah cerita ketika Vincent Vega (John Travolta) mendapat tugas dari atasannya Marsellus (Ving Rhames) untuk menemani sekaligus menjaga istri kesayangan sang atasan. Kedua adalah “The Gold Watch”, yaitu kisah tentang seorang petinju bernama Butch (Bruce Willis) yang dibayar oleh Marsellus untuk kalah dalam suatu pertandingan. Terakhir adalah “The Bonnie Situation” yang sekaligus adalah penghubung dua cerita sebelumnya.

Ketiga cerita diatas mengambil setting di Los Angeles dengan aroma kuat pengaruh film-noir yang terkenal di era 40-50an. Faktanya, Tarantino berhasil menggabungkan film-noir dengan kisah gangster a la Godfather (Coppola) dan Scarface (De Palma).

2. Mengapa sulit dipahami?
Ketika dirilis , Pulp Fiction berhasil memukau banyak orang dikarenakan alur ceritanya yang tidak seperti umumnya film-film yang beredar. Struktur ketiga cerita Pulp Fiction saling berhubungan dan bersinggungan pada momen-momen tertentu, walaupun ketiganya tidak ditampilkan secara kronologis.

Pulp Fiction bukanlah film pertama yang mempunyai alur tidak urut seperti ini, di waktu sebelumnya ada Bad Timing (1980) yang disutradarai oleh Nicholas Roeg atau Betrayal (1983) yang naskahnya ditulis pemenang Nobel Kesusasteraan 2005 Harold Pinter.

3. Cara Melihat film ini
Saat yang paling baik untuk menonton PF adalah saat kondisi badan kita sedang prima, tidak ngantuk dan siap untuk fokuskan perhatian kita sepenuhnya ke layar televise karena alur cerita film ini tidak urut.

Satu waktu konsentrasi kita hilang, maka semua akan menjadi kacau dan akan menimbulkan banyak pertanyaan seperti apakah isi dari koper bersinar?mengapa Vincent yang merupakan seorang profesional dapat begitu lalai meninggalkan senjatanya di luar kamar mandi?atau bahkan mengapa tiba-tiba John Travolta dapat hidup kembali?. Satu tips dalam menonton Pulp Fiction adalah simak baik-baik setiap percakapan yang khususnya pada adegan-adegan sebelum klimaks karena disitulah kelebihan Pulp Fiction, yaitu QT membangun adegan klimaks dari percakapan-percakapan tidak penting tersebut. Contohnya pada saat percakapan tentang Quarter Pounder with Cheese dan percakapan antara kekasih Lance yaitu Jody yang mempunyai banyak tindikan dengan teman wanitanya.

4. Momen Terbaik
PF banyak mempunyai adegan dan dialog mengesankan dan tidak terlupakan. Seperti saat Vincent dan Mia (Uma Thurman) turut serta dalam lomba twist, atau adegan penutup di restoran. Sering dilupakan oleh movie-goer adalah ada makna dalam PF yang notabene adalah film yang sarat dengan unsur kekerasan yaitu redemption yang dapat juga disebut tobat atau penebusan dosa. Masing-masing karakter utama dalam PF digambarkan menerima kesempatan kedua untuk memperbaiki diri mereka baik secara langsung atau tidak langsung. Jules dan Vincent terhindar dari sasaran peluru yang kemudian membuat Jules sadar dan tidak akan terlibat lagi dalam dunia gangster atau Butch yang kemudian memutuskan untuk kembali menolong Marsellus lepas dari pemerkosaan, serta Pumpkin dan Honey Bunny yang dilepas oleh Jules agar dikemudian hari tidak merampok lagi. Itulah kelebihan Tarantino yang dapat membuat film ini tidak hanya menonjolkan kekerasan disana-sini saja.

5. Opini Singkat :
Dialog dalam Pulp Fiction menarik walaupun tidak terdengar natural layaknya manusia normal berbicara kepada manusia lainnya, namun jelas mempunyai ritmik bagus dari kacamata perfilman. Kita harus fokus untuk terus berfikir menemukan koneksi antara cerita dan karakter satu dengan lainnya.
Dan kelebihan yang dimiliki Tarantino adalah pada gaya penulisan dialog-dialognya yang kasar dan tidak senonoh tetapi dapat terdengar segar, lucu, cerdas, bahkan puitis, layaknya naskah-naskah dari dari film David Mamet (Spartan, House of Games, Homicide).

6. Kekurangan : Tidak semua movie-goer senang untuk diajak terus konsentrasi dalam film yang banyak menampilkan adegan kekerasan, tidak senonoh, dan alur cerita yang kacau. Jadi pikiran terbuka adalah suatu kewajiban.

7. Satu lagi kekurangan dalam PF yang sebenarnya merupakan harta luar biasa sebagai movie-goer. Jika digali lebih jauh lagi, PF merupakan sebuah koleksi dari daur-ulang dari adegan2 terkenal dari film-film klasik favorit Tarantino.

Tarantino membuat homage terhadap film-film dengan kekerasan ekstrim, genre blaxploitation, sexploitation, gangster, serta referensi kultur pop lainnya. Referensi Tarantino antara lain adalah koper bersinar yang dibawa Jules adalah referensi dari Kiss Me Deadly (Robert Aldrich), karakter Harvey Keitel sebagai “Wolf the cleaner” merupakan referensi dari film La Femme Nikita (Luc Besson), potongan rambut Uma Thurman terinspirasi dari bintang film bisu legendaris Louise Brooks dalam film Pandora’s Box (GW Pabst). Adegan dan dialog lain juga banyak diangkat dari film-film Jean-Luc Godard (salah satu pengaruh terbesar Tarantino dalam membuat film hingga dia menamakan rumah produksinya A Band Part mengambil dari judul film Godard yaitu Bande a Part), Francois Truffaut (untuk nama karakter Jules dan Jim), Brian de Palma, John Woo, bahkan dalam satu adegan terlihat gaya sinematografi dalam PF begitu beraroma film dari John Cassavetes yang notabene adalah bapak film independent Amerika.

Gairah Tarantino dalam memasukkan referensi-referensi tersebut tidak terlihat sombong, dia cukup cerdas untuk menghindari membuat homage sederhana atau sekedar remake, melainkan mengambil bagian-bagian menarik dari film-film tua tersebut dan membungkusnya dengan kemasan khas Tarantino.

Leave a Reply