The Trilogy of Underground of Andy Warhol & Paul Morrissey
Sunday, August 20th, 2006I never saw a helicopter being shot down, so why should I make movie about that?” - John Cassavetes
Menurut Andy Warhol, apa saja dapat dijadikan seni. Mulai dari pada kaleng sup instan sampai ke hasil otokopi Xerox yang menampilkan wajah orang terkenal dapat menjadi seni di tangan Warhol. Dari “pabrik”nya di kawasan Manhattan, warhol memproduksi ide-ide gilanya, untuk menciptakan mahakarya yang dapat dinikmati masyarakat luas. pendekatan populisnya kepada estetika nya itu yang pada akhirnya disebut sebagai spesies baru dalam dunia seni yaitu”Pop Art”. Pop Art menjadi booming karena dianggap berhasil dalam menampilan seni dalam medium lain, bahkan mempengaruhi bentuk lain dari ekspresi hiburan sampai masa kini. warhol tidak saja jago dalam urusan melukis dan membuat sketsa, dia juga ahli dalam fotografi, bahkan sampai ikutan ambil bagian dalam bidang musik (the Velvet Underground, Nico) dan film. Film-film awalnya yang merupakan murni eksperimen dengan memanipulasi tampilan visual yang membuatnya mendapat pujian dari seluruh dunia.
Pada saat Warhol merasa kalau pegerakan kameranya tidak akan dapat berkembang lagi, Warhol memutuskan untuk memproduseri saja film-film dari kawan lamanya Paul Morrissey untuk membuat tiga film yang dapat dibilang salah tiga pencapaian terbesar dari gerakan bahwa tanah atau independen di amerika Serikat
1. Flesh (Flesh) - **** (Masterpiece)
Tidak seperti Warhol yang banyak membuat karya-karya eksperimental macam Fuck aka blue Movie, Chelsea girls, maupun Sleeping dan Eating, Morrissey mengambil pendekatan lain dalam membuat narasi pada film-filmnya. Aroma Italian-neorealism yang kuat disadur menjadi sebuah film perdana nan brilian tentang kehidupan sehari-hari dari seorang gay hustler bernama Joe (Joe Dallesandro). Joe dimintai tolong oleh istrinya untuk mendapatkan uang sebanyak US$ 200 untuk biaya aborsi pasangan lesbian istrinya tersebut.
Jika Anda pikir jalan ceritanya terlihat begitu sederhana yaitu bagaimana seorang gay hustler berusaha mencari uang dengan menjajakan tubuhnya (Flesh) kepada lelaki lain, maka anda salah. Kita akan dibawa Morrissey ke jalanan manhattan, langsung melihat dan merasakan kehidupan nyata dari para gay hustler, mengobservasi lingkungan mereka, bahkan konsumen mereka. satu adegan menarik adalah ketika Joe disewa oleh seorang pelukis tua untuk berpose telanjang dalam lukisannya an pada akhir sesi si pelukis berbicara panjang lebar tentang dunia seni lukis terhadap joe yang notabene adalah seorang pelacur miskin.
Flesh membuat banyak orang kaget pada saat pemutarannya. Kata-kata semi-pornographic melekat kuat dalam setiap pemasangan poster film itu. dapat dikatakan bahwa Flesh merupakan film non-porno pertama yang berani menampilkan keadaan ereksi seorang pria yaitu Joe Dallesandro. Dialog-dialognya terdengar natural, impulse seksual dan non-seksual dari karakter-karakternya terjadi begitu alami tapi tidak terasa sexual arousing. Dan siapa yang bisa lupa dengan satu scene dimana dua drag queens (satunya adalah Candy Darling) melakukan percakapan dengan membahas gosip-gosip Hollywood lama dari majalah hiburan usang disaat Joe Dallesandro sedang mendapatkan blow-job dari mantan kekasihnya Geri Miller, seorang stripper yang seksi dengan akhir “pidato” Geri mengenai dirinya yang tidak ingin menjadi pintar karena akan membuatnya semakin depresi.
2. Trash (1970) - **** (Masterpiece)
Dibuat sebagai kritik Paul Morrissey terhadap film Easy Rider yang dia rasa meromantisir penggunaan narkoba, Trash membrikan saya pemahaman lebih mengenai kehidupan seorang junkie lebih dari film junkie atau drug manapun. Sukses besar Flesh di teater-teater art-house di kota-kota besar dunia, membuat Warhol semakin percaya terhadap bakat Morrissey. Morrissey kembali menulis dan menyutradarai sendiri Trash yang menceritakan tentang Sepasang junkie yang impoten karena ketergantungan narkoba dan Wanita Tuna Susila. Mereka hidup bersama dan menikah secara hukum dengan tujuan akhir mendapat sumbangan kesejahteraan dari pemerintah kota New York. one big sequence dan sangat lucu adalah ketika Holly yang sedang horny sampai harus bermarturbasi dengan sebuah botol kosong karena Joe impoten.
Trash sendiri pada intinya menyoroti kehidupan dari para WTS, junkie, gay people dan orang-orang yang dianggap sebagai “sampah” masyarakat dalam menjalani hidup sehari-hari. Mengapa mereka masih mau hidup dan apa yang mereka kejar lagi dalam kehidupan ini walaupun fakta yang disajikan Morrissey memperlihatkan mereka adalah sekumpulan orang-orang tanpa arah dan masa depan. Sperti dunia dalam film John Cassavetes, Trash adalah perayaan besar mengenai kehidupan, dan bagaimana kehidupan itu begitu berharga even if ur living as a trash, bertahan sehari-hari dalam kehidupan mereka yang hancur dan dianggap sampah melalui kesetiaan dan menghormati satu sama lainnya.
Kehebatan Paul Morrissey dalam memilih orang-orang untuk mengisi karakter dalam film-filmnya patut diacungi jempol, dalam Flesh kita melihat Geri Miller dan Candy Darling, maka dalam Trash kemunculan Andrea Feldman sebagai gadis kaya penggemar LSD yang saya rasa sebagai salah satu aktris paling gila yang pernah muncul dalam dunia perfilman selain Edith Massey dan Klaus Kinski, ada juga Holly Woodlawn yang seorang transvestite dengan bakat alami comical nya dalam Trash dan Pat Kast sebagai induk semang haus seks dalam Heat. Dapat dikatakan tidak ada yang dapat mengarahkan Ms. Feldman selain Paul Morrissey seperti tidak mungkin ada yang dapat mengarahkan Edith Massey selain John Waters sendiri.
Saya tidak dapat berkata apa-apa, speechless mengenai bagaimana briliannya Morrissey menciptakan lingkungan dan karakter yang Grotesque layaknya dalam film-film Federico Fellini namun tidak terasa aneh karena karakter-karakternya begitu believable dan setiap aksi yang mereka lakukan mempunyai dasar yang kuat.
Heat (1972) - (***1/2)
Dibanding 2 film sebelumnya, Heat terasa paling ringan dan mainstream. Diinspirasi dari cerita john holliwell yang juga sebagai inspirasi dari sebuah mahakarya Billy Wilder yaitu Sunset Boulevard, heat disebut sebagai sebuah remake Sunset Boulevard dalam versi kinky.
Joe Davis (Joe Dallesandro) adalah seorang mantan bintang film cilik yang sudah dilupakan banyak orang, ingin kembali merajut karirnya di dunia hiburan di Hollywood dengan memacari seorang aktris tua spesialis B-Movie bernama Sally Todd (Sylvia Miles). Joe harus berhadapan dengan induk semang kost-annya yang merupakan wanita berperawakan subur dan haus seks, anak dari Sally bernama Jessica (Andrea Feldman) yang akhir-akhir ini merasa sebagai lesbian, dan mantan suami Sally yang biseksual.
Dalam Heat, karakter Joe tidak lagi terlihat lugu, Joe memanfaatkan tubuh dan parasnya yang ganteng untuk meraih segala keuntungan untuk dirinya mulai dari bayar kost gratis atau mendapatkan peran kecil dalam sebuah film. Saling mengintimidasi antara satu karakter dengan karakter lainnya dalam kost-an di pinggir pantai Malibu itulah yang menginspirasikan kesuksesan tv series macam Melrose Place maupun Desperate Housewives pada masa sekarang.
Benang merah dari ketiga film diatas adalah UANG. Kehidupan tidak dapat lepas dari uang, setiap orang butuh uang, cara apapaun dilakukan untuk mendapatkan uang, mulai dari melacur di jalanan seperti dalam Flesh, menerobos rumah orang untuk mencuri dan kemudian dibelikan heroin seperti dalam Trash, berpura-pura menikah dan hamil juga dalam Trash, atau memacari bintang film tua dalam Heat.
Hal tersebutlah yang ingin diperlihatkan Paul Morrissey kepada dunia. Morrissey tidak hanya tertarik dengan kamera sebagai self-expression layaknya Wargol, tapi dia lebih tertarik kepada permasalahan yang ada di sekitarnya namun jarang dilihat oleh masyarakat luas. Morrissey tidak perduli kalau film-filmnya akan begitu mengejutkan, jujur, dan sangan straight-forward, karena layaknya filmmaker sejati yang hebat, dia hanya mencoba memberitakan kepada dunia melalui dokumenter dari sebuah dekade (ya, dekade 60’s tidak benar-benar berakhir sampai pertengahan 70-an) yang oleh mentornya sendiri (Warhol) telah dilupakan.
Menarik sekali melihat bagaimana Morrissey memanipulasi mediumnya, bagaimana dia merubah kameranya menjadi seorang voyeur, dan bagaimana Morrissey meninggalkan harta berharga bagi dunia perfilman independen, ketiga film ini mesti ditonton. tiga film di atas membuka mata kita terhadap sudut-sudut tergelap dari struktur sosial dan realitas dimana tidak terbayangkan oleh mayoritas orang. Seksi, menakutkan, terkadang bodoh, namun dengan Paul Morrissey di belakang kamera, mungkin Andy Warhol benar, everything could be art.












