Archive for August, 2006

The Trilogy of Underground of Andy Warhol & Paul Morrissey

Sunday, August 20th, 2006

I never saw a helicopter being shot down, so why should I make movie about that?” - John Cassavetes

Menurut Andy Warhol, apa saja dapat dijadikan seni. Mulai dari pada kaleng sup instan sampai ke hasil otokopi Xerox yang menampilkan wajah orang terkenal dapat menjadi seni di tangan Warhol. Dari “pabrik”nya di kawasan Manhattan, warhol memproduksi ide-ide gilanya, untuk menciptakan mahakarya yang dapat dinikmati masyarakat luas. pendekatan populisnya kepada estetika nya itu yang pada akhirnya disebut sebagai spesies baru dalam dunia seni yaitu”Pop Art”. Pop Art menjadi booming karena dianggap berhasil dalam menampilan seni dalam medium lain, bahkan mempengaruhi bentuk lain dari ekspresi hiburan sampai masa kini. warhol tidak saja jago dalam urusan melukis dan membuat sketsa, dia juga ahli dalam fotografi, bahkan sampai ikutan ambil bagian dalam bidang musik (the Velvet Underground, Nico) dan film. Film-film awalnya yang merupakan murni eksperimen dengan memanipulasi tampilan visual yang membuatnya mendapat pujian dari seluruh dunia.

Pada saat Warhol merasa kalau pegerakan kameranya tidak akan dapat berkembang lagi, Warhol memutuskan untuk memproduseri saja film-film dari kawan lamanya Paul Morrissey untuk membuat tiga film yang dapat dibilang salah tiga pencapaian terbesar dari gerakan bahwa tanah atau independen di amerika Serikat

1. Flesh (Flesh) - **** (Masterpiece)

200pxflesh_1

Tidak seperti Warhol yang banyak membuat karya-karya eksperimental macam Fuck aka blue Movie, Chelsea girls, maupun Sleeping dan Eating, Morrissey mengambil pendekatan lain dalam membuat narasi pada film-filmnya. Aroma Italian-neorealism yang kuat disadur menjadi sebuah film perdana nan brilian tentang kehidupan sehari-hari dari seorang gay hustler bernama Joe (Joe Dallesandro). Joe dimintai tolong oleh istrinya untuk mendapatkan uang sebanyak US$ 200 untuk biaya aborsi pasangan lesbian istrinya tersebut.

Awflesha1_small

Jika Anda pikir jalan ceritanya terlihat begitu sederhana yaitu bagaimana seorang gay hustler berusaha mencari uang dengan menjajakan tubuhnya (Flesh) kepada lelaki lain, maka anda salah. Kita akan dibawa Morrissey ke jalanan manhattan, langsung melihat dan merasakan kehidupan nyata dari para gay hustler, mengobservasi lingkungan mereka, bahkan konsumen mereka. satu adegan menarik adalah ketika Joe disewa oleh seorang pelukis tua untuk berpose telanjang dalam lukisannya an pada akhir sesi si pelukis berbicara panjang lebar tentang dunia seni lukis terhadap joe yang notabene adalah seorang pelacur miskin.

Flesh

Flesh membuat banyak orang kaget pada saat pemutarannya. Kata-kata semi-pornographic melekat kuat dalam setiap pemasangan poster film itu. dapat dikatakan bahwa Flesh merupakan film non-porno pertama yang berani menampilkan keadaan ereksi seorang pria yaitu Joe Dallesandro. Dialog-dialognya terdengar natural, impulse seksual dan non-seksual dari karakter-karakternya terjadi begitu alami tapi tidak terasa sexual arousing. Dan siapa yang bisa lupa dengan satu scene dimana dua drag queens (satunya adalah Candy Darling) melakukan percakapan dengan membahas gosip-gosip Hollywood lama dari majalah hiburan usang disaat Joe Dallesandro sedang mendapatkan blow-job dari mantan kekasihnya Geri Miller, seorang stripper yang seksi dengan akhir “pidato” Geri mengenai dirinya yang tidak ingin menjadi pintar karena akan membuatnya semakin depresi.

2. Trash (1970) - **** (Masterpiece)

Trash3

Dibuat sebagai kritik Paul Morrissey terhadap film Easy Rider yang dia rasa meromantisir penggunaan narkoba, Trash membrikan saya pemahaman lebih mengenai kehidupan seorang junkie lebih dari film junkie atau drug manapun. Sukses besar Flesh di teater-teater art-house di kota-kota besar dunia, membuat Warhol semakin percaya terhadap bakat Morrissey. Morrissey kembali menulis dan menyutradarai sendiri Trash yang menceritakan tentang Sepasang junkie yang impoten karena ketergantungan narkoba dan Wanita Tuna Susila. Mereka hidup bersama dan menikah secara hukum dengan tujuan akhir mendapat sumbangan kesejahteraan dari pemerintah kota New York. one big sequence dan sangat lucu adalah ketika Holly yang sedang horny sampai harus bermarturbasi dengan sebuah botol kosong karena Joe impoten.

Trash sendiri pada intinya menyoroti kehidupan dari para WTS, junkie, gay people dan orang-orang yang dianggap sebagai “sampah” masyarakat dalam menjalani hidup sehari-hari. Mengapa mereka masih mau hidup dan apa yang mereka kejar lagi dalam kehidupan ini walaupun fakta yang disajikan Morrissey memperlihatkan mereka adalah sekumpulan orang-orang tanpa arah dan masa depan. Sperti dunia dalam film John Cassavetes, Trash adalah perayaan besar mengenai kehidupan, dan bagaimana kehidupan itu begitu berharga even if ur living as a trash, bertahan sehari-hari dalam kehidupan mereka yang hancur dan dianggap sampah melalui kesetiaan dan menghormati satu sama lainnya.

Bleeddallesandrotrash2

Kehebatan Paul Morrissey dalam memilih orang-orang untuk mengisi karakter dalam film-filmnya patut diacungi jempol, dalam Flesh kita melihat Geri Miller dan Candy Darling, maka dalam Trash kemunculan Andrea Feldman sebagai gadis kaya penggemar LSD yang saya rasa sebagai salah satu aktris paling gila yang pernah muncul dalam dunia perfilman selain Edith Massey dan Klaus Kinski, ada juga Holly Woodlawn yang seorang transvestite dengan bakat alami comical nya dalam Trash dan Pat Kast sebagai induk semang haus seks dalam Heat. Dapat dikatakan tidak ada yang dapat mengarahkan Ms. Feldman selain Paul Morrissey seperti tidak mungkin ada yang dapat mengarahkan Edith Massey selain John Waters sendiri.

Andreafeldmanmoviestill

Saya tidak dapat berkata apa-apa, speechless mengenai bagaimana briliannya Morrissey menciptakan lingkungan dan karakter yang Grotesque layaknya dalam film-film Federico Fellini namun tidak terasa aneh karena karakter-karakternya begitu believable dan setiap aksi yang mereka lakukan mempunyai dasar yang kuat.

Heat (1972) - (***1/2)

Dibanding 2 film sebelumnya, Heat terasa paling ringan dan mainstream. Diinspirasi dari cerita john holliwell yang juga sebagai inspirasi dari sebuah mahakarya Billy Wilder yaitu Sunset Boulevard, heat disebut sebagai sebuah remake Sunset Boulevard dalam versi kinky.

Joe Davis (Joe Dallesandro) adalah seorang mantan bintang film cilik yang sudah dilupakan banyak orang, ingin kembali merajut karirnya di dunia hiburan di Hollywood dengan memacari seorang aktris tua spesialis B-Movie bernama Sally Todd (Sylvia Miles). Joe harus berhadapan dengan induk semang kost-annya yang merupakan wanita berperawakan subur dan haus seks, anak dari Sally bernama Jessica (Andrea Feldman) yang akhir-akhir ini merasa sebagai lesbian, dan mantan suami Sally yang biseksual.

Awheatjap

Dalam Heat, karakter Joe tidak lagi terlihat lugu, Joe memanfaatkan tubuh dan parasnya yang ganteng untuk meraih segala keuntungan untuk dirinya mulai dari bayar kost gratis atau mendapatkan peran kecil dalam sebuah film. Saling mengintimidasi antara satu karakter dengan karakter lainnya dalam kost-an di pinggir pantai Malibu itulah yang menginspirasikan kesuksesan tv series macam Melrose Place maupun Desperate Housewives pada masa sekarang.

Benang merah dari ketiga film diatas adalah UANG. Kehidupan tidak dapat lepas dari uang, setiap orang butuh uang, cara apapaun dilakukan untuk mendapatkan uang, mulai dari melacur di jalanan seperti dalam Flesh, menerobos rumah orang untuk mencuri dan kemudian dibelikan heroin seperti dalam Trash, berpura-pura menikah dan hamil juga dalam Trash, atau memacari bintang film tua dalam Heat.

Hal tersebutlah yang ingin diperlihatkan Paul Morrissey kepada dunia. Morrissey tidak hanya tertarik dengan kamera sebagai self-expression layaknya Wargol, tapi dia lebih tertarik kepada permasalahan yang ada di sekitarnya namun jarang dilihat oleh masyarakat luas. Morrissey tidak perduli kalau film-filmnya akan begitu mengejutkan, jujur, dan sangan straight-forward, karena layaknya filmmaker sejati yang hebat, dia hanya mencoba memberitakan kepada dunia melalui dokumenter dari sebuah dekade (ya, dekade 60’s tidak benar-benar berakhir sampai pertengahan 70-an) yang oleh mentornya sendiri (Warhol) telah dilupakan.

Menarik sekali melihat bagaimana Morrissey memanipulasi mediumnya, bagaimana dia merubah kameranya menjadi seorang voyeur, dan bagaimana Morrissey meninggalkan harta berharga bagi dunia perfilman independen, ketiga film ini mesti ditonton. tiga film di atas membuka mata kita terhadap sudut-sudut tergelap dari struktur sosial dan realitas dimana tidak terbayangkan oleh mayoritas orang. Seksi, menakutkan, terkadang bodoh, namun dengan Paul Morrissey di belakang kamera, mungkin Andy Warhol benar, everything could be art.

Pulp Fiction (Quentin Tarantino, 1994, USA)

Tuesday, August 1st, 2006

Pulp_fiction

1 Story.
Terdapat 3 cerita utama dalam Pulp Fiction. Pertama adalah cerita ketika Vincent Vega (John Travolta) mendapat tugas dari atasannya Marsellus (Ving Rhames) untuk menemani sekaligus menjaga istri kesayangan sang atasan. Kedua adalah “The Gold Watch”, yaitu kisah tentang seorang petinju bernama Butch (Bruce Willis) yang dibayar oleh Marsellus untuk kalah dalam suatu pertandingan. Terakhir adalah “The Bonnie Situation” yang sekaligus adalah penghubung dua cerita sebelumnya.

Ketiga cerita diatas mengambil setting di Los Angeles dengan aroma kuat pengaruh film-noir yang terkenal di era 40-50an. Faktanya, Tarantino berhasil menggabungkan film-noir dengan kisah gangster a la Godfather (Coppola) dan Scarface (De Palma).

2. Mengapa sulit dipahami?
Ketika dirilis , Pulp Fiction berhasil memukau banyak orang dikarenakan alur ceritanya yang tidak seperti umumnya film-film yang beredar. Struktur ketiga cerita Pulp Fiction saling berhubungan dan bersinggungan pada momen-momen tertentu, walaupun ketiganya tidak ditampilkan secara kronologis.

Pulp Fiction bukanlah film pertama yang mempunyai alur tidak urut seperti ini, di waktu sebelumnya ada Bad Timing (1980) yang disutradarai oleh Nicholas Roeg atau Betrayal (1983) yang naskahnya ditulis pemenang Nobel Kesusasteraan 2005 Harold Pinter.

3. Cara Melihat film ini
Saat yang paling baik untuk menonton PF adalah saat kondisi badan kita sedang prima, tidak ngantuk dan siap untuk fokuskan perhatian kita sepenuhnya ke layar televise karena alur cerita film ini tidak urut.

Satu waktu konsentrasi kita hilang, maka semua akan menjadi kacau dan akan menimbulkan banyak pertanyaan seperti apakah isi dari koper bersinar?mengapa Vincent yang merupakan seorang profesional dapat begitu lalai meninggalkan senjatanya di luar kamar mandi?atau bahkan mengapa tiba-tiba John Travolta dapat hidup kembali?. Satu tips dalam menonton Pulp Fiction adalah simak baik-baik setiap percakapan yang khususnya pada adegan-adegan sebelum klimaks karena disitulah kelebihan Pulp Fiction, yaitu QT membangun adegan klimaks dari percakapan-percakapan tidak penting tersebut. Contohnya pada saat percakapan tentang Quarter Pounder with Cheese dan percakapan antara kekasih Lance yaitu Jody yang mempunyai banyak tindikan dengan teman wanitanya.

4. Momen Terbaik
PF banyak mempunyai adegan dan dialog mengesankan dan tidak terlupakan. Seperti saat Vincent dan Mia (Uma Thurman) turut serta dalam lomba twist, atau adegan penutup di restoran. Sering dilupakan oleh movie-goer adalah ada makna dalam PF yang notabene adalah film yang sarat dengan unsur kekerasan yaitu redemption yang dapat juga disebut tobat atau penebusan dosa. Masing-masing karakter utama dalam PF digambarkan menerima kesempatan kedua untuk memperbaiki diri mereka baik secara langsung atau tidak langsung. Jules dan Vincent terhindar dari sasaran peluru yang kemudian membuat Jules sadar dan tidak akan terlibat lagi dalam dunia gangster atau Butch yang kemudian memutuskan untuk kembali menolong Marsellus lepas dari pemerkosaan, serta Pumpkin dan Honey Bunny yang dilepas oleh Jules agar dikemudian hari tidak merampok lagi. Itulah kelebihan Tarantino yang dapat membuat film ini tidak hanya menonjolkan kekerasan disana-sini saja.

5. Opini Singkat :
Dialog dalam Pulp Fiction menarik walaupun tidak terdengar natural layaknya manusia normal berbicara kepada manusia lainnya, namun jelas mempunyai ritmik bagus dari kacamata perfilman. Kita harus fokus untuk terus berfikir menemukan koneksi antara cerita dan karakter satu dengan lainnya.
Dan kelebihan yang dimiliki Tarantino adalah pada gaya penulisan dialog-dialognya yang kasar dan tidak senonoh tetapi dapat terdengar segar, lucu, cerdas, bahkan puitis, layaknya naskah-naskah dari dari film David Mamet (Spartan, House of Games, Homicide).

6. Kekurangan : Tidak semua movie-goer senang untuk diajak terus konsentrasi dalam film yang banyak menampilkan adegan kekerasan, tidak senonoh, dan alur cerita yang kacau. Jadi pikiran terbuka adalah suatu kewajiban.

7. Satu lagi kekurangan dalam PF yang sebenarnya merupakan harta luar biasa sebagai movie-goer. Jika digali lebih jauh lagi, PF merupakan sebuah koleksi dari daur-ulang dari adegan2 terkenal dari film-film klasik favorit Tarantino.

Tarantino membuat homage terhadap film-film dengan kekerasan ekstrim, genre blaxploitation, sexploitation, gangster, serta referensi kultur pop lainnya. Referensi Tarantino antara lain adalah koper bersinar yang dibawa Jules adalah referensi dari Kiss Me Deadly (Robert Aldrich), karakter Harvey Keitel sebagai “Wolf the cleaner” merupakan referensi dari film La Femme Nikita (Luc Besson), potongan rambut Uma Thurman terinspirasi dari bintang film bisu legendaris Louise Brooks dalam film Pandora’s Box (GW Pabst). Adegan dan dialog lain juga banyak diangkat dari film-film Jean-Luc Godard (salah satu pengaruh terbesar Tarantino dalam membuat film hingga dia menamakan rumah produksinya A Band Part mengambil dari judul film Godard yaitu Bande a Part), Francois Truffaut (untuk nama karakter Jules dan Jim), Brian de Palma, John Woo, bahkan dalam satu adegan terlihat gaya sinematografi dalam PF begitu beraroma film dari John Cassavetes yang notabene adalah bapak film independent Amerika.

Gairah Tarantino dalam memasukkan referensi-referensi tersebut tidak terlihat sombong, dia cukup cerdas untuk menghindari membuat homage sederhana atau sekedar remake, melainkan mengambil bagian-bagian menarik dari film-film tua tersebut dan membungkusnya dengan kemasan khas Tarantino.

The Four Films of John Cassavetes - Life as an Art Form.

Tuesday, August 1st, 2006

“People who are making films today are too concerned with mechanics - technical things instead of feeling.” - John Cassavetes (1980)

John Cassavetes, sebuah nama yang mungkin terdengar asing di kalangan pencinta film di Amerika Serikat sekalipun apalagi di Indonesia bukanlah sebuah nama asing untuk sutradara-sutradara film indie kontemporer macam Quentin Tarrantino atau Paul Thomas Anderson. Cassavetes dianggap sebagai sutradara yang pertama berani mendobrak untuk keluar dari sistem studio Hollywood lewat film perdananya Shadows. Walau Maya Deren (Meshes of the Afternoon, At Land) telah lebih dahulu membuat feature2 film pendek namun Deren tidak mengedarkannya secara luas layaknya Cassavetes. Shadows bahkan sampai memecahkan rekor di sebuah gedung bioskop di London pada pemutarannya di tahun 1959, sehingga banyak kritikus maupun pencinta film yang menyandingkan namanya dengan Jean-Luc Godard yang pada saat itu juga sedang merilis film perdananya About de Souffle atau Breathless.

1. Shadows (1959)

Shadowsbfi00mfyw_1

Tidak ada satu karakter musuhpun dalam film-film Cassavetes, tidak ada orang baik atau orang jahat. Semua karakter berada diantara baik dan buruk. Jika Lelia, Tony, Bennie, Hughie, dan karakter lain dalam Shadows mempunyai masalah, maka masalah-masalah itu di ciptakan oleh mereka sendiri dan mereka pulalah yang mesti memecahkan.

Dalam karya-karya Cassavetes, permasalahan bukanlah dari luar tapi didalam diri para karakternya. Setiap karakter di Shadows memainkan sebuah
peran yang menyalahi kodrat mereka sendiri atau mencoba menjadi bukan diri mereka sendiri. Tony ingin menjadi seorang cowok yang dikagumi banyak wanita, Bennie ingin terlihat “cool”, hughie ingin dianggap kuat, melindungi, dan kakak yang baik, Lelia berpura-pura bahwa masalah ras tidak penting dan seks tidak mempunyai konsekuensi emosional. Kebohongan yang mereka tampilkan bukanlah kebohongan yang kita katakan kepada orang lain, tapi yang kita katakan pada diri kita sendiri. Tentu saja, ketika kita bertindak bodoh pada diri sendiri, selalu kitalah yang paling terakhir menyadarinya.

Cassavetes ingin menyorot tentang metafora yang hadir di sekeliling kita sendiri yaitu perbandingan antara “topeng” yang kita pakai di masyarakat, dengan “wajah” asli kita yang kita sembunyikan.

2. Faces (1968)

Cassavetes_faces_1

Faces menurut gue adalah yang terberat dari 4 film Cassavetes lainnya. Film ini membingungkan sekaligus offensive. Faces melanggar semua batas-batas bagaimana sebuah film itu dapat dipresentasikan. Shot-shotnya tidak indah sama sekali, dialognya tidak elegan, akting para karakternya mengejutkan dalam standar Hollywood, karakter-karakternya dibuat ekstrim (siapa yang gak kaget sama nenek-nenek yang merindukan belaian hangat laki2 muda), sehingga membuat gue sulit untuk mendefinisikan masing2 karakter dan mesti langsung menonton ulang film ini.

Faces dibuat sebagai ungkapan kekecewaan Cassavetes terhadap studio Hollywood yang baru saja menyewanya untuk menyutradarai Too Late Blues dan Children is Waiting. Cassavetes merasa 2 film tersebut medioker dan pengalaman terburuk dalam karirnya karena campur tangan terlalu besar dari studio, seakan kata “Art” adalah haram bagi para eksekutif studio Hollywood, sehingga Faces direncanakan Cassavetes sebagai gambaran hidup mereka. Hasilnya Faces mengobrak-abrik mitologi tentang “the American life” khususnya kehidupan Hollywood beserta etika bisnisnya dan bagaimana suatu film itu mesti dibuat. Penyembahan terhadap keglamoran, uang dan kekuasaan seseorang ditampilkan tanpa terjebak dalam formula lama, hal-hal klise dengan harapan penonton dapat menemukan cara lain dalam mengerti perilaku para karakternya.

3. A Woman Under the Influence (1974)

01_big

A Woman under the Influence adalah sebuah perayaan mengenai perbedaan kita dengan orang lain, dalam hal fisik, pemikiran, status sosial, atau seksual. Mabel adalah seorang istri dari seorang pekerja kasar dengan dikaruniai 3 anak. Mabel mempunyai kelainan dimana pada satu saat dia dapat bertindak layaknya wanita normal dan di saat lain dapat berubah seperti orang gila dengan berprilaku berlebihan, menari-nari balet, atau bahkan lupa ingatan.

Well, jika film ini dibuat oleh seorang sutradara Hollywood, mungkin jadinya akan seperti Forrest Gump yang merupakan suatu kumpulan ide-ide push-button belaka. Dalam film-film Cassavetes, karakter-karakternya dibangun secara mendalam, sampai-sampai mereka tidak harus melakukan apapun untuk menahan perhatian gue terhadap filmnya, emosi menjadi narasi, dan watak karakter menjadi plot.

4. Killing of a Chinese Bookie (1976)

Cassavetes_chinese_bookie

Jika film-film gangster biasanya bangga akan kemachoan atau kemaskulinan, ke “cool” an, atau kekerasan karakter dan jalan ceritanya, Cassavetes mengambil alur lain melalui Killing of a Chinese Bookie. Cassavetes mempertanyanya hal-hal diatas dan melihat hal-hal tersebut sebagai pelarian yang tragis dari kehidupan para gangster.

Jika Ingmar Bergman didaulat sebagai sutradara yang paling mengerti jiwa wanita, atau Fassbinder paling mengerti jiwa kelompok gay, maka Cassavetes adalah yang paling mengerti jiwa lelaki. Cassavetes menggambarkan tuntas bermacam bentuk lelaki dalam berbagai manifestasinya. Tony di Shadows, salesman di Faces, dan kali ini Cosmo dalam Killing of a Chinese Bookie digambarkan sebagai seorang lelaki pemilik tempat hiburan malam yang rada kinky, sedang terjebak dalam hutang judi sehingga ditugaskan untuk membunuh kepala gangster dari geng Tionghoa agar utangnya lunas.

Cassavetes menggunakan jasa Ben Gazzara sebagai Cosmo karena image berwibawa dan tegar yang terlihat pada Ben. Cosmo terlihat kokoh secara emosi diluar. Dia tidak membiarkan siapapin, bahkan kekasihnya Rachel untuk mempengaruhi keputusan atau jalan pikirannya. Dia terus menjalankan show kinky nya baik disaat ramai atau bisnis sedang menurun, dia terlihat dingin bahkan dalam keadaan terjepit. Obsesinya adalah tampil baik dan keren di segala kesempatan, baik di panggung maupun di luar panggung — dan sukses. Tetapi Cassavetes ingin agar kita menilai dan berpikir bahwa biaya tertentu yang harus dibayar jika penampilan sematalah yang kita kejar. Cassavetes ingin kita bertanya pada hidup kita apa yang dapat terjadi jika penampilan baik dan sikap keren sebegitu pentingnya.

Film-film John Cassavetes dapat dikatakan sebagai suatu karya seni yang hebat, sama seperti karya dari maestro lainnya seperti Carl Theodor Dreyer, yasujiro Ozu, Robert Bresson, dan Andrei Tarkovsky. Film-film tersebut merubah persepsi gue (I miss Ordet), memberi tahu pengetahuan yang baru, emosi yang baru (I miss Tokyo Stroy), otak yang baru (I miss Andrei Rublev), hati, mata bahkan kuping yang baru. Visi dari Cassavetes dari film adalah sebuah eksplorasi personal dari dirinya terhadap arti hidup dan kehidupan lain dari orang-orang di sekelilingnya baik yang dia suka atau dia tidak suka.

Cassavetes06

Cassavetes tidak pernah tertarik untuk membuat filmnya seperti labyrinth dimana penonton seperti dipaksa keras memecahkan suatu puzzle seperti dalam film2 Lynch, atau membuat film-filmnya dengan dialog cerdas seperti Woody Allen dan Coen Brothers dimana penonton akan merasa pintar bila mereka menangkap the in-jokes persis. Kenapa kita harus berpikir apa yang dapat kita lakukan terhadap sutradara dan suatu film (menangkap joke dan sinisme mereka, atau berhasil mengerti jalan cerita layaknya sebuah puzzle)?, film-film Cassavetes memberi kebalikannya yaitu apa yang dapat suatu film dan sutradara dapat berikan kepada kita sebagai penonton untuk memperkaya hidup kita.

Film-film Cassavetes tidak juga berusaha mengungkap sisi gelap dan sisi lain dari manusia seperti layaknya film2 dari Todd Solondz dan Neil LaBute, namun lebih ke permukaan emosi manusia, bagaimana manusia bertindak dan apa yang memicu manusia bertindak, karena kadang filmmaker atau bahkan penonton lupa kalau bagian permukaan itu lebih penting dan nyata sehingga yang membuat karakter2 dalam film Cassavetes misterius adalah karena mereka tidak punya rahasia, semua terlihat. Film-filmnya merupakan suatu pertanyaan dalam dan menyentuh tentang dunia yang kita tempati, dan juga bagaimana kita menghubungkannya dengan pengalaman pribadi kita yang sama dengan dunia dalam film Cassavetes “how to life a live with its imperfections”. Film-film Cassavetes memang hard-to-sit through, but it grows on me, the characters are ugly in manner but does beautify my perception of life, the characters look weak but leaves strong impression. This is the place where I can see a person making a mistake but they get the consequences or they pretend to be strong, this is where I can see SEX scene is not that easy (the moral and emotional consequences or the inability performing great sex), this is LIFE.