Wild Strawberries / Smultronstallet (Ingmar Bergman, Drama/Art-House International, 1957)
WARNING:Might Contain Spoilers!!!
Teringat oleh kata2 yang diperankan oleh karakter Kevin Spacey dalam film “American Beauty”, “your entire life flashes in front of your eyes the second before your die”. Kata-kata itu terasa pas dalam menggambarkan film Wild Strawberries sebagai film yang rada berbeda dengan film2 Bergman lainnya. Wild Strawberries menangkap sekaligus kedalaman tema yang biasa diperlihatkan Bergman dengan rasa simpati terhadap karakter utama dalam film ini, yang jarang terjadi film-film Bergman lainnya. Film ini bercerita tentang perjalanan introspektif dalam mendefinisikan arti hidupnya, dan kematian yang dia rasakan akan menjemputnya sebentar lagi.
Kehidupan sebelumnya dari Isak Borg yang diperankan secara meyakinkan oleh Victor Sjostrom (sutradara kenamaan Swedia di era film bisu) tidak ditampilkan sesaat sebelum dia mati, namun pada sepanjang film ini. Isak adalah seorang professor di bidang kedokteran yang telah menjadi dokter selama 50 tahun. Dia dapat dibilang kejam pada orang2 di sekitarnya dalam artian tidak perduli dengan kehidupan orang lain dan ga mau ambil pusing juga. Isak dibenci oleh anaknya sendiri dan menantunya.
Film ini mengisahkah perjalanan Isak dari Stockholm ke kota Lund untuk menerima penghargaan atas pengabdiannya sebagai dokter selama 50 tahun. Didampingi oleh Marianne menantunya dalam perjalanan mereka bertemu 3 orang muda-mudi yang ingin menumpang.Perjalanan ke Lund itu bagaikan mengulang kembali kehidupan Isak mulai dari kecil hingga beranjak dewasa karena melewati beberapa tempat dia pernah menghabiskan hidupnya melalui mimpi2 yang dia dapatkan dalam sepanjang perjalanan ke Lund.
Isak yang sebelumnya tidak pernah merasa perduli dengan orang lain dan mungkin juga merasa tidak yakin orang lain juga perduli dengan dirinya mulai merasakan arti hidup dalam perjalanannya itu. Mulai dari Marianne yang mengkritik habis2an atas perilaku Isak yang tidak disadari sendiri oleh Isak. Lalu pada suatu tempat pengisian bensin dimana tukang bensin dan istrinya begitu berterima kasih atas jasa Isak dahulu ketika menjadi dokter di daerah tersebut yang Isak sendiri juga lupa jasa apa. Tukang bensin itu menggratiskan bensinnya untuk Isak. Dari situlah mata Isak mulai terbuka bahwa dibalik sikap “irritating”nya selama ini ternyata ada orang-orang yang memperhatikannya dan tersentuh olehnya. Bahkan 3 orang yang menumpang mobilnya pun merasa kagum dengan Isak walaupun baru hari itu mereka bertemu.
Bukan Bergman kalau didalam filmnya tidak menyindir apa yang disebut “organized religion”. Kali ini pertanyaan tentang keberadaan Tuhan disampaikan oleh 3 orang yang menumpang dalam mobilnya. Penumpang yang wanita sedang dalam kondisi bimbang memilih diantara kedua lelaki temannya dimana yang satu adalah calon dokter dan yang satu lagi adalah calon pastur (mmm mungkin 3 orang inilah yang mendasari Truffaut membuat film Jules and Jim). Kedua lelaki tersebut sepanjang perjalanan selalu memperdebatka keberadaan Tuhan. Seperti dalam the Seventh Seal, pandang Bergman mengenai Tuhan adalah lebih luas dari apa yang dicitrakan oleh “organized religion”. Tuhan dalam film2 Bergman munculdalam keseharian kita, dalam Wild Strawberries dapat dikatakan ada diantara keceriaan keluarga, persahabatan antara manusia, hubungan antara majikan-pembantu, bahkan pada tumbuh rimbunnya pepohonan Strawberry liar.
Yang unik dari film-film dari Bergman adalah dia selalu menampilkan kontradiksi & satir kehidupan seperti pertanyaan keberadaan Tuhan atau pada hubungan ayah-anak antara Isak dan Evald, dimana salah satu penyebab Evald akan bercerai dengan Marianne adalah Evald enggan untuk memiliki anak yang sedang dikandung oleh Marianne dikarenakan bayangan masa lalunya tentang dia dan ayahnya yang dia rasakan sebagai anak yang tidak diinginkan. Namun pada akhirnya dijawab tuntas oleh Bergman dalam final sekuen mimpi setelah secara subtle Isak berhasil mempersatukan kembali Evald dan Marianne. Mimpi mengenai ingatan akan piknik bareng keluarga yang efeknya terasa hangat, nyaman dan perubahan pada diri Isak. Tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah, dan ini adalah film yang akan gue tonton kembali di masa-masa mendatang mungkin sampai gue setua karakter Isak . One of my all-time fave. (****, a truly masterpiece)