Floating Weeds / Ukigusa (Yasujiro Ozu, Japan, Family Melodrama, 1959)

Dalam pembukaan commentary track film ini, Roger Ebert mengatakan “Sooner or later, everyone who loves movies, will come to Ozu”. Ozu adalah sutradara paling humanist dan paling tenang yang pernah ada. Tema dalam film-filmnya hanya berkisar pada family melodrama, sehingga Ozu sendiri mengakui dirinya sebagai “tofu-maker” dimana dia dapat membuat berbagai macam variasi dalam film-filmnya tapi tidak seperti Kurosawa yang dapat membuat film dengan berbagai jenis genre dan tema. Tapi hal inilah yang menandakan bahwa ia adalah seorang “auteur” yang hebat seperti hal nya Jacques Tati.

Film ini dimulai dengan kedatangan rombongan teater Komajuro di sebuah kota kecil di Jepang. Komajuro sendiri datang dengan didampingi seorang wanita yang bisa disebut pacarnya atau mistress. Segera diketahui bahwa pertunjukkan yang dibawa oleh teater tersebut tidak cukup sukses dari percakapan para anggota teater tersebut.

Di kota itu, Komajuro juga mengunjungi seorang wanita yang mempuyai toko sake yang kemudian akan kita ketahui bahwa Komajuro mempunyai seorang anak laki-laki dari wanita penjual sake tersebut. Namun Komajuro maupun wanita itu tidak pernah memberitahu anak laki-laki tersebut bahwa Komajuro adalah ayahnya dan hanya mengaku bahwa ia adalah Pamannya. Tetapi pacar wanita Komajuro akhirnya mengetahui rahasia tersebut dan marah sehingga mencoba untuk merusak hubungan antara Komajuro dan ibu dari anak laki-tersebut. Caranya adalah dengan membayar sesama wanita anggota teater tersebut untuk menggoda si anak laki-laki itu. Hingga beruntun dalam scene yang mengungkap semua rahasia itu.

Cerita seperti ini tampaknya sederhana sekali dan dapat dibuat oleh sutradara manapun serta dengan genre apapun. Tapi kelebihan Ozu adalah penggalian dan pengembangan karakter yang dalam tanpa situasi-situasi artifisial. Ozu tidak pernah tergesa-gesa dengan para karakternya, semua berjalan lambat namun jelas. Ozu menceritakannya dengan cara seperti penggambaran dalam kehidupan sehari-hari kita dan membuat karakter2nya menjadi 3 dimensi atau nyata ada di lingkungan sekitar kita.

Dengan gaya visualnya yang terkenal, kameranya tidak pernah bergerak. Tetap di tempat dengan cut-cut yang tradisional. Kita tidak akan pernah melihat kameranya Ozu bergerak mengejar para karakternya dengan dolly atau panning dengan menggerakkan kepala kamera untuk mengobservasi lingkungan dalam filmnya. Juga dengan meletakkan kameranya rendah dibanding sutradara lainnya maksimal setinggi 1 meter atau sama dengan jarak pandang mata orang Jepang ketika sedang duduk di atas tatami.

Floating Weeds menceritakan apa yang dapat menjadikannya sebagai “a typical formula story” tapi tidak dalam “formula way”. Tipikal film yang diformulakan akan membangun cerita untuk menuju happy ending. Tapi Floating Weeds tidak pernah salah melangkah serta mendramatisir, sehingga terlihat bahwa apa yang dilakukan karakter2nya adalah nyata yang akan dilakukan oleh orang dalam kehidupan sehari-hari bila dihadapkan oleh situasi yang serupa. In its simplicity, the film is breathtakingly beautiful and profound. One of my all time fave. (****, a truly masterpiece)

One Response to “Floating Weeds / Ukigusa (Yasujiro Ozu, Japan, Family Melodrama, 1959)”

  1. TonyHotland Says:

    yukii, felem lo nggak ada yang gue tau, hehe. tau lah, kamus perfilm-an gue cuma terbatas pada film2 mainstream. eh, film bokep termasuk mainstream kan ya? hehehhehe… review film-nya Sean Penn dong. Hmm, 21 grams ato Dead Man Walking. Bole request kan ya? Ato skali2 review album, hehe, The Emancipation of Mimi… uda basi ya? Please visit my blog at http://www.tonyhotland.blogspot.com. Appreaciate any comment(s) pak!

Leave a Reply