Au Hasard Balthazar (France, 1966, Drama/Faith/Art-House International, Robert Bresson, 2nd viewing)
Ketika DVD film ini dirilis di Amerika oleh Criterion baru-baru ini, Manohla Dargis kritikus film dari New York Times berujar “Forget the Sith, Tom and Katie, the big movie news this summer is the release on DVD of one of the greatest films in history: Au Hasard Balthazar.”
Mengapa film ini begitu dipuji setinggi langit sehingga dalam polling para kritikus dari seluruh dunia yang digelar oleh Sight & Sound pada tahun 2002 menempatkan film ini sebagai salah satu dari 20 film terbaik yang pernah dibuat sepanjang masa?
Film ini sendiri padahal dari permukaannya hanya menampilkan kehidupan seekor keledai yang di distereotipkan sebagai binatang yang dungu dan kehidupan sehari-hari di sekitar keledai tersebut. Tidak mungkin bila hanya hal tersebut yang dikejar oleh sutradaranya Robert Bresson yang disebut2 sebagai salah satu orang suci dalam dunia perfilman akan menjadikan film ini begitu terkenal.
Salah satu kriteria gue dalam menilai sebuah masterpiece sendiri adalah film tersebut harus membutuhkan pencarian data lebih lanjut atau tidak selesai begitu kata “Tamat” muncul di layar kaca.
Untuk orang yang awam mengenai Christian faith, gue sendiri merasa saat waktu menonton film ini pertama kali cukup pusing dengan apa yang disajikan Bresson di layar televisi. Peristiwa berlangsung dari yang satu kemudian pindah ke adegan berikutnya tanpa ada hubungan langsung dengan adegan sebelumnya. Who is this guy Robert Bresson. Siapa si laki-laki yang disebut-sebut David Lynch dan Andrei Tarkovsky sebagai salah satu pengaruh paling kuat dalam film-filmnya.
Dengan membaca beberapa artikel tentang film ini gue mendapatkan gambaran bahwa keledai bernama Balthazar tersebut adalah simbolisasi Bresson terhadap Yesus Kristus. Digambarkan mulai dari kelahirannya sampai dengan kematiannya. Disaat menonton untuk kedua kalinya lah semua menjadi lebih jelas dan terlihat hubungan2 yang sebelumnya banyak gue acuhkan dalam film ini.
Film ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seekor keledai bernama Balthazar semenjak kecil hingga mati dengan perbandingannya dengan Marie seorang gadis yang merupakan pemilik Balthazar kecil dan tetap ada di sekitar Balthazar walau keledai tersebut berganti kepemilikan. Bresson terkenal dengan gaya penyutradaraannya untuk mengeliminasi setiap adegan yang dia rasa kurang penting dan selalu menunjukkan “akibat dari suatu peristiwa selalu lebih dahulu tampil terhadap sebab dari peristiwa tersebut.” Hal ini terlihat dari adegan2 awal dalam film ini dimana Marie menanyakan kepada ayahnya agar dapat memiliki Balthazar untuk dipelihara, ayahnya menjawab tidak. Namun di adegan berikutnya ternyata Balthazar sudah menjadi milik Marie dan kita tidak mengetahui bagaimana proses Marie meyakinkan ayahnya untuk mendapatkan Balthazar.
Terdapat karakter berikutnya sebagai kontradiksi Balthazar yang selalu menjadi objek penderitaan kodratnya sebagai binatang pengangkut yang selalu dicambuk adalah karakter Gerard yang merupakan seorang pemuda dengan perangai layaknya seorang preman didampingi teman2nya yang sering mengganggu Balthazar untuk ditendangi dan dipukuli. Marie yang mempunyai pujaan hati nun jauh disana yang awalnya benci dengan Gerard lama kelamaan menjadi jatuh cinta dengan Gerard dengan alasan hanya kita sebagai penonton yang bisa menentukannya. Balthazar disini selalu sebagai saksi mata yang hanya bisa meringkik dan melenguh bila terjadi suatu kejahatan dan ketidakadilan dalam lingkungan sekitarnya. Sampai ending yang menyedihkan dimana akhirnya Balthazar mati di tengah2 sekumpulan domba dengan diringi musik orkestra gubahan Schubert.
Perjalanan hidup Balthazar selalu berpindah tangan dari satu pemilik ke pemilik yang lain, antara lainnya tukang roti, pemabuk, seorang rentenir yang kikir, dan dijadikan binatang sirkus. Balthazar layaknya seorang manusia ditampilkan mulai dari kelahirannya, masa kecilnya yang menyenangkan bermain-main dengan anak2 disekitarnya, menjadi dewasa dan kerja untuk para pemiliknya, cerdas dalam berhitung, sampai tua dan mati.
Menonton film ini secara “literal” atau lurus2 saja dengan bekal sedikit yaitu Balthazar adalah representasi Yesus, maka dapat ditangkap bahwa film ini merupakan potret fragment tentang kehidupan di sebuah desa di Perancis di pertengahan era 1960. Dihubungkan oleh delapan karakter yang saling bersinggungan satu sama lainnya. Merupakan studi tentang lemah dan kejamnya manusia, sebuah gambaran memilukan bagaimana seorang gadis yang baik dan polos berubah mengalami degradasi moral dan harapan, maupun kekejaman yang ada di diri para pemilik Balthazar sebagai representasi dari “7 deadly sins’ dalam kehidupan sehari-hari sehingga tepatlah pendapat terkenal dari Jean-Luc Godard mengenai film ini bahwa “Au Hasard Balthazar adalah dunia dalam 1 setengah jam.”. Tapi dari semua itu, film ini adalah tentang seekor keledai.
Bresson sendiri merupakan sutradara yang tidak tertarik untuk hanya “sekedar” membuat film, dia tidak pernah membuat hasil karyanya sebagai suatu film melainkan merupakan “cinema”. Dialah salah satu sutradara yang meyakini pencapaian media film sebagai seni adalah sama dengan yang dapat dicapai oleh media lain seperti buku, lukisan, dan karya sastra lainnya. Gaya penyutradaraan Bresson yang dikenal dengan sebutan kasar atau “rigorous” dan “austere”. Kasarnya Bresson adalah seperti yang telah disebutkan diatas dengan seenaknya pindah dari satu adegan ke adegan lainnya yang akan membuat kita sebagai penonton terbengong2 mengapa tiba2 Balthazar udah berganti kepemilikan padahal sebelumnya punyanya si marie atau adegan yang tiba2 Gerard dinyatakan sebagai buronan kepolisian tanpa kita tahu penyebabnya apa. Bresson mengharapkan partisipasi aktif kita sebagai penonton untuk menentukan sendiri sebab dari peristiwa2 yang ada dalam film ini karena menurut Bresson bukanlah seni jika semua hal ditampilkan keseluruhan secara jelas di hadapan penonton. Ini sebabnya gue merasa film ini berdurasi 95 menit tapi berjalan tiga kali lipatnya lebih lama dalam pikiran gue dalam menyambung2kan cerita dalam film ini.
Bresson merupakan sutradara yang cerdas menyadari bahwa suara dalam film lebih penting ketimbang visualisasi dalam film. Karena menurut Bresson mata itu mudah dibohongi namun kuping adalah indra terpenting dalam menonton film, sedangkan kuping selalu menangkap suatu bunyi untuk kemudian diteruskan ke otak dan pikiran penonton untuk dapat dicerna dan merekontruksi bunyi tersebut sesuai khayalan dan logis penonton. Oleh sebab itu tidak heran dalam film ini Bresson selalu membuat suara2 efek seperti ringkikan Balthazar terdengar lebih besar daripada saat karakter2 berdialog.
Bresson juga terkenal akan kebiasaannya untuk tidak memakai aktor professional dalam film2nya (sebenarnya dia menyebut mereka sebagai “model” bukan aktor), karena kecenderungan aktor yang terbiasa untuk terlihat sempurna dalam berakting sehingga film tidak akan terasa wajar dan natural. Oleh karena itu dia selalu melarang modelnya untuk berimprovisasi atau mencoba mengerti skenario yang dia berikan kepada mereka untuk kemudian Bresson mengambil adegan 10, 20, sampai 50 puluh kali suatu adegan agar modelnya mengeluarkan dialog secara otomatis dari mulut mereka tanpa berpikir mengenai makna dialog tersebut. Tidak ada tempat untuk Al Pacino dan Robert De Niro dalam film2 Bresson.
Terdengar cukup berat sekali tampaknya film ini. Tapi secara mengejutkan gue sendiri akhirnya menyadari film ini sangat kuat dan menyentuh, juga jauh lebih mudah dicerna dibandingkan, let’s say film2nya Andrei Tarkovsky atau Ingmar Bergman. Dan ada kutipan menarik dari Abbas Kiarostami mengenai film:”I think that a good film is one that has a lasting power, and you start to reconstruct it after you leave the theater. There are a lot of films that seem to be boring, but they are decent films. On the other hand, there are films that nail you to your seat and overwhelm you to the point that you forget everything, but you feel cheated later. These are the films that take you hostage. I absolutely don’t like the films in which the filmmakers take their viewers hostage and provoke them. I prefer the films that put their audience to sleep in the theater. I think those films are kind enough to offer you a nice nap and not leave you disturbed when you leave the theater. Some films have made me doze off in the theater, but the same films have made me stay up at night, wake up thinking about them in the morning, and keep on thinking about them for weeks. Those are the kind of films I like.”
Penyatuan semua elemen2 diatas membuat film ini terdorong pada titik tertinggi mengapa film dapat disebut sebagai seni, dan apakah bukan ini yang dinamakan hiburan jika kita sendiri ikut berpartisipasi langsung dalam menikmati sebuah film? Hanya kitalah sebagai penonton yang dapat memutuskan. One of my all time fave. (****, a truly masterpiece)