Archive for September, 2005

Au Hasard Balthazar (France, 1966, Drama/Faith/Art-House International, Robert Bresson, 2nd viewing)

Friday, September 23rd, 2005

Ketika DVD film ini dirilis di Amerika oleh Criterion baru-baru ini, Manohla Dargis kritikus film dari New York Times berujar “Forget the Sith, Tom and Katie, the big movie news this summer is the release on DVD of one of the greatest films in history: Au Hasard Balthazar.”

Mengapa film ini begitu dipuji setinggi langit sehingga dalam polling para kritikus dari seluruh dunia yang digelar oleh Sight & Sound pada tahun 2002 menempatkan film ini sebagai salah satu dari 20 film terbaik yang pernah dibuat sepanjang masa?

Film ini sendiri padahal dari permukaannya hanya menampilkan kehidupan seekor keledai yang di distereotipkan sebagai binatang yang dungu dan kehidupan sehari-hari di sekitar keledai tersebut. Tidak mungkin bila hanya hal tersebut yang dikejar oleh sutradaranya Robert Bresson yang disebut2 sebagai salah satu orang suci dalam dunia perfilman akan menjadikan film ini begitu terkenal.

Salah satu kriteria gue dalam menilai sebuah masterpiece sendiri adalah film tersebut harus membutuhkan pencarian data lebih lanjut atau tidak selesai begitu kata “Tamat” muncul di layar kaca.

Untuk orang yang awam mengenai Christian faith, gue sendiri merasa saat waktu menonton film ini pertama kali cukup pusing dengan apa yang disajikan Bresson di layar televisi. Peristiwa berlangsung dari yang satu kemudian pindah ke adegan berikutnya tanpa ada hubungan langsung dengan adegan sebelumnya. Who is this guy Robert Bresson. Siapa si laki-laki yang disebut-sebut David Lynch dan Andrei Tarkovsky sebagai salah satu pengaruh paling kuat dalam film-filmnya.

Dengan membaca beberapa artikel tentang film ini gue mendapatkan gambaran bahwa keledai bernama Balthazar tersebut adalah simbolisasi Bresson terhadap Yesus Kristus. Digambarkan mulai dari kelahirannya sampai dengan kematiannya. Disaat menonton untuk kedua kalinya lah semua menjadi lebih jelas dan terlihat hubungan2 yang sebelumnya banyak gue acuhkan dalam film ini.

Film ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seekor keledai bernama Balthazar semenjak kecil hingga mati dengan perbandingannya dengan Marie seorang gadis yang merupakan pemilik Balthazar kecil dan tetap ada di sekitar Balthazar walau keledai tersebut berganti kepemilikan. Bresson terkenal dengan gaya penyutradaraannya untuk mengeliminasi setiap adegan yang dia rasa kurang penting dan selalu menunjukkan “akibat dari suatu peristiwa selalu lebih dahulu tampil terhadap sebab dari peristiwa tersebut.” Hal ini terlihat dari adegan2 awal dalam film ini dimana Marie menanyakan kepada ayahnya agar dapat memiliki Balthazar untuk dipelihara, ayahnya menjawab tidak. Namun di adegan berikutnya ternyata Balthazar sudah menjadi milik Marie dan kita tidak mengetahui bagaimana proses Marie meyakinkan ayahnya untuk mendapatkan Balthazar.

Terdapat karakter berikutnya sebagai kontradiksi Balthazar yang selalu menjadi objek penderitaan kodratnya sebagai binatang pengangkut yang selalu dicambuk adalah karakter Gerard yang merupakan seorang pemuda dengan perangai layaknya seorang preman didampingi teman2nya yang sering mengganggu Balthazar untuk ditendangi dan dipukuli. Marie yang mempunyai pujaan hati nun jauh disana yang awalnya benci dengan Gerard lama kelamaan menjadi jatuh cinta dengan Gerard dengan alasan hanya kita sebagai penonton yang bisa menentukannya. Balthazar disini selalu sebagai saksi mata yang hanya bisa meringkik dan melenguh bila terjadi suatu kejahatan dan ketidakadilan dalam lingkungan sekitarnya. Sampai ending yang menyedihkan dimana akhirnya Balthazar mati di tengah2 sekumpulan domba dengan diringi musik orkestra gubahan Schubert.

Perjalanan hidup Balthazar selalu berpindah tangan dari satu pemilik ke pemilik yang lain, antara lainnya tukang roti, pemabuk, seorang rentenir yang kikir, dan dijadikan binatang sirkus. Balthazar layaknya seorang manusia ditampilkan mulai dari kelahirannya, masa kecilnya yang menyenangkan bermain-main dengan anak2 disekitarnya, menjadi dewasa dan kerja untuk para pemiliknya, cerdas dalam berhitung, sampai tua dan mati.

Menonton film ini secara “literal” atau lurus2 saja dengan bekal sedikit yaitu Balthazar adalah representasi Yesus, maka dapat ditangkap bahwa film ini merupakan potret fragment tentang kehidupan di sebuah desa di Perancis di pertengahan era 1960. Dihubungkan oleh delapan karakter yang saling bersinggungan satu sama lainnya. Merupakan studi tentang lemah dan kejamnya manusia, sebuah gambaran memilukan bagaimana seorang gadis yang baik dan polos berubah mengalami degradasi moral dan harapan, maupun kekejaman yang ada di diri para pemilik Balthazar sebagai representasi dari “7 deadly sins’ dalam kehidupan sehari-hari sehingga tepatlah pendapat terkenal dari Jean-Luc Godard mengenai film ini bahwa “Au Hasard Balthazar adalah dunia dalam 1 setengah jam.”. Tapi dari semua itu, film ini adalah tentang seekor keledai.

Bresson sendiri merupakan sutradara yang tidak tertarik untuk hanya “sekedar” membuat film, dia tidak pernah membuat hasil karyanya sebagai suatu film melainkan merupakan “cinema”. Dialah salah satu sutradara yang meyakini pencapaian media film sebagai seni adalah sama dengan yang dapat dicapai oleh media lain seperti buku, lukisan, dan karya sastra lainnya. Gaya penyutradaraan Bresson yang dikenal dengan sebutan kasar atau “rigorous” dan “austere”. Kasarnya Bresson adalah seperti yang telah disebutkan diatas dengan seenaknya pindah dari satu adegan ke adegan lainnya yang akan membuat kita sebagai penonton terbengong2 mengapa tiba2 Balthazar udah berganti kepemilikan padahal sebelumnya punyanya si marie atau adegan yang tiba2 Gerard dinyatakan sebagai buronan kepolisian tanpa kita tahu penyebabnya apa. Bresson mengharapkan partisipasi aktif kita sebagai penonton untuk menentukan sendiri sebab dari peristiwa2 yang ada dalam film ini karena menurut Bresson bukanlah seni jika semua hal ditampilkan keseluruhan secara jelas di hadapan penonton. Ini sebabnya gue merasa film ini berdurasi 95 menit tapi berjalan tiga kali lipatnya lebih lama dalam pikiran gue dalam menyambung2kan cerita dalam film ini.

Bresson merupakan sutradara yang cerdas menyadari bahwa suara dalam film lebih penting ketimbang visualisasi dalam film. Karena menurut Bresson mata itu mudah dibohongi namun kuping adalah indra terpenting dalam menonton film, sedangkan kuping selalu menangkap suatu bunyi untuk kemudian diteruskan ke otak dan pikiran penonton untuk dapat dicerna dan merekontruksi bunyi tersebut sesuai khayalan dan logis penonton. Oleh sebab itu tidak heran dalam film ini Bresson selalu membuat suara2 efek seperti ringkikan Balthazar terdengar lebih besar daripada saat karakter2 berdialog.

Bresson juga terkenal akan kebiasaannya untuk tidak memakai aktor professional dalam film2nya (sebenarnya dia menyebut mereka sebagai “model” bukan aktor), karena kecenderungan aktor yang terbiasa untuk terlihat sempurna dalam berakting sehingga film tidak akan terasa wajar dan natural. Oleh karena itu dia selalu melarang modelnya untuk berimprovisasi atau mencoba mengerti skenario yang dia berikan kepada mereka untuk kemudian Bresson mengambil adegan 10, 20, sampai 50 puluh kali suatu adegan agar modelnya mengeluarkan dialog secara otomatis dari mulut mereka tanpa berpikir mengenai makna dialog tersebut. Tidak ada tempat untuk Al Pacino dan Robert De Niro dalam film2 Bresson.

Terdengar cukup berat sekali tampaknya film ini. Tapi secara mengejutkan gue sendiri akhirnya menyadari film ini sangat kuat dan menyentuh, juga jauh lebih mudah dicerna dibandingkan, let’s say film2nya Andrei Tarkovsky atau Ingmar Bergman. Dan ada kutipan menarik dari Abbas Kiarostami mengenai film:”I think that a good film is one that has a lasting power, and you start to reconstruct it after you leave the theater. There are a lot of films that seem to be boring, but they are decent films. On the other hand, there are films that nail you to your seat and overwhelm you to the point that you forget everything, but you feel cheated later. These are the films that take you hostage. I absolutely don’t like the films in which the filmmakers take their viewers hostage and provoke them. I prefer the films that put their audience to sleep in the theater. I think those films are kind enough to offer you a nice nap and not leave you disturbed when you leave the theater. Some films have made me doze off in the theater, but the same films have made me stay up at night, wake up thinking about them in the morning, and keep on thinking about them for weeks. Those are the kind of films I like.”

Penyatuan semua elemen2 diatas membuat film ini terdorong pada titik tertinggi mengapa film dapat disebut sebagai seni, dan apakah bukan ini yang dinamakan hiburan jika kita sendiri ikut berpartisipasi langsung dalam menikmati sebuah film? Hanya kitalah sebagai penonton yang dapat memutuskan. One of my all time fave. (****, a truly masterpiece)

Diabolique / The Devils (Henri-Georges Clouzot, 1954)

Friday, September 16th, 2005

Diabolique adalah sebuah film “whodunit” dengan genre film-noir. Dibuat oleh salah satu saingan terbaik Alfred Hitchcock dalam genre ini yaitu Henri-Georges Clouzot.

Setting filmnya adalah di sebuah boarding school khusus anak laki-laki di Perancis yang dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah kejam bernama Michel (Paul Meurisse) dan suka menempeleng istrinya Christina (Vera Clouzot, yang tak lain adalah istri sang sutradara) di depan anak-anak sekolah tersebut. Michel bahkan tega menyajikan ikan murah dan basi terhadap anak-anak tersebut dengan dalih keuangan sekolah yang menipis.

Sekolah tersebut sebenarnya adalah milik Christina yang lama-kelamaan memendam kekesalan kepada Michel dan membuatnya ingin segera bercerai dengan si suami untuk kemudian menjual sekolah tersebut dan hidup dengan tenang. Dengan bantuan Nicole (Simone Signoret, Marilyn Monroe-nya Perancis pada saat itu) yang juga merupakan mantan kekasih gelap Michel, mereka berdua mempunyai rencana untuk membunuh Michel di sebuah tempat peristirahatan milik Nicole.

Mereka berdua memancing Michel untuk datang ke tempat tersebut dengan dalih bahwa surat perceraian telah disiapkan oleh Christina sehingga membuat Michel datang untuk memperbaiki keadaan dengan Christina.Sesampainya di tempat peristirahatan, Michel dibunuh dengan ditenggelamkan kedalam Bath Tub dan kemudian dibuang ke kolam renang di halaman sekolah sesampainya Nicole dan Christina kembali ke sekolah.

Hal diatas bukanlah jalan cerita sesungguhnya dari film ini. Cerita dimulai ketika kolam renang di sekolah tersebut dikeringkan, ternyata tidak ditemukan mayat Michel didalamnya, dan beberapa hari kemudian datang setelan jas yang dikenakan Michel pada saat dia dibunuh dari dry-cleaner. Sampai sinilah penonton dibuat berpikir apakah dua wanita itu sudah gila? Seperti yang dikemukakan Clouzot pada akhir film ini “Please do not reveal the ending to those who have not yet seen the film!”, Diabolique bekerja sebagai pedang bermata dua yang terus membuat penontonnya berpikir sampai akhir film.

Gue teringat dengan jenis film yang sama yaitu “Usual Suspects”, dimana mempunyai cukup satu twist ending sejenis dengan Diabolique. Jika pada akhir film “Usual Suspects” yang ada di pikiran gue adalah “Polisinya aja yang bodoh” atau “Nonton film ini kayak ngedengerin seorang teman yang lagi cerita pengalaman serunya tapi pada akhirnya bilang, eh tapi boong deh”, berbeda hal nya dengan Diabolique. Karena Diabolique menggunakan waktu sama banyaknya dan sama baiknya dalam hal membangun karakter-karakternya dengan membangun plot atau jalan cerita filmnya. Sehingga pada saat film berakhir semua keraguan dan kebingungan saat kita menonton film tersebut terbayar penuh atau terjawab semua, semua hal yang diceritakan sebelumnya mempunyai alasan yang kuat.

Hal yang unik saat menonton film ini adalah, gue dapat merasakan film ini seperti keluar dari layar televisi dan berada di sekitar gue. Skenario yang dibangun Clouzot kuat sekaligus “believable”.Hitchcock pernah menjelaskan bahwa ada perbedaan antara “Surprise” dan “Suspense”. Sebuah bom mati dibawah meja, itu “surprise”. Tapi ketika kita tahu bahwa ada bom di bawah meja tapi ga tahu kapan bom itu akan meledak, itu ybaru yang dinamakan “suspense”. Film-film misteri moderen bergantung pada bahaya yang keluar tiba-tiba dan mengejutkan. Surprise.Dan itu kejutan yang akan cepat hilang, kejutan macam tersebut akan menimbulkan kesenangan sesaat tapi tidak kepuasan. “Diabolique” menanamkan suspense di sepanjang filmnya, menanamkan juga didalam ingatan kita, sehingga ketika saat terakhir film itu tiba, seluruh film adalah sebuah thriller sama baiknya dengan awal film.

Ada cerita terkenal: A man wrote to Alfred Hitchcock: “Sir, After seeing `Diabolique,’ my daughter was afraid to take a bath. Now she has seen your `Psycho’ and is afraid to take a shower. What should I do with her?” Hitchcock replied: “Send her to the dry cleaners.” (Watch Diabolique, and you’ll know what it means)

One of my all time favorite. (****, a truly masterpiece)

Belle De Jour (Luis Bunuel, 1967)

Saturday, September 3rd, 2005

Belle De Jour adalah sebuah film yang provokatif dan kompleks secara emosional mengenai seksualitas. Film yang lebih maju daripada zamannya. Seperti layaknya film Bunuel yang lain, Belle de Jour adalah film yang artistik dan mengejutkan karena ceritanya sendiri berjalan “subtle” dengan mengeksploitasi erotisme tanpa harus mengumbar ketelanjangan dan adegan2 panas layaknya film dengan tema yang sama.

Severine (Catherine Deneuve) adalah seorang istri dari suami yang tampan dan bosan dengan kehidupan perkawinannya. Dari adegan pembukanya pun terlihat Severine adalah wanita yang suka bila didominasi secara seksual (disakiti dan dipermalukan) atau lebih kerennya bahasa zaman sekarang dia tertarik dengan konsep “masochism” dimana Severine senang berperan sebagai budaknya atau “slave”, dan suaminya Pierre adalah bukan tipe suami atau laki-laki ideal bagi dirinya karena kesabaran dan kesopanannya.

Rasa penasaran dan tidak terpuaskan itulah yang mendasari Severine untuk memutuskan mau menjadi salah satu Wanita Tuna Susila sebagai kehidupannya yang lain namun hanya di waktu siang. Itulah yang membawanya kepada Madame Anais, seorang germo kelas atas yang menjalankan “Bordello” yang berisikan hanya wanita-wanita cantik dan seksi. Severine diberikan nama paggilan sebagai “Belle De Jour” karena dia harus meninggalkan rumah bordil itu sebelum jam 5 sore.

Pada suatu hari rumah bordil tersebut didatangi oleh dua gangster dimana salah satunya yang masih muda bernama Marcel tertaik dengan Severine. Marcel adalah pria yang kasar, sombong, selalu membawa tongkat besi, berpakaian kulit, dan gigi yang terbuat dari baja. “For You there is no charge” kata Severine langsung aja karena Marcel adalah tipe pria yang diidam-idamkannya selama ini. Severine tertarik dengan Marcel karena perlakuan kasar dan caci maki yang kerap dilakukannya terhadap Severine.

Keadaan tersebut tidak berlangsung lama sampai salah seorang kenalan Severine dan suaminya tiba2 datang ke rumah bordil tersebut dan terobsesi dengan Severine juga. Takut karena akan diadukan ke suaminya, Severine memutuskan untuk berhenti. Dan hal tersebut yang akan menuntun kita ke ending film ini yang terbuka, membingungkan, tidak terpecahkan, dan bukan saja ambigu, namun banyak kemungkinan yang dapat kita simpulkan dari ending tersebut (setidaknya gue sendiri berpikir ada tiga kemungkinan).

Didaulat sebagai salah satu film erotis terbaik dan paling terkenal yang pernah dibuat, karena menurut Roger Ebert Belle de Jour mengerti erotisme dan seksualitas luar dalam, dan menampilkannya bukan di permukaan film namun dalam imajinasi penontonnya. Contohnya adalah ketika Severine berjalan pertama kalinya ke dalam kamar untuk melayani kebutuhan seks pelanggan bordello tersebut, suasana kuatnya erotisme bukan kepada siapa yang sedang menunggu Severine didalam kamar tersebut, tapi dari kenyataan saat Severine berjalan menuju ruangan tersebut. Dan menurut gue, itulah salah satu kehebatan dari Bunuel yang dapat menciptakan suasana erotis dan penuh intensitas seksual tanpa harus menggembar-gemborkannya dengan ketelanjangan. Hal ini mengingatkan gue pada film yang gue tonton beberapa waktu yang lalu dari salah satu amster perfilman Perancis Robert Bresson dalam filmnya “Au Hasard Balthazar” dimana dialog dalam Balthazar kebanyakan berlangsung dalam otak dan imajinasi gue dan bukan dalam filmnya, sedangkan dalam “Belle De Jour” yang terjadi adalah hal-hal seksual yang tidak tergambarkan dalam film ini justru terjadi juga dalam imajinasi gue (not in the filthy way, hehehe…a little maybe).

Adegan paling terkenal dalam film ini adalah pada saat seorang pelanggan Severine asal Jepang yang mengaku mempunyai suatu benda didalam kotak kecil yang dia tunjukkan pada Severine. Setelah melihat kotak tersebut (kotak itu tidak diperlihatkan isinya kepada penonton) Severine menolak apa yang pelanggannya itu mau, lalu tanpa menjelaskan apa-apa, adegan film berpindah dengan cara yang rada susah untuk dijelaskan dan menimbulkan banyak pertanyaan dan kemungkinan.

Dalam wawancaranya pada DVD Discreete Charm of Bourgeoisie, Bunuel menjawab pertanyaan banyak orang mengenai apa sebenarnya isi kotak itu karena penonton bingung tidak tahu dan ingin sekali tahu mengapa isi kotak itu membuat Severine terlihat berbeda setelah melihat isi kotak tersebut. Bunuel sendiri dengan enteng menjawab sama aja kalau dia sendiri gak tahu isi kotaknya apa. Inilah salah satu gaya Surreal Bunuel dalam film-filmnya, dimana dia membiarkan penonton menginterpretasikannya sendiri tanpa ada sesuatu yang pasti benar dan Bunuel selalu menolak untuk menjelaskan adegan2 yang banyak menimbulkan pertanyaan2 sejenis dalam film2nya.

Bunuel adalah master dan salah satu pelopor dari gerakan Surrealisme dalam bentuk film. Film-filmnya merupakan penggalian terhadap perilaku dasar manusia (human nature) dari sisi lain dengan sentuhan humor2 gelapnya dan “sly” (zaman sekarang kayak humor dalam film-filmnya Coen Brothers kali yah). Dia juga seorang penulis naskah berbakat dengan insting yang tajam dengan observasi mendalam terhadap subjek-subjek dalam filmnya. Dia juga seorang surrealist yang juga perduli akan struktur, pengembangan plot, pengembangan karakter serta aturan-aturan dalam membuat film yang baik dan benar.

Setelah menonton 4 film dari Luis Bunuel termasuk yang satu dan tiga yang lain adalah Un Chien Andalou, Discreet Charm of Bourgeisie, serta That Obscure Object of Desire, gue menyadari bahwa Bunuel adalah salah satu sutradara film favorit gue. Dengan pace film yang cenderung cepat dan narasi yang mudah diikuti dibanding film2 yang dibuat oleh sutradara2 besar dunia pada masanya seperti Bergman, Bresson, dan Tarkovsky. Oleh karena itu dianjurkan sekali untuk movie-goer sekalian untuk mencari dan menonton film-film dari Bunuel, karena begitu 5 menit pertama film sudah ditonton, bakalan lupa kalau ternyata kita sedang menonton film klasik. One of my all time favorite.(****, a truely, madly, deeply masterpiece)