Say Anything (Cameron Crowe, 1989)
Gue bukan penggemar berat film dengan genre teenage romantic comedy seperti “Sixteen Candles”, “Can’t Hardly Wait”, atau “American Pie” sekalipun. Tetapi karena selalu saja enjoy dalam menonton film-filmnya Cameron Crowe selain “Jerry MacGuire”, kenapa tidak mencoba menonton film ini.
Yang ada di pikiran gue adalah film ini akan menajdi layaknya film2 remaja lainnya yang kebanyakan mengusung guyonan2 berbau seks dan kasar, atau poorly-defined subplot yang sengaja diada-adain. Dengan ekspektasi tersebut, sebenarnya terkerjut juga waktu menonton film ini. Film ini menangkap aura bagaimana sepasang remaja yang sedang jatuh cinta dimana pada banyak film remaja digambarkan terlalu berlebihan. Ceritanya berjalan natural dari hari ke hari, pasang surut kehidupan percintaan kedua karakternya yaitu Llyod (John Cusack) dan Diane (Ione Skye), tanpa ada subplot yang “tacky” seperti munculnya tiba2 mantan pacar mereka.
Cerita dalam film ini dibuka dengan Lloyd yang ingin sekali mengajak kencan Diane yang merupakan straight A student namun terperangkap didalam tubuh seorang fotomodel atau umumnya gadis cheerleader di SMA. Walau cantik namun kepintaran Diane membuatnya jarang atau nyaris tidak pernah didekati teman laki-laki di sekolahnya. Llyod ingin mengajak Diane kencan dan menghabiskan waktu sebanyak2nya sebelum Diane pergi ke Inggris untuk menjalani beasiswanya. Lloyd tertarik pada Diane bukan karena kecantikannya, namun lebih kepada kekagumannya. Sehingga tidak heran pada suatu pesta dimana banyak orang bertanya mengapa Diane mau pergi dengan Lloyd Dobler. Alasan Diane pun sederhana saja, karena Lloyd membuatnya tertawa.
Situasi kontras lainpun adalah ketika Llyod diajak makan malam bersama ayah Diane dimana Lloyd dengan lugunya menjelaskan bahwa di masa depan dia mau menjadi kick-boxer yang dia percaya akan menjadi olahraga masadepan yang digemari.
Film ini menceritakan tentang kejujuran dan ketidakjujuran, dimana Diane yang orangtuanya telah bercerai dan memilih tinggal bersama ayahnya karena yakin mereka dapat saling jujur dan terbuka. Terlihat dalam salah satu scene terbaik dalam film ini dimana Diane pulang telat tapi tidak menelpon ayahnya seperti biasa dan membuat sang ayah khawatir. Ayahnya marah namun dia masih mau mendengar alasan2 yang dikemukakan oleh Diane.
Walau alur ceritanya terdengar familiar, detail dari film inilah yang membuat film ini begitu spesial. Dialog-dialog yang cerdas dan terasa sungguhan, pengembangan karakter yang baik, believable situations, dan tidak ada yang gue rasa terlalu dieksploitasi atau dikurang-kurangi dalam film inilah antara lain yang membuatnya spesial. (***1/2, A Must See)