Raise The Red Lantern (Zhang Yimou, 1990)
Film keempat dan yang membuat perhatian dunia menoleh kepada film-filmnya Yimou kalo boleh dibilang adalah film ini, Raise the Red Lantern. And it’s damn one of the most sublimely and disturbing movie I’ve ever seen.
Ceritanya sendiri sebenarnya sederhana ajah.. Setting film ini adalah pada zaman feodalisme di Cina.Songlian yang diperankan oleh Gong Li adalah gadis yang lahir dari keluarga pas-pasan dan sempat menimba ilmu sebentar di suatu universitas. Ibunya meminta Songlian untuk mau dinikahi oleh seorang tuan tanah yang telah mempunyai tiga istri lainnya.
Kehidupan Songlian yang baru sekarang menjadi sangat terbatas dimana dia hanya dapat bertemu dan berinteraksi dengan istri-istri tuan tanah lainnya, beberapa pembantu dan juga kawan tuan tanah tersebut. Seperti hidup dalam Sangkar Emas dimana kebutuhan materi Songlian sangat terpenuhi namun batin merasa tersiksa.
Songlian sendiri didampingi oleh seorang pembantu pribadi yang ga suka kepadanya karena sang pembantu menggap bahwa seharusnya dialah yang menjadi selir terbaru dari tuan tanah itu dan bukan Songlian. Ditambah lagi tradisi menyalakan Red Lantern terhadap rumah istri yang mana yang akan diinapi sang tuan tanah pada malam tersebut, membuat persaingan diantara istri-istri tuan tanah tersebut semakin ketat.
Istri yang kedua terlihat paling baik kepada Songlian dan istri ketiga terlihat judes karena merasa dia bukan lagi istri termuda dari tuan tanah tersebut. Keadaan di istana tuan tanah tersebut pun membuat posisi istri yang paling dihormati adalah istri yang paling sering diinapi si tuan tanah sehari-harinya atau dengan kata lain yang paling sering nyala Red Lantern-nya. Permasalahan terus muncul didalam istana tersebut antara istri-istri tuan tanah tersebut dibumbui intrik-intrik persaingan kejam dari para wanita tersebut sehingga terjadilah suatu peristiwa yang menakutkan.
Film ini adalah jenis film yang dapat mempesona penonton pada saat menontonnya, namun tetap menghantui penonton berhari-hari setelah menontonnya, setidaknya itulah yang terjadi kepada gue. Dengan cerita yang sederhana namun dengan tema dan emosi yang kompleks, membuat film ini terasa sebagai film yang akan dibuat Ingmar Bergman jika Ingmar diberikan kesempatan untuk membuat film dengan cerita dan setting di daratan Cina. One of my all time fave movie. (****, definitely positively a masterpiece)