Offret - Sacrificatio / The Sacrifice (Andrei Tarkovsky, 1986)

Menonton film-film dari Andrei Tarkovsky tidak mpernah merupakan perjalanan yang mudah. Tarkovksy yang dikenal juga sebagai sutradara terbaik asal Russia setelah zamannya Sergei Eisenstein selalu menggunakan tema-tema religius atau setidaknya berkaitan dengan hal-hal spiritual serta humanis.

The Sacrifice sendiri adalah film kelima Tarkovksy yang gue tonton. Meskipun telah 4 kali sebelumnya menonton film-filmnya, dan sudah lumayan akrab dengan gaya penceritaannya, tetap saja The Sacrifice bukan film yang mudah untuk dilahap bulat-bulat sebagai hiburan apalagi dengan durasinya yang cukup panjang yaitu sekitar 2,5 jam. Tapi selalu saja timbul rasa senang yang ditimbulkan dalam sulitnya menonton film Tarkovsky.

Ceritanya sendiri adalah tentang seorang pensiunan aktor sekaligus pujangga yang pada hari ulang tahunnya dihadiri oleh anak perempuan, istrinya, teman2nya, dan seorang tukang pos. Pada saat pesta berlangsung terdengar kabar dari televisi bahwa perang telah pecah. Semua diceritakan dengan lambat, namun dengan adegan2 yang dikomposisi begitu elegan dan indah, diselingi keheningan2 sesaat. Ketika karakter2nya berbicara, pastilah akan terjadi monolog2 yang lumayan panjang mengenai arti dan kualitas hidup, serta bagaimana mereka akan mewarisi masa depan kelak ke generasi berikutnya dimana bayangan mereka akan sulit karena perang yang akan berlangsung.

Sampai suatu saat, mantan aktor tersebut memohon kepada Tuhan agar perang dan kekacauan dimuka bumi ini dapat dihilangkan walaupun dengan “mengorbankan” diri, keluarga, bahkan rela untuk tidak akan berbicara lagi sepanjang sisa umurnya.Dan pada saat kegalauan hatinya itu datanglah si tukang pos yang pembawaannya rada mistis di sepanjang film ini untuk memberitahukan kepada si mantan aktor bahwa keinginannya tersebut dapat dikabulkan dengan suatu cara yang lumayan aneh which I won’t reveal.

Film-film Tarkovsky umumnya atau The Sacrifice pada khususnya mungkin bukanlah jenis film yang kebanyakan orang mau menontonnya, tapi untuk mereka yang mau mengambil resiko akan menemukan “reward” yang setimpal. Semuanya berbalik ke diri kita sebagai penonton untuk dapat berempati kepada karakter2 dalam film ini, dan Tarkovsky selalu menolak untuk menggunakan cara bernarasi standar untuk memaksa penonton untuk terserap ke film-filmnya.

Film ini sendiri merupakan film terakhir Tarkovsky dan dikerjakan pada saat dia sedang sakit berat karena gangguan otak. Dan ketika film ini masih di ruang editing, Tarkovsky pun sedang tergolek lemah di suatu Rumah Sakit di Paris. Dibuat di Swedia dimasa Tarkovsky sedang diasingkan oleh pemerintahnya sendiri, tepatnya di Pulau Faro yaitu pulau tempat tinggal sutradara Ingmar Bergman dan dimana Bergman membuat mayoritas film-filmnya, juga Tarkovsky menggunakan jasa sinematografer langganan Bergman yaitu Sven Nykvist sehingga wajar kalau film ini terasa sekali bergmanesque-nya.

This is the kind of movie who works the magic on the mind of the audiences. And it is leaving us free to participate only if we want to. Mmmm it looks like a “sacrifice” too to me as the audience. Take it or leave it. (***1/2, Superb and it’s a must see)

Leave a Reply