My Own Private idaho (Gus Van Sant, 1991)

Di malam yang dingin dan gelap sepi, gue menontonnya bersama seorang teman gue. Tersirat dibagian “Opening” film bahwa film ini akan merupakan sebuah Gay film. But it’s not all about gay, karena ternyata film ini lebih merupakan film yang mengangkat kisah orang2 buangan yang jarang kita perdulikan walau ada di sekitar kita, dan kebetulan karakter2 dalam film ini adalah pelacur2 jalanan yang juga melayani birahi para lelaki hidung belang. Walaupun dua karakter sentral adalah pelacur, namun film ini juga bukan melulu soal sex nya, dimana sex tidak terlalu menrik perhatian dari Mike (River Phoenix) dan Scott (Keanu Reeves). Apa yang mereka mau adalah redemption to be loved. Mike yang ditinggal pergi oleh ibu nya membutuhkan figur yang dapat mencintai, menyayangi dan peduli padanya, either it is a he or a she. Sedangkan Scott yang notabene dari keluarga kaya dan hanya tinggal menunggu warisan merasa cinta yang ada dalam keluarganya palsu sehingga dia melacur untuk menjauhkan diri dari keluarga.

Mike sendiri menderita penyakit Narcolepsy dimana pada film ini jika dia mengalami suatu peristiwa tertentu dia akan tiba-tiba tertidur dimana saja dan membutuhkan pertolongan bahkan dari orang asing untuk menggotongnya. Dengan penyakitnya itu, Mike banyak kehilangan momen2 penting dalam pengembangan hidupnya karena pada beberapa momen penting itu dia dia tertidur. Bahkan di saat sedang akan melayani seorang klien, Mike pun sering tertidur.

Persahabatan antara keduanya pun terjadi. Dan kehidupan mereka sehari2 dijalani dengan pengalaman2 unik, antara lainnya ketika Mike harus melayani klien yang mempunyai fetishism terhadap kebersihan sehingga Mike harus membersihkan atau menggosok perkakas rumah si klien agar si klien mendapat kepuasan. Perjalanan mereka pun sampai pada saat Mike mengetahui bahwa ibunya telah pindah ke Italia, dan mereka berdua sepakat untuk menyusul ibu Mike ke Italia.

Film ini sendiri tidak mempunyai alur cerita standar a la Hollywood dengan dialog2 yang mudah dicerna pula. Terlihat dari komentar2 dari teman gue yang tampaknya belum terbiasa menonton film-film dengan gaya art-house. Ketika gue tanyakan kenapa, teman gue bilang bingung karena banyak scene yang terasa jumping dan sering tiba-tiba scene berpindah sangat cepat dari satu kejadian ke kejadian lain dan dialog2 yang ada terdengar rumit dimengerti, serta banyak tingkah lau yang menurut teman gue aneh dan ga penting yang harusnya bisa langsung to the point aja.

Mencermati komentar teman gue, gue jadi teringat film2nya Federico Fellini yang mempunyai gaya sejenis dengan film ini dan umumnya film2 lain dari Mr. Van Sant. Tidak ada suatu alur cerita, lebih ke observasi karakter2nya, jalan ceritanya berjalan secara episodik dimana scene berganti tanpa ada hubungan langsung dengan scene sebelumnya, gue sendiri menanyakan pada etman gue apakah dia merasa kalau scene dalam filmnya berjalan lambat pada suatu kasus namun bila akan pindah ke persoalan berikutnya, adegannya berpindah dengan cepat dan sering membuat teman gue bingung karena dia masih mencoba menyambungkan scene yang sekarang dengan scene sebelumnya dimana jelas ga akan pernah nyambung dan teman gue merasa dipermainkan.

Since I cathegorize this movie as an art-house, dapat dimengerti sinematografi yang dilakukan oleh Mr. Van Sant pun terlihat tidak biasa. Mencengangkan pada momen “Having Sex”, Mr. Van Sant mengambilnya dengan tehnik still photography layaknya sebuah film fenomenal “La Jetee” dari Chris Marker, very creative and it doesn’t feel obscene too. (***, a good…good…good movie)

Leave a Reply