Les Vacances De Monsieur Hulot / Mr Hulot’s Holidays (Jacques Tati, 1954)

Disaat lagi muak sama komedi slapstick macem yang sering diputer di tivi2 Indonesia macem Extravaganza, atau komedi dari para pemenang API (Akademi Pelawak Indonesia), suatu malam gue berakhir dengan menonton film ini. Mendengar sekilas tentang Jacques Tati yang filmnya banyak disanjung2 oleh para kritikus handal dunia macem Ebert dan Rosenbaum di bayangan gue adalah sebuah komedi kelas berat berbau satir atau black comedy macem Dr Strangelove atau Discreet Charm of Bourgeoisie nya Bunuel dimana kalo nonton dua film tersebut dijamin ga bakal ketawa kalo ag ngerti situasi dan kondisi dunia saat film tersebut dibuat alias nonton film komedi aja perlu berwawasan luas.

Kebayang dong bakalan berat nih malem gue nonton film komedi , item putih, dari Perancis, satu dari sedikit sekali film komedi yang pernah dapet Palme D’or nya Cannes film festival yang merupakan piala tertinggi di festival tersebut. Apa yang gue bayangin hilang semua bahkan pada menit pertama film ini dimulai.

Scene pertama memperlihatkan segerombolan orang yang karena saking gapteknya mesti pusing banget untuk menentukan naik kereta dari jalur yang mana, karena saat nunggu di jalur yang satu ternyata keretanya malah berhenti di jalur sebelahnya, eh pindah ke jalur sebelah ternyata kereta ga berhenti juga. Yang gue tangkep adalah Tati mencoba menyindir kehidupan manusia yang mulai diperbudak oleh teknologi sehingga membingungkan manusia itu sendiri.

Terlihat slapstick namun kalo diperhatikan komedi slapstick Tati bukan slapstick kacangan macem Extravaganza dimana orang dibuat ketawa karena seseorang dicela2 karena kekurangannya atau ketawa karena seseorang ditoyor2 dan di keplak macem Srimulat. SEmua komedi dalam film ini diatur sedemikian rupa sehingga kekonyolan yang ada bukan timbul karena kebodohan yang banal namun karena situasi dan kondisi yang terjadi pada film tersebut. Terdengar ngawur?Emang karena kita lagi nyoba ngereview film komedi dimana ga bakal lucu sampe kita lihat sendiri.

Inti dari filmnya sendiri adalah mengenai keseharian Mr Hulot dalam liburannya di suatu pantai. Film ini bekerja nyaris seperti film bisu, dengan sangat sedikit dialog yang terjadi, kalo ada pun kadang terdengar sayup2 ajah, dengan diiringi musik yang cenderung diulang2, sedikit miriplah dengan film2nya Chaplin dan Buster Keaton atau Mr Bean kalo sekarang2 ini (I strongly feel that Mr. Atkinson is one of Tati’s admirer).

Herannya dimana biasanya slapstick comedy biasanya sangat predictable, kekonyolan film ini sangat tidak terduga, bahkan terkadang gue sampe takjub dengan kekonyolan yang ada di layar tivi gue. Satu contoh adalah pada saat Mr Hulot sedang mengecat perahu di pinggir pantai dimana air laut mulai pasang. Saat akan mencelupkan kuasnya ke dalam kaleng cat kembali ternyata kalengnya berpindah ke sisi sebrang perahu tersebut dan Hulot yang terlihat lucu hanya bisa menggeleng heran knapa cat bisa berpindah ke sisi lain.

Terdengar bodoh? Tentu saja karena blom nonton sendiri, karena gue merasa ajaib sekali Tati bisa bikin scene seperti itu dimana adegan itu merupakan sebuah “long take” yang dibuat tanpa adanya cut sekalipun. Sudah mulai terbayang kan bagaimana “meticulous” Tati dalam membuat komedi dalam film2nya, dan masih banyak scene2 lain yang membuat gue terlonjak heran (berlebai amat si Yuk). Karena seperti kata Terry Jones (one of the Monty Python guys) bilang, “I never thought that a comedy can be both funny and beautiful”, yes Terry that’s exactly what I felt when I watched the movie.

Film ini sendiri merupakan film panjang (more than 70 minutes) kedua Tati setelah Jour de F’ete dan sebelum Mon Oncle (which I just recently bought). Tati sendiri sepanjang 20 tahun karirnya di perfilman hanya membuat 6 buah film. Selayaknya seorang “true auteur (director who writes their own screenplay)” Tati selalu membuat jenis film yang sama yaitu physical comedy. Komedinya sering merupakan kritik terhadap manusia2 yang hidupnya dikuasai oleh teknologi namun belum siap, atau tepatnya bagaimana teknologi malahan dapat membuat manusia berbuat hal-hal yang konyol. Tapi konyolnya Tati ga perlu tuh memperlihatkan adegan2 dimana Mr Hulot didorong seseorang sampe tiba2 ada di paha seorang cewek sambil merem-melek. This movie is truly a gem waiting to be discovered. One of my all time fave. (****, a masterpiece)

3 Responses to “Les Vacances De Monsieur Hulot / Mr Hulot’s Holidays (Jacques Tati, 1954)”

  1. TonyHotland Says:

    Umm, I think Extravaganza is fresh and funny. Thank you. (Basi ya komentar gue, hehehe). Yuki, but I love Extravaganza :)

  2. Yuki Says:

    hehehe, kan lo orangnya gampang ketawa ton…

  3. Ngkud The Idiot Says:

    gw setuju banget bahwa Extravaganza itu sucks. Where’s the humor in that. Damn…people in our country are sooo uneducated.

Leave a Reply