Archive for August, 2005

Offret - Sacrificatio / The Sacrifice (Andrei Tarkovsky, 1986)

Wednesday, August 24th, 2005

Menonton film-film dari Andrei Tarkovsky tidak mpernah merupakan perjalanan yang mudah. Tarkovksy yang dikenal juga sebagai sutradara terbaik asal Russia setelah zamannya Sergei Eisenstein selalu menggunakan tema-tema religius atau setidaknya berkaitan dengan hal-hal spiritual serta humanis.

The Sacrifice sendiri adalah film kelima Tarkovksy yang gue tonton. Meskipun telah 4 kali sebelumnya menonton film-filmnya, dan sudah lumayan akrab dengan gaya penceritaannya, tetap saja The Sacrifice bukan film yang mudah untuk dilahap bulat-bulat sebagai hiburan apalagi dengan durasinya yang cukup panjang yaitu sekitar 2,5 jam. Tapi selalu saja timbul rasa senang yang ditimbulkan dalam sulitnya menonton film Tarkovsky.

Ceritanya sendiri adalah tentang seorang pensiunan aktor sekaligus pujangga yang pada hari ulang tahunnya dihadiri oleh anak perempuan, istrinya, teman2nya, dan seorang tukang pos. Pada saat pesta berlangsung terdengar kabar dari televisi bahwa perang telah pecah. Semua diceritakan dengan lambat, namun dengan adegan2 yang dikomposisi begitu elegan dan indah, diselingi keheningan2 sesaat. Ketika karakter2nya berbicara, pastilah akan terjadi monolog2 yang lumayan panjang mengenai arti dan kualitas hidup, serta bagaimana mereka akan mewarisi masa depan kelak ke generasi berikutnya dimana bayangan mereka akan sulit karena perang yang akan berlangsung.

Sampai suatu saat, mantan aktor tersebut memohon kepada Tuhan agar perang dan kekacauan dimuka bumi ini dapat dihilangkan walaupun dengan “mengorbankan” diri, keluarga, bahkan rela untuk tidak akan berbicara lagi sepanjang sisa umurnya.Dan pada saat kegalauan hatinya itu datanglah si tukang pos yang pembawaannya rada mistis di sepanjang film ini untuk memberitahukan kepada si mantan aktor bahwa keinginannya tersebut dapat dikabulkan dengan suatu cara yang lumayan aneh which I won’t reveal.

Film-film Tarkovsky umumnya atau The Sacrifice pada khususnya mungkin bukanlah jenis film yang kebanyakan orang mau menontonnya, tapi untuk mereka yang mau mengambil resiko akan menemukan “reward” yang setimpal. Semuanya berbalik ke diri kita sebagai penonton untuk dapat berempati kepada karakter2 dalam film ini, dan Tarkovsky selalu menolak untuk menggunakan cara bernarasi standar untuk memaksa penonton untuk terserap ke film-filmnya.

Film ini sendiri merupakan film terakhir Tarkovsky dan dikerjakan pada saat dia sedang sakit berat karena gangguan otak. Dan ketika film ini masih di ruang editing, Tarkovsky pun sedang tergolek lemah di suatu Rumah Sakit di Paris. Dibuat di Swedia dimasa Tarkovsky sedang diasingkan oleh pemerintahnya sendiri, tepatnya di Pulau Faro yaitu pulau tempat tinggal sutradara Ingmar Bergman dan dimana Bergman membuat mayoritas film-filmnya, juga Tarkovsky menggunakan jasa sinematografer langganan Bergman yaitu Sven Nykvist sehingga wajar kalau film ini terasa sekali bergmanesque-nya.

This is the kind of movie who works the magic on the mind of the audiences. And it is leaving us free to participate only if we want to. Mmmm it looks like a “sacrifice” too to me as the audience. Take it or leave it. (***1/2, Superb and it’s a must see)

Raise The Red Lantern (Zhang Yimou, 1990)

Wednesday, August 24th, 2005

Film keempat dan yang membuat perhatian dunia menoleh kepada film-filmnya Yimou kalo boleh dibilang adalah film ini, Raise the Red Lantern. And it’s damn one of the most sublimely and disturbing movie I’ve ever seen.

Ceritanya sendiri sebenarnya sederhana ajah.. Setting film ini adalah pada zaman feodalisme di Cina.Songlian yang diperankan oleh Gong Li adalah gadis yang lahir dari keluarga pas-pasan dan sempat menimba ilmu sebentar di suatu universitas. Ibunya meminta Songlian untuk mau dinikahi oleh seorang tuan tanah yang telah mempunyai tiga istri lainnya.

Kehidupan Songlian yang baru sekarang menjadi sangat terbatas dimana dia hanya dapat bertemu dan berinteraksi dengan istri-istri tuan tanah lainnya, beberapa pembantu dan juga kawan tuan tanah tersebut. Seperti hidup dalam Sangkar Emas dimana kebutuhan materi Songlian sangat terpenuhi namun batin merasa tersiksa.

Songlian sendiri didampingi oleh seorang pembantu pribadi yang ga suka kepadanya karena sang pembantu menggap bahwa seharusnya dialah yang menjadi selir terbaru dari tuan tanah itu dan bukan Songlian. Ditambah lagi tradisi menyalakan Red Lantern terhadap rumah istri yang mana yang akan diinapi sang tuan tanah pada malam tersebut, membuat persaingan diantara istri-istri tuan tanah tersebut semakin ketat.

Istri yang kedua terlihat paling baik kepada Songlian dan istri ketiga terlihat judes karena merasa dia bukan lagi istri termuda dari tuan tanah tersebut. Keadaan di istana tuan tanah tersebut pun membuat posisi istri yang paling dihormati adalah istri yang paling sering diinapi si tuan tanah sehari-harinya atau dengan kata lain yang paling sering nyala Red Lantern-nya. Permasalahan terus muncul didalam istana tersebut antara istri-istri tuan tanah tersebut dibumbui intrik-intrik persaingan kejam dari para wanita tersebut sehingga terjadilah suatu peristiwa yang menakutkan.

Film ini adalah jenis film yang dapat mempesona penonton pada saat menontonnya, namun tetap menghantui penonton berhari-hari setelah menontonnya, setidaknya itulah yang terjadi kepada gue. Dengan cerita yang sederhana namun dengan tema dan emosi yang kompleks, membuat film ini terasa sebagai film yang akan dibuat Ingmar Bergman jika Ingmar diberikan kesempatan untuk membuat film dengan cerita dan setting di daratan Cina. One of my all time fave movie. (****, definitely positively a masterpiece)

Say Anything (Cameron Crowe, 1989)

Monday, August 15th, 2005

Gue bukan penggemar berat film dengan genre teenage romantic comedy seperti “Sixteen Candles”, “Can’t Hardly Wait”, atau “American Pie” sekalipun. Tetapi karena selalu saja enjoy dalam menonton film-filmnya Cameron Crowe selain “Jerry MacGuire”, kenapa tidak mencoba menonton film ini.

Yang ada di pikiran gue adalah film ini akan menajdi layaknya film2 remaja lainnya yang kebanyakan mengusung guyonan2 berbau seks dan kasar, atau poorly-defined subplot yang sengaja diada-adain. Dengan ekspektasi tersebut, sebenarnya terkerjut juga waktu menonton film ini. Film ini menangkap aura bagaimana sepasang remaja yang sedang jatuh cinta dimana pada banyak film remaja digambarkan terlalu berlebihan. Ceritanya berjalan natural dari hari ke hari, pasang surut kehidupan percintaan kedua karakternya yaitu Llyod (John Cusack) dan Diane (Ione Skye), tanpa ada subplot yang “tacky” seperti munculnya tiba2 mantan pacar mereka.

Cerita dalam film ini dibuka dengan Lloyd yang ingin sekali mengajak kencan Diane yang merupakan straight A student namun terperangkap didalam tubuh seorang fotomodel atau umumnya gadis cheerleader di SMA. Walau cantik namun kepintaran Diane membuatnya jarang atau nyaris tidak pernah didekati teman laki-laki di sekolahnya. Llyod ingin mengajak Diane kencan dan menghabiskan waktu sebanyak2nya sebelum Diane pergi ke Inggris untuk menjalani beasiswanya. Lloyd tertarik pada Diane bukan karena kecantikannya, namun lebih kepada kekagumannya. Sehingga tidak heran pada suatu pesta dimana banyak orang bertanya mengapa Diane mau pergi dengan Lloyd Dobler. Alasan Diane pun sederhana saja, karena Lloyd membuatnya tertawa.

Situasi kontras lainpun adalah ketika Llyod diajak makan malam bersama ayah Diane dimana Lloyd dengan lugunya menjelaskan bahwa di masa depan dia mau menjadi kick-boxer yang dia percaya akan menjadi olahraga masadepan yang digemari.

Film ini menceritakan tentang kejujuran dan ketidakjujuran, dimana Diane yang orangtuanya telah bercerai dan memilih tinggal bersama ayahnya karena yakin mereka dapat saling jujur dan terbuka. Terlihat dalam salah satu scene terbaik dalam film ini dimana Diane pulang telat tapi tidak menelpon ayahnya seperti biasa dan membuat sang ayah khawatir. Ayahnya marah namun dia masih mau mendengar alasan2 yang dikemukakan oleh Diane.

Walau alur ceritanya terdengar familiar, detail dari film inilah yang membuat film ini begitu spesial. Dialog-dialog yang cerdas dan terasa sungguhan, pengembangan karakter yang baik, believable situations, dan tidak ada yang gue rasa terlalu dieksploitasi atau dikurang-kurangi dalam film inilah antara lain yang membuatnya spesial. (***1/2, A Must See)

My Own Private idaho (Gus Van Sant, 1991)

Wednesday, August 10th, 2005

Di malam yang dingin dan gelap sepi, gue menontonnya bersama seorang teman gue. Tersirat dibagian “Opening” film bahwa film ini akan merupakan sebuah Gay film. But it’s not all about gay, karena ternyata film ini lebih merupakan film yang mengangkat kisah orang2 buangan yang jarang kita perdulikan walau ada di sekitar kita, dan kebetulan karakter2 dalam film ini adalah pelacur2 jalanan yang juga melayani birahi para lelaki hidung belang. Walaupun dua karakter sentral adalah pelacur, namun film ini juga bukan melulu soal sex nya, dimana sex tidak terlalu menrik perhatian dari Mike (River Phoenix) dan Scott (Keanu Reeves). Apa yang mereka mau adalah redemption to be loved. Mike yang ditinggal pergi oleh ibu nya membutuhkan figur yang dapat mencintai, menyayangi dan peduli padanya, either it is a he or a she. Sedangkan Scott yang notabene dari keluarga kaya dan hanya tinggal menunggu warisan merasa cinta yang ada dalam keluarganya palsu sehingga dia melacur untuk menjauhkan diri dari keluarga.

Mike sendiri menderita penyakit Narcolepsy dimana pada film ini jika dia mengalami suatu peristiwa tertentu dia akan tiba-tiba tertidur dimana saja dan membutuhkan pertolongan bahkan dari orang asing untuk menggotongnya. Dengan penyakitnya itu, Mike banyak kehilangan momen2 penting dalam pengembangan hidupnya karena pada beberapa momen penting itu dia dia tertidur. Bahkan di saat sedang akan melayani seorang klien, Mike pun sering tertidur.

Persahabatan antara keduanya pun terjadi. Dan kehidupan mereka sehari2 dijalani dengan pengalaman2 unik, antara lainnya ketika Mike harus melayani klien yang mempunyai fetishism terhadap kebersihan sehingga Mike harus membersihkan atau menggosok perkakas rumah si klien agar si klien mendapat kepuasan. Perjalanan mereka pun sampai pada saat Mike mengetahui bahwa ibunya telah pindah ke Italia, dan mereka berdua sepakat untuk menyusul ibu Mike ke Italia.

Film ini sendiri tidak mempunyai alur cerita standar a la Hollywood dengan dialog2 yang mudah dicerna pula. Terlihat dari komentar2 dari teman gue yang tampaknya belum terbiasa menonton film-film dengan gaya art-house. Ketika gue tanyakan kenapa, teman gue bilang bingung karena banyak scene yang terasa jumping dan sering tiba-tiba scene berpindah sangat cepat dari satu kejadian ke kejadian lain dan dialog2 yang ada terdengar rumit dimengerti, serta banyak tingkah lau yang menurut teman gue aneh dan ga penting yang harusnya bisa langsung to the point aja.

Mencermati komentar teman gue, gue jadi teringat film2nya Federico Fellini yang mempunyai gaya sejenis dengan film ini dan umumnya film2 lain dari Mr. Van Sant. Tidak ada suatu alur cerita, lebih ke observasi karakter2nya, jalan ceritanya berjalan secara episodik dimana scene berganti tanpa ada hubungan langsung dengan scene sebelumnya, gue sendiri menanyakan pada etman gue apakah dia merasa kalau scene dalam filmnya berjalan lambat pada suatu kasus namun bila akan pindah ke persoalan berikutnya, adegannya berpindah dengan cepat dan sering membuat teman gue bingung karena dia masih mencoba menyambungkan scene yang sekarang dengan scene sebelumnya dimana jelas ga akan pernah nyambung dan teman gue merasa dipermainkan.

Since I cathegorize this movie as an art-house, dapat dimengerti sinematografi yang dilakukan oleh Mr. Van Sant pun terlihat tidak biasa. Mencengangkan pada momen “Having Sex”, Mr. Van Sant mengambilnya dengan tehnik still photography layaknya sebuah film fenomenal “La Jetee” dari Chris Marker, very creative and it doesn’t feel obscene too. (***, a good…good…good movie)

Les Vacances De Monsieur Hulot / Mr Hulot’s Holidays (Jacques Tati, 1954)

Tuesday, August 9th, 2005

Disaat lagi muak sama komedi slapstick macem yang sering diputer di tivi2 Indonesia macem Extravaganza, atau komedi dari para pemenang API (Akademi Pelawak Indonesia), suatu malam gue berakhir dengan menonton film ini. Mendengar sekilas tentang Jacques Tati yang filmnya banyak disanjung2 oleh para kritikus handal dunia macem Ebert dan Rosenbaum di bayangan gue adalah sebuah komedi kelas berat berbau satir atau black comedy macem Dr Strangelove atau Discreet Charm of Bourgeoisie nya Bunuel dimana kalo nonton dua film tersebut dijamin ga bakal ketawa kalo ag ngerti situasi dan kondisi dunia saat film tersebut dibuat alias nonton film komedi aja perlu berwawasan luas.

Kebayang dong bakalan berat nih malem gue nonton film komedi , item putih, dari Perancis, satu dari sedikit sekali film komedi yang pernah dapet Palme D’or nya Cannes film festival yang merupakan piala tertinggi di festival tersebut. Apa yang gue bayangin hilang semua bahkan pada menit pertama film ini dimulai.

Scene pertama memperlihatkan segerombolan orang yang karena saking gapteknya mesti pusing banget untuk menentukan naik kereta dari jalur yang mana, karena saat nunggu di jalur yang satu ternyata keretanya malah berhenti di jalur sebelahnya, eh pindah ke jalur sebelah ternyata kereta ga berhenti juga. Yang gue tangkep adalah Tati mencoba menyindir kehidupan manusia yang mulai diperbudak oleh teknologi sehingga membingungkan manusia itu sendiri.

Terlihat slapstick namun kalo diperhatikan komedi slapstick Tati bukan slapstick kacangan macem Extravaganza dimana orang dibuat ketawa karena seseorang dicela2 karena kekurangannya atau ketawa karena seseorang ditoyor2 dan di keplak macem Srimulat. SEmua komedi dalam film ini diatur sedemikian rupa sehingga kekonyolan yang ada bukan timbul karena kebodohan yang banal namun karena situasi dan kondisi yang terjadi pada film tersebut. Terdengar ngawur?Emang karena kita lagi nyoba ngereview film komedi dimana ga bakal lucu sampe kita lihat sendiri.

Inti dari filmnya sendiri adalah mengenai keseharian Mr Hulot dalam liburannya di suatu pantai. Film ini bekerja nyaris seperti film bisu, dengan sangat sedikit dialog yang terjadi, kalo ada pun kadang terdengar sayup2 ajah, dengan diiringi musik yang cenderung diulang2, sedikit miriplah dengan film2nya Chaplin dan Buster Keaton atau Mr Bean kalo sekarang2 ini (I strongly feel that Mr. Atkinson is one of Tati’s admirer).

Herannya dimana biasanya slapstick comedy biasanya sangat predictable, kekonyolan film ini sangat tidak terduga, bahkan terkadang gue sampe takjub dengan kekonyolan yang ada di layar tivi gue. Satu contoh adalah pada saat Mr Hulot sedang mengecat perahu di pinggir pantai dimana air laut mulai pasang. Saat akan mencelupkan kuasnya ke dalam kaleng cat kembali ternyata kalengnya berpindah ke sisi sebrang perahu tersebut dan Hulot yang terlihat lucu hanya bisa menggeleng heran knapa cat bisa berpindah ke sisi lain.

Terdengar bodoh? Tentu saja karena blom nonton sendiri, karena gue merasa ajaib sekali Tati bisa bikin scene seperti itu dimana adegan itu merupakan sebuah “long take” yang dibuat tanpa adanya cut sekalipun. Sudah mulai terbayang kan bagaimana “meticulous” Tati dalam membuat komedi dalam film2nya, dan masih banyak scene2 lain yang membuat gue terlonjak heran (berlebai amat si Yuk). Karena seperti kata Terry Jones (one of the Monty Python guys) bilang, “I never thought that a comedy can be both funny and beautiful”, yes Terry that’s exactly what I felt when I watched the movie.

Film ini sendiri merupakan film panjang (more than 70 minutes) kedua Tati setelah Jour de F’ete dan sebelum Mon Oncle (which I just recently bought). Tati sendiri sepanjang 20 tahun karirnya di perfilman hanya membuat 6 buah film. Selayaknya seorang “true auteur (director who writes their own screenplay)” Tati selalu membuat jenis film yang sama yaitu physical comedy. Komedinya sering merupakan kritik terhadap manusia2 yang hidupnya dikuasai oleh teknologi namun belum siap, atau tepatnya bagaimana teknologi malahan dapat membuat manusia berbuat hal-hal yang konyol. Tapi konyolnya Tati ga perlu tuh memperlihatkan adegan2 dimana Mr Hulot didorong seseorang sampe tiba2 ada di paha seorang cewek sambil merem-melek. This movie is truly a gem waiting to be discovered. One of my all time fave. (****, a masterpiece)

Film Kambing Daging Klasik

Monday, August 8th, 2005

Dulu gue selalu menghindari untuk nyoba makan kambing, alasannya karena yahhh ga biasa aja, atau cuma denger-denger kalo kambing itu bakalan bau dan ga enak kalo yang masak ga jago atau cuma enak kalo dibikin kambing guling. Hal-hal tersebut sedikitnya menambah keyakinan gue untuk mangkin ga pengen nyoba dagingnya. Tapi suatu hari di puncak dimana pada suatu acara rutin jurusan tiap tahun, ngiler juga nyium baunya apalagi ngeliat orang ngantri panjang banget untuk berebut walau dapet cuma secuil. Eh gue iseng deh pengen coba, yah emang ga empuk kayak sapi dan ayam tapi dalam hati menjerit, GINI DOANG NIH RASANYA!, hehehe setidaknya gue dah tau dan nyoba suatu hal yang gue coba hindarin dari dulu.

Loh apa hubungannya sama blog ini yang katanya ngebahas tentang film? Pengennya si nyambung pada pendapat beberapa teman baik gue yang gue tau suka banget sama yang namanya film. Yang satu kalo diitung kuat2an nonton film dalam sehari jelas gue bisa kalah telek (gila 4-5 film semalem juga dijabanin), yang satu lagi rajanya nonton ke bioskop tiap minggu (gue terakhir nonton apa ya???Ocean’s Eleven, eh Jiffest diitung ga si, abis gratis). Tapi kalo udah ditawarin untuk nonton klasik (gue ngebatesin film2 yang dibuat sebelum era 80-an yah, dimana banyak film scholar bilang that 70’s is the last decade of great american cinema), mulai deh temen2 gue pada merengut. Alasannya simple banget, ga suka aja ngeliat gaya orang2nya, atau aneh aja orang2 jaman dulu, atau ada lagi alasannya itu kan berat yukkk, tapi pas ditanya emang pernah nonton trus ga suka apa feeling aja. Jawabannya sama kayak alasan gue dulu ga pengen nyoba kambing barang sedikitpun. Ga pernah nonton si, tapi keliatannya begitu, atau item putih kayaknya ga seru aja.

Kita baru aja ngelewatin abad pertama dari sejarah perkembangan film. Dan kebanyakan orang stuck aja diantara film2 baru atau jaman sekarang atau yang baru2 aja berlalu (80an dan 90an masuk sini deh). Ketika orang-orang bilang film favorit mereka “The Matrix”, “Lord of the Ring”, “Troy”, atau “Memento” serta “Trainspotting” yang fenomenal itu, gue berpikir “wah coba mereka ngerasain yah senangnya dan ga kalah rumit or ribetnya atau menyentuh serta kerennya film-film dari Luis Bunuel, Fritz Lang, Orson Welles, Ingmar Bergman, Kurosawa, Hithcock, dan Ozu.” Kalo ngaku suka Matrix coba deh liat Lang’s “Metropolis” , “Kubrick’s 2001:A Space Odyssey” atau Tarkovsky’s “Solaris” yang menjadi pelopor perkembangan film-film sci-fi zaman sekarang, atau Bergman’s “Persona” dan “The Seventh Seal” yang ga kalah rumitnya (lebih mungkin) dari “Memento” atau “Trainspotting”, dan B DeMille’s “The Tenth Commandment” yang epiknya jauh lebih heboh dari “Troy” skalipun.

Emang orang beda-beda. Tapi sebagai orang2 yang mengaku mencintai film seperti teman2 gue diatas yang jelas alasan nonton film adalah bukan sekedar pengen rileks dan mendapat hiburan aja, alasan males bisa dijadiin ukuran. Gue sendiri pribadi menonton film karena di film gue bisa ngeliat hal-hal baru yang ga pernah atau jarang ada di kehidupan gue sehari-hari, itung-itung nambah pengetahuan lah, pengen dihibur tanpa ngerasa digoblokin (dimana film2 kayak Girls Next Door dan Dumb and Dumberer bisa ngerusak mood suatu hari dalam hidup gue), atau ngeliat satu atau beberapa topik yang jarang kita perhatiin dalam hidup sehari2 dilempar begitu tajam pada suatu film sehingga pada akhir film tersebut gue dapat merasakan sesuatu perasaan yang menekan di dada gue (hiperbolis abis).

Gue percaya kalo setiap orang lahir dengan rasa pengen tau yang tinggi (apalagi orang Indonesia,hehehe), dan kan bosen kalo dikasih sesuatu yang itu-itu aja. Film dibuat udah seratus taon lebih, ada yang bisu ada yang bisa ngomong, ada yang item putih ada yang warna warni, ada yang berbahasa Inggris ada juga yang berbahasa laen. Terus kenapa kita mesti perduli dan penasaran sama harus nonton film karena film itu box-office loh katanya di Amrik sono noh. Bagus, Jelek, atau biasa-biasa ajah kalo dah nongkrong di nomer 1 box-office Amrik berarti mesti ditonton. Akibatnya begini nih, mayoritas studio film di Amrik sono berpikiran uang doang, bikin film gede-gedean pasti dong settingnya bakalan keren abis atau bikin special effect ajah kan komputer mangkin canggih tuh, kalo dah begini orang banyak dateng dan untung gede. Cerita mah nomer dua ajeh, comot ajeh cerita dari film-film klasik jaman dulu atau skalian remake film-film dari negara laen yang denger-denger si sukses berat sampe ngalahin Titanic. Membuat daku jadi berpikir, emang kalo suatu film jadi box-office ada ngaruhnya di hidup gue?kan yang untung orang2 bule sono noh, lagian kan ada film box office bukan cerita baru lagi, knapa kita mesti ribet kalo denger ada suatu film itu box office, emang ada yah hubungan antara film box-office sama kualitas filmnya sendiri? jadinya sering aja tuh gue mendengar, ah ternyata “Troy” kampungan deh, “Alexander” basi amat si ngomong doang isinya, atau “Day after Tomorrow” gile banget special effectnya tapi ceritanya kok berlebai gitu si. Awal-awalnya gue juga selalu penasaran si pengen tau aja gila ni film untungnya 5 kali lipet modalnya, pasti ada suatu yang bagus deh, eh gitu ajah. Lama-lama bosen juga yah nonton film- baru apalagi bikinan Hollywood, kok kayaknya cuman ngulang2 tema dan cerita yang bahkan belom terlalu lama baru di film in. Sampe akhirnya gue dah berhenti (walau blom berhenti sama skali) untuk menonton film2 baru terutama keluaran Hollywood.

Ngelanjutin topik awalnya,dulu gue juga berasa males aja ngeliat sesuatu yang item putih dengan orang berlalu lalang pake baju2 tempo doeloe dan ngomongin hal-hal yang dah basi banget, dan pada saat dilanda kebosanan akan film2 Hollywood, lagi asik2 ngubek DVD di Mangga Dua coba ahh iseng beli film jaman dulu, Citizen Kane bagus kali yeee, eh tapi ada Vertigonya Hitchcock yang katanya mbahnya film2 drama misteri, ambil juga deh lagian murah ini gocenk kalo ga suka tinggal lempar aja ke tong sampah (kita lagi ga ngebahas setuju ga sama DVD bajakan yah). Nonton dua film tersebut awal-awalnya ngerasa paittt banget, karena otak berasa butek kelamaan dicekokin sama film-film Hollywood yang mempunyai standar membuat tiga pembabakan dalam film2nya. Opening ngasih kasus, middle mecahin kasus plus ditambah jagoan ganteng dan cantik yang tetap rapi jali etelah berantem abis-abisan, Ending jagoan menang, semua tertawa gembira, bergandengan tangan, pesta-pesta, dan pulang menyongsong matahari terbenam. Tanpa terasa waktu berjalan film-film tersebut terasa mangkin menggigit dan menggugah rasa ingin tau gue untuk tetap fokus pada layar tipi sampai pada endingnya gue terbengong ngeliat apa yang gue saksikan dengan mata kepala sendiri. Iya film klasik itu item putih, tapi ga berarti film2 itu ga menarik kan, karena gue sendiri merasakan film2 tsbt lebih jujur dan orisinil dalam menyampaikan suatu cerita tanpa perlu menambahkan bumbu2 biar film makin dramatis atau spesial efek yang bisa bikin penonton terpana tanpa ngeliat lagi intinya film itu apa si. Film2 itu tetep menghibur dan menggugah rasa ingin tau gue samapi ada tulisan “The End” muncul di tipi. Tapi itu mungkin selera lo aja kali Yuk, hello kan gue juga dulunya sama aja, males juga tapi tanpa tau sendiri kenapa gue ga suka dan cuma denger kata orang…hehehe. Atau ya hidup udah susakh ngapain lagi ditambah dengan nonton film yang berat-berat apalagi item putih dan klasik, loh knapa kalo gitu lo baca tulisan gue sampe sini, hueheuheuehue, pasti dong penasaran juga, atau tapi kan gue ga tau mau mulai dari nonton yang judulnya apa ntar jelek lagi tau-taunya dah ngeluarin duit, yah emang ga ga semua film klasik itu semuanya bagus juga banyak juga yang “dated” atau dimakan zaman, saran gue mah coba aja dulu sama film2 yang dah melegenda seperti Citizen Kane, film2nya Hitchcock, atau Kurosawa, secepatnya kalo kita dah terbuai, terlena dan tersentuh dengan film2 klasik tersebut dijamin bakalan makin penasaran sama film2 sutradara besar lainnya yang lebih rumit seperti film2nya Ingmar Bergman, Andrei Tarkovsky, dan Federico Fellini sudah menunggu untuk dilahap selanjutnya (kalo dah ditahap ini mah boleh dong gue pinjem2 DVD situ atau nonton bareng). Intinya coba dulu deh, sama kayak gue sama kambing dimana setidaknya gue tau gue ga suka kambing ternyata emang bener baunya rada amis, dan ga empuk karena gue dah nyoba sendiri.

Sekian dan Terima Kasih

Apur Sansar / World of Apu (1959, Satyajit Ray)

Monday, August 8th, 2005

Ini adalah film ketiga dalam trilogi yang dikenal luas sebagai Apu Trilogy. Setelah ditinggal mati oleh kakak perempuannya dalam “Pather Panchali” dan kedua orang tuanya dalam “Aparajito”, kali ini filmnya dimulai ketika Apu dikisahkan baru lulus dari kuliah dengan shot pertama dari film ini yang memperlihatkan Apu mendapatkan sebuah surat rekomendasi dari dosennya. Apu diyakini oleh sang dosen adalah pribadi yang pintar, rajin dan sangat berbakat dalam menulis. Dan kini Apu siap untuk merasakan beratnya perjuangan hidup di luar kampus sana.

Film ini sendiri terbagi atas tiga babak, babak pertama adalah perjalanan hidup Apu semenjak lulus sampai suatu saat diajak oleh salah satu mantan teman sekampusnya untuk ikut serta sang teman dalam mengunjungi salah satu saudaranya yang akan menikah yaitu seorang gadis bernama Aparna. Saudara dari teman Apu itu harus menikah pada hari itu juga berdasarkan perhitungan astrologi yang telah dilakukan atau tidak akan menikah lagi seumur hidup karena akan dikutuk. Ternyata calon suami yang sekiranya akan dijodohkan dengan Aparna mempunyai gangguan mental, sehingga Pulu yang teman kuliah Apu memohon agar Apu mau menikahi Aparna. Mungkin terdengar aneh bagi kita yang hidup di kota besar dan zaman sekarang mengapa Apu mau saja menikahi seorang gadis yang tidak dia kenal bahkan belum pernah sekalipun ngobrol dengan gadis tersebut. Namun begitulah keadaan India pada era tersebut dimana “arranged marriage” adalah hal yang sangat lumrah demi pertimbangan agama maupun adat istiadat.

Pada babak kedua film ini, Apu yang rencananya pergi keluar kota untuk ikut mengunjungi saudara temannya yang akan menikah, balik ke Calcutta dengan membawa seorang istri, dan disinilah babak kedua dala film ini dimulai yaitu mengenai kehidupan percintaan Apu dengan Aparna yang pada hari2 awal pernikahan mereka adalah sepasang orang asing yang dipersatukan oleh keadaan, namun hal tersebut tidak menghalangi tumbuhnya rasa cinta diantara keduanya. Dialog pada babak ini sangat romantis dan herannya ga basi untuk ukuran dialog film zaman sekarang dimana banyak dialog2 jujur dan menyentuh diantara keduanya.

Seperti dua film dalam Trilogy ini sebelumnya, kali ini Apu ternyata harus ditinggal mati oleh Aparna sang istri yang mulai dicintainya yang meninggal dalam proses melahirkan. Babak ketiga inilah yang menceritakan bagaimana Apu harus menjalani hari2 suram dan sedihnya setelah ditinggal Aparna, serta memori atas meninggalnya anggota keluarga Apu sebelum-sebelumnya. Kejadian ini membuat APu sama sekali hilang semangat hidup, sampai=sampai novel yang sangat dibanggakannya untuk diterbitkan kemudian hari dibuangnya begitu saja karena merasa tidak ada lagi tujuan hidup. Bahkan Apu tidak tahu bahwa anaknya yang lahir pada saat Aparna meninggal ternyata masih hidup dan dirawat oleh mertua Apu.

Terdengar sebagai film yang suram, namun Ray selalu menampilkan momen2 yang mendatangkan kebahagiaan sesaat setelah kejadian2 menyedihkan itu berakhir. Apabila di Pather Panchali setelah kematian kakak Apu, Ray menggambarkan bahwa keluarga Apu akhirnya dapat kesempatan pindah ke kota yang lebih besar untuk dapat hidup lebih layak daripada di desa. Dalam Aparajito setelah ditinggal mati ibunya akhirnya Apu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi sebagai anak nomor 2 paling cerdas di kotanya. Dan pada Apur Sansar ini momen yang diperlihatkan Ray adalah momen menyentuh pada saat Kajal yang merupakan anak dari Apu akhirnya memutuskan untuk ikut ayahnya dan semacam “family reunion” pergi ke kota besar untuk menyusun hidup baru yang lebih baik lagi. Masing-masing film dalam trilogy ini mempunyai kelebihan yang berbeda satu sama lainnya. Pather panchali adalah suatu potret paling nyata mengenai kehidupan masyarakat miskin di India, Aparajito unggul dalam pengembangan karakternya, sedangkan Apur Sansar IMHO adalah yang paling menyentuh dan menghanyutkan.

Trilogy Apu ini terutama pada saat Pather Panchali dirilis pada tahun 1956 di festival film Cannes dan langsung menyabet semua penghargaan bergengsi pada festival film tersebut, adalah momen dimana dunia sinema India mulai dikenali oleh kalangan yang lebih luas lagi di seluruh dunia seperti saat Kurosawa memperkenalkan sinema Jepang dengan Rashomon pada tahun 1950.Satyajit Ray sendiri adalah sutradara berbakat yang sebelum Pather Panchali dibuat sama skali belum pernah menyutradarai feature apapun namun sudah harus memikul beban berat sebagai sutradara dan sukses pula. Dengan kru2 yang amatiran juga Ray dapat memperlihatkan sinematographi yang indah dalam Apu Trilogy ini, mulai dari menangkap pemandangan yang indah di India, menyajikan realitas kemiskinan yang mengenaskan sampai pergerakan kamera yang sangat teliti dan mampu memperlihatkan intensitas emosi karakter2nya tanpa harus banyak berdialog. Truly a great “Pure Cinema”. One of my all time fave (****, a masterpiece)

Sweet Sixteen (2003, Ken Loach)

Monday, August 8th, 2005

Sebuah drama mengenai seorang anak lelaki berumur 15 tahun yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahun ke-16 nya dan selalu mencoba untuk menjadi orang yang baik namun selalu menemukan bahwa dunia di sekitarnya tidak membiarkan dia untuk menjadi baik. Bersetting di sebuah kota di Skotlandia dimana Liam sang remaja sedang menanti-nantikan keluarnya sang ibu dari penjara dalam awktu yang berdekatan dengan hari ulang tahunnya. Tujuannya hanya satu, ingin hidup lurus bersama ibunya, beserta kakak perempuan dan anaknya.

Saat si ibu di penjara, Liam berusaha mencari uang agar dapat membeli tempat tinggal yang layak dalam lingkungan yang baik dan jauh dari pengaruh jahat yang dapat mempengaruhi si ibu lagi yang kebetulan mempunyai pacar seorang drug dealer. Tempat tinggal pertama yang merupakan sebuah caravan dibeli Liam dari hasil menjual “Drugs” curian yang diambilnya dari sebuah gudang milik penjahat kelas kakap. Namun seseorang yang benci pada Liam membakar caravan tersebut. Liam pun mencari jalan lain untuk membeli tempat tinggal yang lain dengan cara masuk ke lingkungan gangster berpengaruh di kotanya dengan tugas membunuh sahabat karibnya, dengan imbalan apartemen lengkap beserta isinya. Masalah terus-menerus terjadi dalam hidup Liam walau niat awalnya adalah menjadi seorang yang baik dan dapat hidup layak.

Film ini sendiri disutradarai oleh Ken Loach yang sebelumnya terkenal dengan filmnya “Kes” (1969) dimana film-film Loach sebelumnya mencoba untuk menggambarkan potret kemiskinan tanpa perlu mendramatisir atau membesar-besarkannya. Semuanya dibuat natural sehingga dialog2 yang keluar dalam film ini pun seperti dialog yang kita dengar dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnya membuat kita merasa tidak ada jarak antara kita dan film ini, karena semua bagaikan realitas langsung yang dihadapkan di muka kita. Loach juga menampilkan bahwa hal-hal jahat terjadi karena sistem ekonomi yang ada di negara tersebut bukan karena para penjahat tersebut ditampilkan secara menyeramkan dengan postur fisik muka serem, otot besar, perut buncit, dan badan penuh tato layaknya mayoritas penjahat dalam film2 Indonesia atau film2nya Van Damme dan Steven Seagal serta dengan melenyapkan penjahat2 yang ada maka semua masalah akan selesai, semua orang melonjak gembira sambil menyanyi bersama menyongsong masa depan yang lebih baik. Hollywood sering menyederhanakan dunia kepada para pencinta film dengan membuat Kejahatan itu ditimbulkan oleh individu-individu, bukan oleh suatu lembaga atau institusi yang dalam film ini digambarkan kejahatan timbul karena adanya permasalahan dalam Skotlandia sebagai institusi berbentuk negara.

Pada saat filmnya berakhir, ending yang ada pun terbuka dimana ga ada sesuatu penyelesaian atas masalah2 yang telah dibuat Liam namun menyisakan banyak pertanyaan setidaknya di benak gue, “wow, di Skotlandia aja yang jauh lebih makmur dari di Indonesia masalah kemiskinan begini masih terjadi dan Liam tidak mempunyai banyak pilihan untuk keluar dari masalah tersebut, gimana yah sama orang2 miskin di negeri kita dan gimana juga mereka bertahan hidup selama ini. (***1/2, a Must See)

Il Postino / The Postman (1995, Michael Radford)

Wednesday, August 3rd, 2005

This movie works on me as Cinema Paradiso works. Film yang begitu subtle, tenang, dan sunyi namun dalam menyentuh. Mengisahkan tentang kondisi di pedesaan di pedalaman Italia pada era awa 50-an yang berisikan orang2 dengan pemikiran2 lurus dan simple, dan kehidupan yang berjalan statis, dimana wanita umumnya bekerja sebagai ibu rumah tangga atau pedagang sedangkan yang pria menjadi nelayan.

Keadaan berubah terutama untuk Mario Ruppuolo sang tokoh sentral di film ini ketika seorang penyair (poet) ternama Pablo Neruda asal Chili datang karena diusir dari negaranya karena dianggap komunis. Neruda yang puisi2nya berkisah seputar percintaan dan sisi-sisi humanis begitu dielu-elukan oleh banyak wanita. Mario yang lugu melamar kerja sebagai pengantar pos dengan berbekal rasa ingin taunya bagaimana Neruda dapat begitu dipuja wanita melalui puisinya. Sampai akhirnya Mario menjadi dekat dengan Neruda dan ingin diajarkan bagaimana caranya menulis puisi apalagi mario sedang jatuh cinta dengan gadis dari desanya juga.

Tanpa disadari Mario ternyata mempunyai bakat dalam menulis puisi sampai-sampai gadis pujaannya dapat luluh dan mau menikah dengan dirinya. Waktu berjalan dan Neruda akhirnya dapat kembali ke negaranya menyisakan kesedihan pada diri Mario yang begitu memujanya hingga Mario memutuskan bahwa dirinya akan menjadi komunis seperti idolanya itu. Film ini pun mengalun indah bagaikan puisi yang ditulis oleh Neruda sendiri.

Acting yang hebat dari Massimo Troisi yang membuat Mario sebagai tokoh yang believable dan real. Troisi sendiri sampai menunda operasi jantungnya demi berperan dalam film ini dan pada akhirnya meninggal begitu shooting film ini berakhir. Totalitas terlihat jelas dalam film ini dan diganjar pantas dengan nominasi Oscar pada 1995 dan kalah terhormat dari Nicholas Cage yang juga brillian dalam “Leaving Las Vegas”. (***1/2, a must see)

Passion of Joan of Arc (1927, Carl Theodore Dreyer)

Wednesday, August 3rd, 2005

Having heard some many praises about this movie I decided to buy and give myself a treat as a movie lover. Unlike most of silent movies which very hard to grab since the the title appear, this movie stunned me from the very first minute, even from the opening narrative text. Simply the best silent movie I ever watched. Bersama dengan Bunuel’s Un Chien Andalou dan Chaplin’s City Lights adalah 3 film bisu dideretan 100 film terbaik versi gue.

Ebert said “You cannot know the history of silent film unless you know the face of Renee Maria Falconetti. In a medium without words, where the filmmakers believed that the camera captured the essence of characters through their faces, to see Falconetti in Dreyer’s “The Passion of Joan of Arc” is to look into eyes that will never leave you.” Acting yang superb dari Falconetti adalah yang paling membuat film ini menarik, dan acting Falconetti pulalah yang membuat film ini begitu menyerap dari awal hingga akhir tanpa terasa 1 setengah jam telah berlalu. And Kael said “It may be the finest performance ever recorded on film,” Tepat sekali karena menurut gue disaat suara blum digunakan pada media film akting adalah hal paling penting untuk membuat penonton terus menonton film dan mencoba untuk mengerti cerita dari film tersebut.

Dreyer sendiri mengambil mayoritas adegan-adegan dalam film ini dengan close-up bahkan extreme close-up sehingga wajah para karakter begitu besar terlihat di layar kaca. Herannya bukannya mengganggu gue pribadi sebagai penonton malahan meningkatkan intensitas hubungan antara film ini dengan gue juga sebagai penonton. Gue pribadi dapat merasakan ketegangan, rasa sakit, dan penderitaan yang dialami Joan of Arc yang diperankan Falconetti, which in my humble opinion Dreyer did a great job.

Filmnya sendiri mengisahkan bukan mengenai petualangan atau cerita heroik saat Joan of Arc berperang mengusir Inggris yang pada saat itu sedang menjajah Perancis, namun menitikberatkan pada saat-saat akhir hayat dari Joan of Arc sendiri setelah dia tertangkap oleh orang2 dari bangsanya sendiri yang berkhianat dengan memihak Inggris dan diadili atas dasar perilakunya yang selalu berpakaian a la Pria serta atas dasar pengakuannya bahwa dia adalah utusan Tuhan dalam memperjuangkan kemerdekaan Perancis dari tangan penjajahnya lewat wahyu yang diterimanya melalui malaikat bernama St. Michael. Diadili di hadapan para hakim agung dan para pendeta, Joan tidak kenal takut dan tetap pada pendiriannya bahwa dirinya adalah utusan Tuhan hingga akhirnya diputuskan agar dia dihukum mati. Terdengar exixstensial bukan? Tidak heran karena Dreyer adalah salah satu dari sutradara existensial berpengaruh selain Ingmar Bergman mengingat film2 yang dibuatnya kemudian semacam “Ordet” dan Days of Wrath” pun tidak lepas dari tema tersebut.

Kembali ke masalah sinematografi, dimana pada zaman tersebut gue percaya belum ada buku yang secara khusus menulis tentang tehnik-tehnik sinematografi maupun editing modern yang dapat mempengaruhi pace film secara keseluruhan, apa yang diperbuat Dreyer di film ini adalah sangat luar biasa. Pergantian scene satu dengan lainnya terlihat begitu modern sehingga sempat terlintas di pikiran gue, Darren Aronofsky memikirkan film ini pada saat dia membuat “Requiem for a Dream”. Visualisasi dari film ini dengan stunning camerawork dan striking compositionnya yang membuat film ini diyakini sebagai salah satu film yang melandasi pemikiran bahwa film dapat menjadi suatu bentuk seni selain literatur, lukisan, maupun bentuk seni yang lain.

Film ini sendiri diyakini sudah punah sejak era 1930-an akibat suatu kebakaran, sampai tanpa sengaja versi orisinilnya ditemukan kembali pada awal 80-an di WC pada sebuah rumah sakit jiwa di Norwegia. Untuk itu untuk menghormati orang yang ga sengaja lagi ke WC di rumah sakit jiwa pula dan ga sengaja nemu ni film, wajib banget deh ditonton oleh movie goer yang emang hobi dengan film2 berbau sejarah atau orang2 yang tertarik dengan film secara umum dan sejarah perfilman itu sendiri, believe because this is the one of the most influential movie of all time. Visually stunning, deeply absorbing and I am comfortably numb rite now. One of my all time fave (****, a masterpiece)