Archive for July, 2005

Aparajito / The Unvanquished (1955, Satyajit Ray)

Sunday, July 31st, 2005

“Cinta ibu sepanjang jalan”, mungkin itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan film kedua dari trilogy Apu oleh sutradara besar India, Satyajit Ray. Terdengar klise kan? Makanya nonton dulu film ini, menonton film ini atau dua yang lain dari trilogy Apu ini bagaikan melihat kehidupan nyata dimana secara gak sengaja ada kamera yang ngikutin mereka secara tersembunyi. Semua berjalan natural tanpa ada dramatisir berlebihan.

Bertolak dari Pather Panchali yang dirilis tahun 1950 dimana film pertama dari trilogy ini menitikberatkan pada deskripsi nyata kehidupan serba melarat yang terjadi di India khususnya pedesaan, pada film kedua ini Ray menitikberatkan pada pengembangan karakter. Dalam Pather Panchali, Apu kehilangan kakak perempuan tercintanya Durga akibat sakit keras dan pada akhirnya mereka sekeluarga memutuskan untuk pindah ke sebuah kota. Pada awal-awal film Aparajito ini giliran ayah Apu meninggal akibat sakit keras juga. Tinggallah Apu hidup berdua dengan ibunya. Dengan perjuangan keras banting tulang kerja apa ajah si ibu untuk membiayai kehidupan keluarganya yang tinggal mempunyai dua anggota saja.

Cerita berlanjut dengan perjalanan Apu bersekolah di luar kota meninggalkan kota kecil tempat dia dan ibunya tinggal. Film ini mempunyai banyak momen2 menyentuh yang juga dapat dilihat sebagai refleksi kehidupan kita sehari-hari. Satu saat sang ibu ingin membangunkan Apu agar tidak terlambat naik kereta ke kota untuk melanjutkan sekolah, namun tidak jadi karena sang ibu ingin agar anaknya terlambat dan dapat bersama dia lebih lama lagi. Kelebihan film ini atau trilogy ini secara keseluruhan adalah bagaimana Ray dapat mengubah karakter2 pada filmnya secara 3 Dimensi atau believable characters, kita dapat merasakan kalau mereka memang ada di sekitar ada, dengan problem dan penderitaan yang sama, atau bahkan membuat gue secara pribadi dapat membayangkan bagaimana kalau gue adalah mereka (walking on their shoes) dan muncul rasa simpati mendalam pada karakter2 tersebut.

Satyajit Ray sendiri adalah sutradara yang menganut paham Neorealism dan membuat film setelah menonton Vittorio De Sica’s The Bicycle Thief”. Oleh karena itu tema yang diangkat umum pada film-filmnya adalah sekitar kemiskinan di India dan bagaimana orang2 tersebut menghadapi kehidupan sehari-harinya. Akira Kurosawa pernah mengomentari tentang Ray dan film-filmnya: “The quiet but deep observation, understanding and love the human race which are characteristic of all his films, have impressed me greatly. Mr Ray is a wonderful and respectful man. …Not to have seen the cinema of Ray (especially for those claiming themselves as a movie goer) means existing in the world without seeing the sun or the moon.”

Film ini disarankan untuk movie goer yang menyukai film2 drama keluarga menyentuh pada khususnya atau orang2 yang mengaku sebagai movie goer dan ingin merasakan melihat bulan atau matahari seperti yang dikatakan oleh Kurosawa. Simply touching and breathtaking…..one of my all time fave (****, a masterpiece)

The Discreet Charm of Bourgeisie (1972, Luis Bunuel)

Sunday, July 31st, 2005

Mengutip dari Ebert tentang film ini “All movies toy with us, but the best ones have the nerve to admit it. Most movies pretend their stories are real and that we must take them seriously. Comedies are allowed to break the rules.”

Film ini ga mencoba menjebak penonton untuk berpikir bahwa semua keanehan yang kita lihat di film ini adalah nyata tetapi film ini mengakui dengan cara menunjukkan bahwa sebagian besar sequences dalam film ini adalah mimpi2 dari karakter2nya, sesuatu yang kadang membuat gue berpikir keberanian ini yang ga dipunyai oleh David Lynch dalam film2nya (pengecualian untuk Mulholland Drive dan the Straight Story).

Discreet CHarm of Bourgeisie adalah film yang sangat sinis dan cenderung offensive banyak kalangan. Mengingat film ini dibuat tahun 1972 dimana masih berlangsungnya film Vietnam dan gerakan Borjuis khususnya di Eropa mangkin mengukuhkan eksistensinya, film ini terlihat sinis pada kondisi tersebut terutama pada kaum Borjuis.

Ceritanya sendiri menitikberatkan pada ritual makan baik itu makan siang atau makan malam bersama pada kalangan Borjuis dan dianggap sebagai simbol status mereka. Namun dalam film ini tidak ada acara makan bersama yang berhasil dilakukan karena ada ada saja gangguan yang datang untuk menghalangi mereka makan. Mulai dari salah hari datang ke jamuan makan malam, pemilik restoran yang meninggal dan membuat selera makan hilang, prasangka buruk karena pemilik rumah terlihat kabur hanya untuk berhubungan seks di tamannya (Bunuel menganggap kalo seks diasosiasikan dengan orang yang sudah tua dan dari kalangan Borjuis maka akan terdengar aneh atau absurd, very well observation by Bunuel), sampai adegan penembakan yang terjadi saat makan malam.

Film ini menunjukkan perilaku anggun dan aristokrat pada kalangan Borjuis adalah hanya pada permukaan atau luarnya saja, namun dalam hal moral mereka sama saja bobroknya atau mungkin dapat lebih bobrok dari kaum-kaum dibawahnya. Beberapa adegan makan malam digambarkan Bunuel ternyata hanya mimpi dari salah satu karakter dalam film ini, dimana pada endingnya juga dapat diartikan bahwa semua isi film ini adalah mimpi besar yang dialami oleh salah satu karakternya saja yaitu seorang Duta Besar negara kecil di Amerika latin, yang dapat berarti bahwa mimpi-mimpi sebelumnya merupakan mimpi dalam mimpi. Dialog2 dalam film ini cerdas dan tajam serta jelas ditujukan kepada para kaum Borjuis yang mana aneh kaerna Bunuel sendiri lahir dari kalangan Borjuis dam kalangan Gereja dimana jelas bahwa Bunuel adalah seorang Atheis.

Pada akhir kata, mengutip sebuah essay tentang film ini oleh MC Zener “It used to be a truism among purist cinephiles, that the better the film, the less that can be written about it.” Sangat setuju dengan pendapat tersebut, gue ga bisa banyak ngomong tentang film ini karena film ini mengalir begitu saja tanpa terasa membuat gue tercengang dan tertawa terbahak2 atas kekonyolan karakter2 dalam film ini.Film yang cocok untuk movie goer yang senang dengan film art-house beraliran black comedy dengan nuansa Surrealis. One of my all time fave (****, a masterpiece)

My Favorite Top 9 Directors

Thursday, July 28th, 2005

Berangkat dari kesukaan gue menonton film berikut adalah list 9 sutradara yang film-filmnya selalu gue cari, dan mohon maaf karena blum banyaknya pengalaman menonton dan menelaah film, maka banyak nama-nama besar yang seharusnya masuk malahan tidak terdapat. Tapi this is my list, so mind your own list, hehehe.

(In no Particular Order)

1. Alfred Hitchcock
Ngomongin Hitchcock berarti ngomongin sutradara yang banyak mempengaruhi film-film masa kini. Hitchcock sendiri bukanlah penemu modern cinema, tapi dia yang banyak mendefinisikannya lewat karya2 monumentalnya. Siapa sih yang belum pernah setidaknya mendengar namanya atau film-filmnya antara lain Rear Window, Psycho, Vertigo, Notorious, North by Northwest dan banyak lagi sehingga muncul julukan bagi dirinya sebagai “The Master of Suspense”. Hitchcock terkenal dengan kelebihannya dalam craftmanship, shot2 elegan dalam Notorious yang indah, tehnik penyutradaraan yang kreatif di Rear Window, ketegangan dan twist ending di Psycho hingga keberaniannya dalam menghasilkan gambar2 di Strangers on a Train yang selalu membuat gue deg-degan. Sebagai sutradara yang sangat menguasai pekerjaannya, Hitchcock pernah berujar bahwa saat syuting film adalah saat yang paling membosankan dan menyebalkan untuknya, karena semua adegan di film yang akan diambilnya sudah ada semua dibenaknya sebelum syuting dimulai.

Namun yang paling membuatnya excited adalah pada saat editing film tersebut karena disitulah proses kreatifnya dapat dituangkan sesuai imajinasinya. Dalam setiap syuting film, Hitchcock tidak pernah mendekati kameraman untuk memberitahu angle2 mana yang akan diambilnya, dia hanya cukup duduk di sekitar set dengan tinggal memerintah sang kameraman untuk bergeser 5 centimeter ke kanan atau mundur 10 centimeter untuk mengambil gambar yang diinginkannya.

Hal unik lainnya adalah Hitchcock selalu tampil sebagai cameo di hampir setiap filmnya entah itu sebagai orang yang berlalu lalang biasa saja seperti di Vertigo atau orang yang naik kereta dengan membawa bawaan yang berat di Strangers on a Train. Gue sendiri baru menonton sebagian kecil film2 Hitchcock yaitu sekitar 7 film dari 65 film yang pernah dibuatnya, dengan Rear Window sebagai film favorit gue karena didasari dari acting yang sempurna, penyutradaraan yang jenius (i won’t reveal it to you), serta tema yang orisinil (untuk ukuran jaman itu).

2. Ingmar Bergman
Ingmar Bergman adalah sutradara asal Swedia yang terkenal karena film2nya yang menonjolkan Eksistensialism dengan mempertanyakan keberadaan Tuhan atau menggali apa arti hidup di dunia ini bagi manusia dengan segala kekurangannya. Film-filmnya merupakan hasil observasi yang mendalam pada kehidupan manusia sehari-hari. Dialog-dialog dalam film Bergman sangat intelektual dan introspective. Dengan jarang mengindahkan special effect (selain dalam Persona), Bergman lebih memilih pencahayaan atau lighting dalam menampilkan keindahan film2nya. Dengan kolaborasi tetapnya Sven Nykvist, Bergman menemukan bahwa “Lighting” dapat mempengaruhi jalannya film, menonjolkan emosi dari karakter2nya serta menguak rahasia tersembunyi dari karakter2nya di filmnya (lagi2 Persona contohnya).

Gue sendiri baru menonton 4 filmnya antara lainnya Fanny & Alexander, Persona, The Seventh Seal, dan Wild Strawberries, dimana Fanny & Alexander adalah film favorit gue sampai sekarang,dimana menurut gue adalah film Ingmar Bergman paling kompleks dan merupakan sebuah ringkasan dari semua film-film yang pernah dibuatnya karena semua unsur seperti Horror, Mempertanyakan keberadaan tuhan ataupun psikologi antar hubungan manusia yang pernah hadir di semua filmnya tumplek menjadi satu dalam film ini. 3 film lainnya berada dalam list 100 film favorit gue. Bergman sendiri pernah dicap sebagai seorang “old hat” atau cenderung membuat film-film yang sejenis saja, dimana kemudia dia membungkam mulut kritikus tersebut dengan filmnya Persona dimana merupakan film eksperimentalnya yang juga menonjolkan kekuatan visual dan menonton Persona bagaikan menyaksikan film dengan tema khas Bergman dengan visualisasi a la film-film jean-Luc Godard.

Membeli film atau DVD dari film2 Ingmar Bergman sangatlah tidak rugi karena film2nya dapat ditonton berulangkali dimana setiap menonton berikutnya kita akan menemukan hal-hal baru yang terlewat dalam waktu menonton sebelumnya. Ini (in my humble opinion) adalah salah satu tanda kalau film tersebut adalah film yang hebat berbeda dengan film2 zaman sekarang atau khususnya keluaran Hollywood atau film Indonesia kebanyakan yang dapat kita tebak sebelum filmnya berakhir (bahkan gue bisa menebak jalan cerita Me Vs High Heels hanya dengan melihat trailernya ajah). Film-film dari Ingmar Bergman cocok untuk movie goer yang tertarik dengan film sebagai bentuk seni ataupun film dengan tema pencarian jiwa atau “soul-searching”.

3. Yasujiro Ozu
Berbeda dengan sutradara hebat Jepang lain pada zamannya yaitu Kurosawa dan Mizoguchi, Ozu mengambil tema yang paling dekat dengan kehidupan sehari2 kita yaitu keluarga. Sosok yang sering dianggap sentral dalam film Ozu adalah sang Ayah, dimana pada kenyataannya Ozu besar hanya didampingi seorang ibu dan Ozu tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya. Namun hal tersebut tidak mempengaruhi kedalaman film2nya dalam mengangkat tema keluarga. Mulai dari mudahnya anak dalam melupakan jasa orangtua dalam Tokyo Story, atau pengabdian seorang anak sehingga rela tidak menikah demi berbakti kepada orangtuanya.

Film-film Ozu bekerja dengan tone film yang subtle atau dibawah permukaan dan pace film yang lebih lamban dibanding film-film zaman sekarang, sehingga diperlukan kesabaran dan konsentrasi mendalam untuk memahami film-filmnya. Ozu sadar bahwa pace filmnya yang lamban oleh karena itu dia menggunakan tehnik “Pillow Shots” dalam memisahkan dua adegan dimana visualisasi dalam film2nya bekerja bagaikan puisi sehingga sebagai penonton kita diberikan waktu untuk berfikir dan memahami scene yang baru saja terjadi sebelum masuk ke scene yang berikutnya. Yang sering digunakan Ozu dalam tehnik ini adalah kereta api di Tokyo atau lentera2 berbentuk ikan yang terbang ditiup angin atau bendera2 kecil diatas atap rumah.

Ozu dikenal sebagai sutradara yang sopan dalam shot film2nya, dia hampir tidak pernah memindahkan kamera dari orang yang sedang berbicara. Every shot is framed and held, bahkan Ozu terkenal karena tidak pernah mengambil gambar lebih dari 3 kaki dari atas permukaan tanah dimana tinggi itu sama dengan tinggi rata-rata orang yang duduk di tatami atau tikar Jepang sehingga efek yang kita dapatkan adalah keterlibatan kita secara mendalam dan merasa dekat terhadap karakter2 dalam film-filmnya. Gue sendiri baru menonton 3 filmnya yang dikenal juga sebagai The Noriko trilogy yaitu Tokyo Story, Early Summer, dan Late Spring dengan Tokyo Story adalah film favorit gue yang kedua sampai saat ini setelah Fanny & Alexander. Menonton Tokyo Story bagaikan melihat cermin atas dosa-dosa yang telah kita perbuat pada orang tua. Roger Ebert pernah berkata “sooner or later everyone who loves movies will come to Ozu’s”, well Ebert is quite right and for you who like movies too should find and watch these gems from Ozu, and u shouldn’t worry because it is in Black and White, soon u’ve been absorbed by these movies u will forget that they are old movies.

4. Akira Kurosawa
Salah satu sutradara yang film-filmnya paling orisinil sepanjang masa. Gak bakalan ada film2 semacam Ocean’s Eleven, komik-komik seperti One Piece, Dragon Ball atau semua cerita yang berhubungan dengan merekrut anggota tim dengan kemampuan berbeda satu sama lainnya jika Seven Samurai ga dibuat oleh Kurosawa, atau mungkin Star Wars yang diilhami dari Hidden Fortressnya Kurosawa. Atau lihat dari Rashomon, dimana berkisah tentang suatu perampokan dan pemerkosaan yang dilihat dari 4 sudut pandang orang yang berbeda dimana pada akhirnya para penonton sendirilah yang harus memutuskan untuk memilih versi cerita orang yang mana yang kita yakini kebenarannya. Dan film-film tersebut dibuat pada era 1950-an dimana era tersebut adalah era film favorit gue. Kurosawa sendiri bersama Ozu dan Mizoguchi adalah tridente yang memperkenalkan film-film Jepang ke masyarakat internasional.

Dalam mengenang Kurosawa, sutradara besar dari daratan China Zhang Yimou pernah berujar “Other filmmakers have more money, more advanced techniques, more special effects. Yet no one has surpassed him.” Yang menarik dari film-filmnya Kurosawa adalah, dia tidak pernah membuat film sesuai keinginan audiens atau secara komersil, dia membuat sesuai idealis Kurosawa sendiri dimana fungsi film sebagai art atau seni tidak pernah ditinggalkan oleh Kurosawa. Namun film-filmnya dapat menarik perhatian baik itu movie-goer pemula atau mainstream maupun para “hard-to-please” movie critics. Film-filmnya sendiri banyak berkisah tentang epic dan legenda, not to mention Madadayo and Ikiru. Seperti Ran yang diangkat dari karya Shakespeare yaitu King Lear, atau Throne of Blood yang diangkat dari kisah Macbeth.

Sama seperti film-film dari sutradara besar dunia lainnya, film-film Kurosawa tidak pernah lekang dimakan waktu, alias timeless, alias masih bagus walau ditonton 50 tahun lebih setelah film tersebut diluncurkan. Favorit gue sendiri adalah Ran, kisah epic yang mengangkat tentang kisah raja tua yang sangat berkuasa yang merasa sudah uzur dan bingung untuk mewariskan kepada anaknya yang mana tahtanya tersebut akan diturunkan. Film-film Kurosawa cocok untuk movie goer yang adventorous yang bosan dengan tema-tema film masa kini dimana ada musuh, ada jagoan, dan jagoan kalah di akhir.

5. Andrei Tarkovsky
Tarkovsky meninggal pada saat berumur 56 tahun dimana banyak yang menganggap Tarkovsky terlalu cepat meninggalkan dunia sinema. Hanya dengan bermodalkan 7 full featured movies namun Tarkovsky telah menancapkan kukunya di bilantika perfilman dunia secara tajam (hehehe). Karena gue sendiri sudah menonton lebih dari setengah film yang dibuatnya, dimana tidak ada satu filmnya pun yang jelek. Bahkan Stalker yang menurut gue rada pretentious pun merupakan sebuah masterpiece yang wajib ditonton oleh penggemar film-film dari daratan Eropa.

Menonton film Tarkovsky untuk pertama kalinya gue rasa sangat berat, karena Tarkovsky tidak menggunakan bahasa percakapan sehari-hari dalam dialog di film-filmnya. Dialognya mengalir bagaikan puisi yang saling bersahutan dan kadang terdengar romantis. Selain itu untuk orang-orang yang belum akrab dengan gayanya film-filmnya akan terasa sangatttt lamban, bahkan lebih lamban dari film-filmnya Yasujiro Ozu, tapi visual dalam film-film Tarkovsky yang menakjubkan dapat membuat kita lupa kalau kita sedangn menyaksikan sebuah film, bagaikan sedang melihat rangkaian lukisan diiringi dialog. Tarkovsky sendiri tidak menggunakan special effect khusus dalam film-filmnya, since that thing was not common at that time.

Dari semua filmnya gue paling suka dengan Solyaris yaitu drama sci-fi yang merupakan kritik Tarkovsky terhadap film 2001:A Space Odyssey buatan Kubrick yang dinilai Tarkovsky sebagai kurang humanis. Lalu Mirror (Zerkalo) dimana buat Tarkovsky sendiri merupakan filmnya yang paling personal dimana merefleksikan kisah tentang perjuangan ibunya dalam membesarkan Tarkovsky dulu sewaktu ditinggal pergi suaminya (ayah Tarkovsky), dimana pada saat menonton Mirror untuk pertama kalinya, gue cuma bisa bengong pas film nya abis dan berujar what is this crap all about? Dan hal itu membuat gue penasaran untuk menontonnya lagi dan semua menjadi jelas pada second viewing dan gue menyadari inilah salah satu dari 10 film terbaik yang pernah gue tonton selama ini.

Tarkovsky sendiri pernah bilang bahwa film-filmnya bukan untuk dikonsumsi sekali tonton, dimana untuk memahami film-filmnya minimal orang harus menontonnya 2 sampai 3 kali, berbeda sekali dengan film-film zaman sekarang. Warning: menonton film-film Andrei Tarkovsky diusahakan hanya sendiri atau dengan teman yang juga suka art movies, jangan nonton bareng teman yang tujuan menonton film hanya untuk mendapat hiburan belakan, because he is going to waste your time with his questions and grumbles. Dah gitu tontonlah dalam keadaan fisik yang prima dan tidak ngantuk serta siap berkonsentrasi. It’s going to be a bumpy night, so fasten your seatbelt (Margo Channing in All About Eve)

6. David Lynch
Ada dua tipe movie goer di dunia ini, yang satu adalah yang cinta mati sama film-filmnya David Lynch dan paham akan kegilaan dan keanehan dalam film-filmnya, dan yang kedua adalah yang menganggap David Lynch hanya membuat film-film sampah selama ini.

It’s probably fair to say that David Lynch has a rather twisted view of life, which the same statement can be said of many top directors like Peter Greenaway, Terry Gilliam, and the Coen Brothers. David Lynch terkenal dengan keanehan adlam film-filmnya, perjalanannya dimulai dengan film independennya Eraserhead yang berkisah tentang seorang ayah yang bingung dalam menghadapi anak bayinya yang mempunyai rupa aneh seperti ET dan mempunyai penis berukuran raksasa dimana penis tersebut dapat mempengaruhi seksualitas si ayah, atau Blue Velvet dimana premis film dimulai dengan seorang mahasiswa yang menemukan potongan kuping yang sedang dirubung semut yang menuntunnya kepada suatu misteri, atau dari semua film Lynch yang paling normal adalah The Straight Story mengenai perjalanan seorang kakek berumur 80an untuk menemui adiknya yang sakit keras di negara bagian yang berbeda, namun tetap dipenuhi oleh karakter2 yang tidak kita temui dalam film-film pada umumnya.

David Lynch sendiri yang juga seorang pelukis dan pemusik, mengakui bahwa karya-karya baik itu film, lukisan, atau seni instalasinya adalah buruk, tapi di keburukan tersebutlah orang seharusnya dapat melihat lebih dekat dan dalam pada karya-karyanya untuk menemukan realita dan keindahan sebenarnya. Film-film David Lynch sendiri sering menampilkan karakter dalam kondisi mental pada titik paling rendah, atau bahkan lebih rendah daripada yang pernah kita rasakan atau pernah lihat,atau lebih tepatnya menonton film David Lynch seperti sedang menyaksikan atau merasakan sendiri sebuah mimpi buruk.

David Lynch mempunyai penggemar fanatik di seluruh penjuru dunia yang setia kepada film-filmnya baik itu filmnya dicap sangat buruk oleh para kritikus dunia sehingga membuatnya dicap sebagai salah satu Cult Director bersama-sama dengan John Waters dan Russ Meyer. Menonton film David Lynch kita harus melepaskan logika dimana jangan heran atau menggerutu bila tiba-tiba melihat seorang wanita tuna susila berjoget secara aneh di atas kap mobil atau nenek kakek yang tersenyum sangat lebar didalam taksi, namun tetap fokus pada filmnya karena jujur saja film-filmnya termasuk berat atau butuh perhatian khusus untuk dapat mengerti secara utuh apa yang ingin disampaikan oleh Lynch.

Karena sudah menonton menonton 8 dari 9 film nya dan seri TV Twin Peaks yang dibuatnya, gue berpendapat bahwa masetrpiece dari Lynch adalah pada Mulholland Drive dan Eraserhead, yang pertama karena gue merasa terserap dan bersimpati dengan karakternya dan yang kedua karena itulah bentuk karya Lynch yang sebenar-benarnya dan Eraserhead adalah salah astu film favorit dari salah satu sutradara favorit gue Stanley Kubrick. Untuk menonton film-film David Lynch disarankan matikan lampu, tengah malam, tutup semua pintu, dan surrender your thought to the movies.

7. Martin Scorsese
One of the living master in cinema. Film-film dari Scorsese umumnya tidak mempunyai suatu plot, melainkan suatu Character Study pada karakter utamanya atau sekelompok orang tertentu. Wajar saja karena Scorsese sendiri pernah mengakui ketertarikan utamanya adalah di bidang Antropologi. Scorsese sering mengangkat tema seks sebagai basic kebutuhan mendasar semua manusia dan kekerasan yang dilandasi dari seksualitas yang ada.

Scorsese tidak mengagungkan kekerasan dalam film-filmnya, namun justru membuatnya menjadi indah, contohnya adalah dalam Raging Bull dan Taxi Driver. Walau karya-karyanya banyak diasosiasikan dengan tema gangster seperti Mean Streets dan GoodFellas, bukan kekerasan dan aksi tembak2annyalah yang membuat film-filmnya begitu nikmat untuk ditonton, tapi lebih ke jiwa dan karakter dalam filmnya yang membuat mereka enjoyable.

Gayanya dalam mengedepankan narasi untuk mengembangkan karakter-karakternya menurut gue adalah yang terbaik dalam contemporary movies saat ini. Serta kamera dalam film-filmnya sangat hidup dan dinamis mengikuti perjalanan setiap karakter dalam film-filmnya. Tentu sebagai penggemar Magnolia mengetahui bahwa PT Anderson terinspirasi dari pergerakan kamera dalam Goodfellas. Kalau menonton film-filmnya Scorsese biasanya gue akan berakhir simpati terhadap karakter2nya karena penggambaran yang begitu mendetail dimana biasanya karakter2 dalam film Scorsese digambarkan dalam kondisi moral bobrok karena pengaruh lingkungan dan kebudayaan, contohnya King of Comedy atau Taxi Driver.

Film Scorsese yang paling gue suka adalah Raging Bull dimana menggambarkan perjalanan karir tinju Jake La Motta mulai dari dipuja sampai dicaci dan berakhir sebagai pemilik kafe dan melakukan standing comedy. Seperti Kurosawa, film-film Scorsese dapat mudah dinikmati baik oleh kalangan mainstream movie goer sampai kritikus film. Dan menurut gue salah satu alasannya adalah Scorsese sering memakai bintang-bintang film papan atas yang notabene akan memudahkan film-filmnya untuk diputar di bioskop-bioskop Jakarta.

8. Stanley Kubrick
Sama seperti Tarkovsky film-film yang dibuat oleh Kubrick tidak sebanyak sutradara-sutradara besar lain semacam Jean-Luc Godard, namun semua filmnya meninggalkan kesan mendalam untuk perkembangan dunia sinema. Tema besar yang selalu diangkat oleh Kubrick dalam film-filmnya sendiri adalah dehumanisasi atau gambaran manusia dalam bentuk moral terburuk, namun berbeda gaya dengan Scorsese yang menggarapnya lebih real, Kubrick menampilkan karakter2nya sesuai dengan gambaran yang ada di kepalanya.

Umumnya Kubrick membuat film-filmnya yang merupakan adaptasi dari novel atau literatur yang pernah dibaca atau disukainya, lalu menggarapnya sebagai film dimana hasilnya cenderung berbeda dengan novel atau literatur aslinya. Hal ini yang membuat Stephen King rada kesel waktu Kubrick melenceng jauh dengan The Shining dimana King yang menulisnya. Dalih Kubrick tetap pada pendiriannya, karena dia telah membeli hak cipta The Shining untuk difilmkan maka hak dia pulalah untuk membuat The SHining sesuai seleranya. Sehingga tersirat bahwa Kubrick menggunakan film sebagai ungkapan emosinya saat itu. Namun alih-alih hanya membiarkan audiens sebagai saksi mata sebuah pengalaman, Kubrick malah mengundang kita sebagai penonton untuk ikut merasakan pengalaman tersebut, seperti dalam 2001:A Space Odyssey dimana gue sendiri merasakan hampanya ruang udara di angkasa sana, dan semua di sekitar gue terasa lamban mengikuti alur film tersebut, atau merasa berada dalam lingkungan orgy seperti dalam Eyes Wide Shut.

Seperti film-filmnya Tarkovsky mungkin kita tidak akan suka sewaktu menontonnya pertama kali, karena selalu ada hal-hal yang ditampilkan di luar hal-hal yang kita lihat sehari-hari, namun semua akan semakin jelas pada kesempatan menonton berikutnya. DI gue sendiri hal ini terjadi pada film 2001 dan Dr Strangelove dimana pada first viewing gue cuman bisa bengong, dimana yang satu alurnya lambat banget dan i’m not a really big fan of sci-fi stuff, dan satu lagi tentang perang, which i’m not a fan of war movie too. Tapi di suatu sore iseng dimana ga ada lagi film yang menarik tuk ditonton, gue memberi kesempatan kedua pada kedua film tersebut which I was blown away, and end up with both of them as my all time fave movie.

Seorang editor film bernama Steve Hamilton pernah mengatakan bahwa Kubrick adalah seorang master dalam membuat art film dengan budget yang besar bahkan sangat besar, mengingat mayoritas film-filmnya dibuat dengan uang dari studio-studio besar yang berbeda dengan sutradara-sutradara semacam Ingmar Bergman dan Andrei Tarkovsky. Dan satu lagi yang gue sukai dari Kubrick adalah dia sudah menjelajah ke hampir semua genre film, dari sci-fi di 2001, epic di Barry Lyndon dan Spartacus, komedi di Dr Strangelove, perang di Full Metal Jacket, seksualitas di Eyes Wide Shut, bahkan film Noir dalam the Killing yang semuanya digarap tidak asal-asalan. Hidup sebagai seorang yang mengaku movie goer tidak akan pernah lengkap bila tidak pernah menonton dan menikmati salah satu film Kubrick.

9. Federico Fellini
Di Italia, yang negaranya terkenal dengan film-film semacam dokumenter bernuansa neorealis, dapat dikatakan ironis bahwa sutradara paling terkenal asal Italia sampai saat ini adalah Federico Fellini yang film-filmnya justru bernuansa Surrealis.

Berangkat dari genre Neorealis juga, Fellini yang sempat menjadi penulis naskah dalam film-film Roberto Rosellini sampai dengan filmnya yang bernuansa Neorelis terakhir adalah Nights of Cabiria. Inspirasi film-filmnya sendiri datang dari pengalaman hidupnya semenjak kecil, dapat kita lihat dalam film-filmnya sering muncul serombongan orang berbaris mengenakan kostum seperti orang-orang sirkus, karena sirkus telah menjadi bagian utama dalam diri semenjak dia kecil di kota Rimini. Karena kecintaannya pada sirkus dan dulunya adalah seorang kartunis dan pembuat karikatur adalah yang membuat gaya penyutradaraannya yang ceria dan playful atau lucu.

Surealism dalam film-filmnya sendiri kebanyakan bersandarkan dari mimpi2 Fellini sendiri baik mimpi buruk atau bagus juga baik mimpinya saat tidur atau saat terjaga. Namun cerita dalam film-filmnya quite accessible, sehingga mengukuhkan statusnya sebagai a true visionary. Gaya surrealisnya sendiri adalah cenderung membesar-besarkan sesuatu atau membuat sesuatu menjadi lucu, seperti sekumpulan orang berpakaian aneh dan berdandan nyentrik penuh dengan aksesoris warna-warni di ruangan dengan setting yang detail dan colorful juga.

Gayanya ini yang akhirnya dikenal sebagai “Felliniesque” paling banyak kita lihat pada sutradara zaman sekarang yaitu Tim Burton yang selalu menggunakan setting lokasi detail dengan nuansa warna-warni dan ceria, atau David Lynch dalam mengadopsi penampakkan karakter2 aneh yang tertawa lebar sambil diam saja. Yang membuat sulit dalam mencerna film-film Fellini adalah gaya penceritaanya yang episodic atau dipisahkan seperti babak-babak yang kadang antara satu babak dengan babak yang lainnya tidak berhubungan namun berfungsi untuk menguatkan karakter sentral yang sedang diceritakannya.

Dalam La Dolce Vita diceritakan perjalanan Marcello seorang jurnalis di 7 malam yang berbeda dan dengan masalah2nya yang berhubungan dengan wanita-wanita. Atau di Nights of Cabiria yang mengisahkan perjalanan seorang pelacur jalanan bernama Cabiria dari satu malam ke malam berikutnya dalam usaha memperbaiki kehidupannya. Saran gue jangan menyerah bila tidak mengerti dalam menonton film Fellini untuk pertama kalinya, karena seorang sutradara besar layaknya mempunyai gaya yang unik dan berbeda dengan sutradara lainnya, begitu pula dengan film-film Fellini, coba akrabi satu filmnya dulu lalu tonton ulang barulah pindah ke filmnya yang lain karena menurut gue filmnya adalah sebuah harta yang siap untuk ditemukan kapan saja.

Film favorit dari Fellini sendiri untuk gue adalah Otto e Mezzo atau 8 1/2, yang menceritakan tentang perjalanan seorang sutradara yang merupakan alter ego dari Fellini sendiri, yang dihadapkan dengan tuntutan untuk membuat film yang sama suksesnya bahkan lebih dari film sebelumnya (pada Fellini sendiri film sebelum otto e mezzo adalah La Dolce Vita dimana sukses besar-besaran di seluruh dunia). Dalam kondisi tertekan dari sang produser yang menuntut filmnya agar cepat dikerjakan dan crew lainnya yang minta untuk diajak turut serta dalam filmnya atau artis2 yang merengek untuk tampil di filmnya padahal sang sutradara belum mempunyai ide apapun untuk film berikutnya. Film Fellini disarankan untuk movie goer yang sabar dan suka humor dalam film serta tertarik dengan film bergaya Surrealis.

Juliet of the spirits (1965, Federico Fellini)

Thursday, July 28th, 2005

Another masterpiece from Italian director Federico Fellini. Film berwarna dari Fellini yang merupakan “homage” terhadap filmnya sebelumnya “8 1/2″ dimana kali ini tokoh utamanya adalah seorang wanita yang diperankan tak lain oleh istrinya sendiri Giulietta Masina.

Bercerita tentang seorang istri (Masina) yang pada suatu malam tak sengaja mendengar suaminya mengigau dan menyebutkan nama seorang wanita dalam tidurnya. Karena rasa curiga suaminya telah berselingkuh perjalanan Juliet dimulai dengan meminta nasihat dari sahabatnya. Pergi ke fortune-teller sampai mengunjungi sorang tetangga eksentriknya seorang wanita yang suka memuaskan hasrat seksualnya dengan para lelaki di rumahnya yang unik atau diatas rumah pohon. Perkenalan Juliet dengan tetangga wanitanya itu membuat Juliet berpikir untuk dapat mengikuti gaya hidup tetangganya itu.

Perasaan ragu2 berkecamuk dalam diri Juliet karena sebenarnya dia bukanlah sorang wanita seperti melainkan wanita yang lurus2 saja dan sederhana melayani suami. Seperti dalam “8 1/2″ terkadang muncul dream sequences dari juliet mengingat masa kecilnya dimana kakeknya mengawini seorang wanita penari yang jauh lebih muda. Hal ini yang membuat Juliet ragu akan kesetiaan para lelaki shingga berpikir haruskah dia berbuat seperti tetangganya dalam membuat lelaki sebagai hanya pelampiasan seksual belaka tanpa harus terikat.

Fellini adalah seorang master dalam menggambarkan moving images. komposisi set design latar film dan kostum yang detail dan berwarna warni cerah membuat film ini terlihat sangat indah dan merupakan “feast for the audiences’ eyes”. Diperkaya dengan kehadiran karakter2 unik dan aneh seperti sekumpulan orang yang diam sambil tertawa lebar dan ceria dalam pakaian berwarna warni dalam film ini sepertinya menginspirasikan film2 yang dibuat oleh Tim Burton dan David Lynch. (****, a masterpiece)

Slacker (1991, Richard Linklater)

Thursday, July 28th, 2005

Film pertama dari Richard Linklater yang mengikuti keseharian orang2 yang kira2 berjumlah 100, tanpa ada suatu plot. Film ini bertutur dengan cara mengikuti seseorang sampai sekumpulan orang dalam pembicaraan sehari2 mereka mengenai hal2 yang dalam keseharian kita tampaknya jarang dibahas. Oleh karena itu kelebihan dari film ini adalah kita banyak mendapatkan pengetahuan baru dan cara pandang baru mengenai suatu hal.

Perpindahan karakter dari satu ke karakter berikutnya yang unik hingga akhir film ini mengikuti cara yang dilakukan oleh sutradara Surrealist Luis Bunuel dalam film2nya yang terdahulu, dimana Linklater mengadopsinya dengan “pace” yang lebih cepat.

Namun kekurangan film ini sendiri adalah dialog2 yang dikeluarkan oleh masing2 karakter di film ini terasa tidak natural karena bagaikan hanya melihat Linklater memasukkan pikiran2nya kedalam mulut semua karakter2nya sehingga terkesan tidak perlu menggunakan 100 orang berbeda untuk membicarakan dialog2 dengan tone pikiran yang sama atau setiap karakter terlihat monoton karena mempunyai jalan berpikir yang sama.

Yang gue kagumi adalah keberanian Linklater mengambil risiko dengan style tersebut, dan dialognya sendiri sebenarnya “amusing” disamping kekurangan yang ada. (***, a good movie)

Ordet (1955, Carl Theodore Dreyer)

Thursday, July 28th, 2005

Film ini Kristen banget, itu yang ada di benak gue di awal2 menonton film ini. OK, gue ga bakalan menangkap sebaik yang akan ditangkap bila orang Kristen yang menonton film ini, jadi gue melihatnya murni sebagai film pada umumnya.

Secara garis besar film ini berjalan lurus-lurus ajah tanpa ada scene-scene yang akan membuat kita mengerutkan kening seperti film-film bernuansa “art” lainnya. Ceritanya sendiri mengenai sebuah pemilik tanah yang cukup terpandang di sebuah desa di Denmark pada era 20-an. Anggota keluarga itu sendiri terdiri atas Morten Borgen sang ayah sebagai pimpinan keluarga, tiga anaknya yang berbeda karakter antara lainnya Mikkel yang merupakan seorang agnostic (orang yang berada di tengah-tengah antara orang alim dan atheis),Johannes yang berpikir bahwa dirinya adalah Yesus setelah belajar teologi dan anak lelaki paling bontot yaitu Anders yang jatuh cinta dan ingin menikahi seorang wanita dari kalangan berbeda gereja dari sang bapak.

Lalu ada lagi Inger yang merupakan istri dari Mikkel dan anak perempuan mereka. Cerita mulai berkembang ketika Anders meminta izin kepada ayah dari wanita yang dicintainya untuk dinikahi. Karena ayah sang wanita melihat bahwa latar belakang agama Kristen yang diambil keluarga Anders berbeda dengan aliran kristen yang dianutnya selama ini maka si ayah wanita tadi menolaknya mentah-mentah. Sampai suatu ketika pak Morten memutuskan untuk menghampiri pak Peter untuk mengkonfrontir langsung agar anaknya dapat diterima sebagai menantu. Yang ada hanyalah pertentang kedua orang tua tersebut mengenai mana aliran yang paling benar.

Sejak awal Ordet sudah terlihat sebagai film eksistensial yang mempertanyakan mengenai “Faith” atau keyakinan, baik itu keyakinan kepada Tuhan dan kepada “Miracle” atau keajaiban apakah ada sebagai hasil dari doa kita kepada Tuhan. Pada saat percekcokan antara pak Morten dan Pak Peter tiba2 telefon berdering untuk memberitahu bahwa menantu pak Morten, Inger yang sedang hamil besar sedang sakit parah dan sedang dirawat dokter. Pada saat itu pak Morten yang imannya sudah mulai tipis karena mulai tidak percaya kepada Tuhan ingin membuktikan apakah Tuhan masih mendengar doa dari hambanya dengan mengabulkan doanya agar Inger sembuh dan selamat dari kematian. Akhirnya sang dokter memberitahu bahwa Inger selamat dan sedang tidur. Dokter tersebut menanyakan apakah menurut Pak Morten usaha dari sang dokter atau karena doa dari pak Morten yang pada akhirnya menyelamatkan jiwa Inger, pak Morten yakin itu adalah pertolongan Tuhan dan merupakan keajaiban atas dijawabnya doa beliau oleh Tuhan.

Keyakinan atau “faith” menurut gue sendiri bukanlah mendapatkan apa saja yang kita inginkan atau percaya pada apa saja yang orang katakan terhadap kita, bahkan orang yang dianggap gila seperti Johanness. Hal-hal yang berbau takhyul atau superstition dan khayalan kadang yang membuat kita yakin akan keberadaan Tuhan. IMHO tidak baik jika kita selalu percaya dan berharap kita merasakan tanda adanya Tuhan dari superstitious dan wishful thinking tersebut, namun kita sering lupa bahwa ada yang lebih nyata lagi dari keberadaan Tuhan seperti mengalirnya darah dalam tubuh kita sekarang. Disinilah Ordet sebagai film dan fungsi film sebagai salah satu sumber bagi manusia untuk belajar dan retrospeksi diri mulai bekerja, karena scene berikutnya ternyata Inger tiba-tiba meninggal dalam tidurnya yang tentu saja mengacaukan kita sebagai audiens apalagi bagi cerita dalam film tersebut yang mulai percaya terhadap keberadaan keajaiban.

Film ini menjadi cerminan bagi gue sendiri bagaimana apabila hal tersebut terjadi dalam kehidupan nyata gue dimana keyakinan dapat hancur dalam seketika. Ditambah lagi dengan scene dimana Johanness yang mengaku sebagai Yesus dapat memanggil kembali arwah dari Inger dengan memintanya kepada Tuhan langsung, tentu saja semua orang merasa Johannes gilanya udah parah dan Johanness tiba-tiba hilang dan pergi dari rumah. Film ini menurut gue bagus dan dapat dinikmati secara universal karena topik yang diangkat sendiri adalah umum baik dalam kehidupan orang Kristen sendiri atau agama lainnya yaitu “Faith”.

Dan film ini dapat bekerja sebagai alat retrospeksi kita sebagai audiens apakah sudah menjalani keyakinan kita dengan benar atau cerminan dari keyakinan yang telah kita jalani atau lihat di lingkungan kita sehari-hari, sama seperti dalam film Tokyo Story buatan Yasujiro Ozu. Dengan ending yang menurut banyak orang sebagai salah satu ending terbaik dan fenomenal (which I won’t reveal) sepanjang sejarah perfilman modern.

Dreyer sendiri terkenal akan karya fenomenalnya yaitu film bisu berjudul Passion of Joan of Arc yang belum sempet gue tonton, dan merupakan sutradara terbesar dari Denmark sampai saat ini dan mempunyai banyak pengikut yang salah satunya adalah Lars Von Trier yang terang-terangan mengakui bahwa Ordet adalah inspirasinya dalam mebuat Breaking the Waves. Ordet wajib ditonton untuk movie goer yang senang dengan film-film bertemakan eksistensial seperti film-filmnya Ingmar Bergman, atau untuk movie goer yang simply love great movies. One of my all time fave(****, a masterpiece)

Sid & Nancy (1986, Alex Cox)

Thursday, July 28th, 2005

Film yang unik dari sutradara asal inggris Alex Cox yang juga membuat film cult “Repo Man”. Film ini tidak mudah untuk ditonton karena gambaran yang ada dari kedua karaternya Sid Vicious dan Nancy Spungen yang sangat berkelakuan buruk namun terkadang terlihat indah dengan tema besar sebuah black comedy tentang cinta yang sia-sia.

Film ini bercerita tentang petualangan cinta dari bassist Sex Pistols yaitu Sid Vicious dengan pacar Amerikanya Nuncy Spungen dimana keduanya adalah jodoh sehidup semati yang cocok lahir batin. Perjalanan cinta mereka sendiri penuh dengan narkoba danminum2an keras dimana mereka berdua tidak dapat hidup tanpa kedua barang tersebut.

Film ini tidak memiliki suatu plot khusus, since it’s a biopic dan merupakan character study tentang kedua sepasang kekasih tersebut. Banyak momen2 indah yang memorable dalam ini , no wonder Roger Deakins yang menjabat sebagai Director Photography yang juga menggarap Fargo. Salah satunya adalah adalah ketika Sid dan Nancy berciuman di suatu gang dengan diiringi jatuhnya plastik2 sampah dari langit, it’s a lovely image in its own weird way, surreal mengingat terdapat thanks to terhadap Luis Bunuel pada ending credit film ini.

Film ini cocok untuk penggemar berat Sex Pistols khususnya dan bukan untuk movie buff yang mengharapkan suatu kisah cinta romantis yang berakhir manis. (***1/2, a must see)

Persona (1966, Ingmar Bergman)

Thursday, July 28th, 2005

Salah satu film yang paling menyerap atau “absorbing” yang pernah gue liat. Menonton Persona bagaikan melihat sisi tergelap yang ada di manusia khususnya wanita. Bercerita tentang seorang aktris teater yang terkenal tiba2 ketika sedang melakukan pertunjukkan di panggung langsung diam seribu bahasa dan tidak pernah berbicara kepada orang lain. Karenanya keluarga aktris tersebut memasukkannya ke sebuah rumah sakit, dimana di rumah sakit aktris tersebut yaitu Elizabeth dirawat oleh seorang suster wanita yang bernama Alma.

Karena Alma merasa tidak sanggup menghadapi diamnya aktris tersebut dan berpendapat diamnya si aktris datangnya dari diri aktris sendiri dan Alma tidak dapat melakukan apa-apa untuk membantu untuk menyembuhkan aktris tersebut, maka kepala rumah sakit meminjamkan rumah musim panasnya untuk si aktris beserta si suster Alma dengan harapan si aktris dapat relax dan mau berbicara.

Tapi yang ada, setelah di rumah musim panas itu, Elizabeth tetap diam dan Alma terus berbicara mengenai masa lalunya dan kehidupannya sekarang. Sampai suatu saat ALma dengan sengaja naro beling di tempat yang kira2 akan dilewati Elizabeth dengan harapan bila nginjek beling si Elizabeth setidaknya akan mengaduh.

Ya, Elizabeth nginjek beling tapi dia tetap diam dan hanya tersenyum pada Alma. SAmpai di suatu titik tiba2 seperti terjadi pertukaran jiwa antara kedua wanita tersebut dan diikuti dengan dream sequence dimana muncul suami Elizabeth yang memanggil Alma dengan nama Elizabeth. Dengan adanya pertukaran jiwa tersebut Elizabeth seakan mendapatkan informasi mengenai masa lalu Elizabeth yang ternyata suram dan dangkal pula.

Persona adalah film yang akan kita tonton kembali beberapa waktu setelah kita tonton pertama kali, entah apakah itu untuk melihat “the beauty of this movie images” atau untuk mencoba memecahkan misteri dalam film ini. Film ini sendiri dapat dilihat dengan cara, cara paling mudah adalah dengan mengikuti film ini secara literal atau melihat kejadian2 nyata yang ada di film ini dan film ini tetap dapat dinikmati sebagai film yang indah, dalam, dan menyentuh.

Cara kedua dengan pendekatan dari ilmu psikologi, dengan menyambungkan film ini dengan teori2 psikologi tentang wanita dari Sigmund Freud dimana gue pernah membacanya somewhere on the net dan berpikir kalau Ingmar Bergman is very genious dan a well observant. Haunting, enigmatic, deeply touching, and a beautiful movie. One of my all time fave (****, a masterpiece)

Nights of Cabiria (1957, Federico Fellini)

Wednesday, July 27th, 2005

Lagi-lagi sebuah masterpiece dari Federico Fellini. Sebuah film indah tentang perjalanan seorang pelacur jalanan di kota Roma bernama Cabiria. Seperti film Fellini yang lain, gaya bercerita di film ini “episodic” dimana satu scene dengan yang lainnya tidak berhubungan langsung namun makin menguatkan karakter di filmnya. Seperti dalam La Dolce Vita, perjalanan Cabiria di film ini berlangsung dari satu malam ke malam yang lain.

Satu malam dia bertemu dengan bintang film terkenal yang mengajaknya kencan di rumah mewah sang bintang namun gagal karena pacar si bintang tiba2 datang, lalu di malam yang lainnya Cabiria datang bersama teman2 prostitusinya untuk meminta pertolongan dari Divine Love Bunda Maria dimana scene ini khas Fellini yang terkenal dengan gayanya yang disebut Felliniesque yaitu menabrakkan realitas sosial dengan kritik terhadap kaum Gereja Katolik.

Di depan patung Divine Love itu juga Cabiria berdoa agar dicarikan jalan hidup yang lebih baik dengan tidak usah melacur lagi, sampai suatu ketika Cabiria yang secara kebetulan bertemu dengan seorang lelaki yang sangat memujanya dan siap mengawininya. Maka Cabiria mengganggap bahwa doanya telah dikabulkan. Endingnya sendiri yang cukup shocking dan menyentuh semakin mengukuhkan Fellini sebagai salah satu sutradara yang sering mengangkat tema2 eksistensial bersama sutradara lain semacam Ingmar Bergman dan Luis Bunuel.

Nights of Cabiria sendiri adalah salah satu film awal Federico Fellini selaen La Strada dan Il Bidone dimana aura neorealisme ala sutradara asal Italia masih kental terasa, dan gue rasa filmnya setelah Nights of Cabiria yaitu La Dolce Vita sudah bukan film2 yang dengan tema neorealisme lagi. Simply beautiful and moving. One of my all time fave. (****, a masterpiece)

Blood of a Poet

Wednesday, July 27th, 2005

- Blood of a Poet (1930, Jean Cocteau): the first installment of Jean Cocteau’s Orphic Trilogy. Sebuah film yang menguatkan eksistensi surrealism dalam film selain Un Chien Andalou nya Luis Bunuel. Menonton film ini untuk pertama kalinya gue hanya “surrender” pikiran dan logis kepada film ini sepenuhnya karena film ini tidak mempunyai plot sama sekali. Film ini sendiri bercerita secara episodic dimana ada 4 bagian yang berbeda dan tidak berhubungan satu sama lainnya, sedangkan tema besarnya dalah mengenai kematian, cinta dan nafsu birahi. Film ini bekerja dan mengalir seperti puisi saja, karena dapat dimaklumi Jean Cocteau sendiri sudah tertarik dan menulis kumpulan puisi2nya sejak dia berumur 19 tahun. Kelebihan Cocteau sebagai artis sendiri terlihat dari visualisasi dalam film ini dimana setiap scene sangat indah dan bagaikan sedang melihat lukisan yang yang bergerak 24 frame per detik. Cerita pertamanya sendiri mengisahkan seorang pelukis yang sedang melukis wajah seseorang dimana tiba2 mulut dari orang yang dilukisnya bergerak sendiri seakan berbicara dan hal itu membuat takut si pelukis. Sampai akhirnya si pelukis tiba di suatu hotel yang aneh dengan beberapa kamar dan berpikiran untuk mengintip mengenai apa saja yang terjaid di kamar itu. Satu scene yang unik adalah di satu kamar ada seorang ibu yang marah kepada anaknya hingga si anak terlempar ke dinding dan dapat merayap di dinding itu untuk menghindari kemarahan sang ibu dan balik meledek sang ibu. Membandingkannnya dengan Un Chien Andalaou nya Luis Bunuel, film COcteau ini tidaklah mempunyai gambaran yang shocking, offensive dan se-disturbing un chien andalou, namun kedua karya tersebut memberi contoh atau sebagai dasar dari pembuatan film2 berbasis Surrealism, cinematic tradition yang harusnya tidak untuk dianalisa secara mendalam namun lebih dilihat dari gambar2 yang ditampilkan saja. Karena Bunuel sendiri pernah berujar kalau dia selalu tertawa terbahak2 bila mendengar ada orang2 yang dapat mengartikan gambaran2 yang ada di filmnya. Dan gue ga mau jadi orang yang ditertawakan Luis Bunuel dari dalam kuburnya karena mencoba mengartikan gambaran2 yang ada di filmnya dan film Jean Cocteau, simply just enjoy this movie and let Cocteau play with your mind with his dreams. FIlm ini direkomendasikan kepada movie buff yang suka dengan film2 “Artsy-Fartsy” atau tertarik dengan film2 beraliran Surrealis. (****, a masterpiece)