Berangkat dari kesukaan gue menonton film berikut adalah list 9 sutradara yang film-filmnya selalu gue cari, dan mohon maaf karena blum banyaknya pengalaman menonton dan menelaah film, maka banyak nama-nama besar yang seharusnya masuk malahan tidak terdapat. Tapi this is my list, so mind your own list, hehehe.
(In no Particular Order)
1. Alfred Hitchcock
Ngomongin Hitchcock berarti ngomongin sutradara yang banyak mempengaruhi film-film masa kini. Hitchcock sendiri bukanlah penemu modern cinema, tapi dia yang banyak mendefinisikannya lewat karya2 monumentalnya. Siapa sih yang belum pernah setidaknya mendengar namanya atau film-filmnya antara lain Rear Window, Psycho, Vertigo, Notorious, North by Northwest dan banyak lagi sehingga muncul julukan bagi dirinya sebagai “The Master of Suspense”. Hitchcock terkenal dengan kelebihannya dalam craftmanship, shot2 elegan dalam Notorious yang indah, tehnik penyutradaraan yang kreatif di Rear Window, ketegangan dan twist ending di Psycho hingga keberaniannya dalam menghasilkan gambar2 di Strangers on a Train yang selalu membuat gue deg-degan. Sebagai sutradara yang sangat menguasai pekerjaannya, Hitchcock pernah berujar bahwa saat syuting film adalah saat yang paling membosankan dan menyebalkan untuknya, karena semua adegan di film yang akan diambilnya sudah ada semua dibenaknya sebelum syuting dimulai.
Namun yang paling membuatnya excited adalah pada saat editing film tersebut karena disitulah proses kreatifnya dapat dituangkan sesuai imajinasinya. Dalam setiap syuting film, Hitchcock tidak pernah mendekati kameraman untuk memberitahu angle2 mana yang akan diambilnya, dia hanya cukup duduk di sekitar set dengan tinggal memerintah sang kameraman untuk bergeser 5 centimeter ke kanan atau mundur 10 centimeter untuk mengambil gambar yang diinginkannya.
Hal unik lainnya adalah Hitchcock selalu tampil sebagai cameo di hampir setiap filmnya entah itu sebagai orang yang berlalu lalang biasa saja seperti di Vertigo atau orang yang naik kereta dengan membawa bawaan yang berat di Strangers on a Train. Gue sendiri baru menonton sebagian kecil film2 Hitchcock yaitu sekitar 7 film dari 65 film yang pernah dibuatnya, dengan Rear Window sebagai film favorit gue karena didasari dari acting yang sempurna, penyutradaraan yang jenius (i won’t reveal it to you), serta tema yang orisinil (untuk ukuran jaman itu).
2. Ingmar Bergman
Ingmar Bergman adalah sutradara asal Swedia yang terkenal karena film2nya yang menonjolkan Eksistensialism dengan mempertanyakan keberadaan Tuhan atau menggali apa arti hidup di dunia ini bagi manusia dengan segala kekurangannya. Film-filmnya merupakan hasil observasi yang mendalam pada kehidupan manusia sehari-hari. Dialog-dialog dalam film Bergman sangat intelektual dan introspective. Dengan jarang mengindahkan special effect (selain dalam Persona), Bergman lebih memilih pencahayaan atau lighting dalam menampilkan keindahan film2nya. Dengan kolaborasi tetapnya Sven Nykvist, Bergman menemukan bahwa “Lighting” dapat mempengaruhi jalannya film, menonjolkan emosi dari karakter2nya serta menguak rahasia tersembunyi dari karakter2nya di filmnya (lagi2 Persona contohnya).
Gue sendiri baru menonton 4 filmnya antara lainnya Fanny & Alexander, Persona, The Seventh Seal, dan Wild Strawberries, dimana Fanny & Alexander adalah film favorit gue sampai sekarang,dimana menurut gue adalah film Ingmar Bergman paling kompleks dan merupakan sebuah ringkasan dari semua film-film yang pernah dibuatnya karena semua unsur seperti Horror, Mempertanyakan keberadaan tuhan ataupun psikologi antar hubungan manusia yang pernah hadir di semua filmnya tumplek menjadi satu dalam film ini. 3 film lainnya berada dalam list 100 film favorit gue. Bergman sendiri pernah dicap sebagai seorang “old hat” atau cenderung membuat film-film yang sejenis saja, dimana kemudia dia membungkam mulut kritikus tersebut dengan filmnya Persona dimana merupakan film eksperimentalnya yang juga menonjolkan kekuatan visual dan menonton Persona bagaikan menyaksikan film dengan tema khas Bergman dengan visualisasi a la film-film jean-Luc Godard.
Membeli film atau DVD dari film2 Ingmar Bergman sangatlah tidak rugi karena film2nya dapat ditonton berulangkali dimana setiap menonton berikutnya kita akan menemukan hal-hal baru yang terlewat dalam waktu menonton sebelumnya. Ini (in my humble opinion) adalah salah satu tanda kalau film tersebut adalah film yang hebat berbeda dengan film2 zaman sekarang atau khususnya keluaran Hollywood atau film Indonesia kebanyakan yang dapat kita tebak sebelum filmnya berakhir (bahkan gue bisa menebak jalan cerita Me Vs High Heels hanya dengan melihat trailernya ajah). Film-film dari Ingmar Bergman cocok untuk movie goer yang tertarik dengan film sebagai bentuk seni ataupun film dengan tema pencarian jiwa atau “soul-searching”.
3. Yasujiro Ozu
Berbeda dengan sutradara hebat Jepang lain pada zamannya yaitu Kurosawa dan Mizoguchi, Ozu mengambil tema yang paling dekat dengan kehidupan sehari2 kita yaitu keluarga. Sosok yang sering dianggap sentral dalam film Ozu adalah sang Ayah, dimana pada kenyataannya Ozu besar hanya didampingi seorang ibu dan Ozu tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya. Namun hal tersebut tidak mempengaruhi kedalaman film2nya dalam mengangkat tema keluarga. Mulai dari mudahnya anak dalam melupakan jasa orangtua dalam Tokyo Story, atau pengabdian seorang anak sehingga rela tidak menikah demi berbakti kepada orangtuanya.
Film-film Ozu bekerja dengan tone film yang subtle atau dibawah permukaan dan pace film yang lebih lamban dibanding film-film zaman sekarang, sehingga diperlukan kesabaran dan konsentrasi mendalam untuk memahami film-filmnya. Ozu sadar bahwa pace filmnya yang lamban oleh karena itu dia menggunakan tehnik “Pillow Shots” dalam memisahkan dua adegan dimana visualisasi dalam film2nya bekerja bagaikan puisi sehingga sebagai penonton kita diberikan waktu untuk berfikir dan memahami scene yang baru saja terjadi sebelum masuk ke scene yang berikutnya. Yang sering digunakan Ozu dalam tehnik ini adalah kereta api di Tokyo atau lentera2 berbentuk ikan yang terbang ditiup angin atau bendera2 kecil diatas atap rumah.
Ozu dikenal sebagai sutradara yang sopan dalam shot film2nya, dia hampir tidak pernah memindahkan kamera dari orang yang sedang berbicara. Every shot is framed and held, bahkan Ozu terkenal karena tidak pernah mengambil gambar lebih dari 3 kaki dari atas permukaan tanah dimana tinggi itu sama dengan tinggi rata-rata orang yang duduk di tatami atau tikar Jepang sehingga efek yang kita dapatkan adalah keterlibatan kita secara mendalam dan merasa dekat terhadap karakter2 dalam film-filmnya. Gue sendiri baru menonton 3 filmnya yang dikenal juga sebagai The Noriko trilogy yaitu Tokyo Story, Early Summer, dan Late Spring dengan Tokyo Story adalah film favorit gue yang kedua sampai saat ini setelah Fanny & Alexander. Menonton Tokyo Story bagaikan melihat cermin atas dosa-dosa yang telah kita perbuat pada orang tua. Roger Ebert pernah berkata “sooner or later everyone who loves movies will come to Ozu’s”, well Ebert is quite right and for you who like movies too should find and watch these gems from Ozu, and u shouldn’t worry because it is in Black and White, soon u’ve been absorbed by these movies u will forget that they are old movies.
4. Akira Kurosawa
Salah satu sutradara yang film-filmnya paling orisinil sepanjang masa. Gak bakalan ada film2 semacam Ocean’s Eleven, komik-komik seperti One Piece, Dragon Ball atau semua cerita yang berhubungan dengan merekrut anggota tim dengan kemampuan berbeda satu sama lainnya jika Seven Samurai ga dibuat oleh Kurosawa, atau mungkin Star Wars yang diilhami dari Hidden Fortressnya Kurosawa. Atau lihat dari Rashomon, dimana berkisah tentang suatu perampokan dan pemerkosaan yang dilihat dari 4 sudut pandang orang yang berbeda dimana pada akhirnya para penonton sendirilah yang harus memutuskan untuk memilih versi cerita orang yang mana yang kita yakini kebenarannya. Dan film-film tersebut dibuat pada era 1950-an dimana era tersebut adalah era film favorit gue. Kurosawa sendiri bersama Ozu dan Mizoguchi adalah tridente yang memperkenalkan film-film Jepang ke masyarakat internasional.
Dalam mengenang Kurosawa, sutradara besar dari daratan China Zhang Yimou pernah berujar “Other filmmakers have more money, more advanced techniques, more special effects. Yet no one has surpassed him.” Yang menarik dari film-filmnya Kurosawa adalah, dia tidak pernah membuat film sesuai keinginan audiens atau secara komersil, dia membuat sesuai idealis Kurosawa sendiri dimana fungsi film sebagai art atau seni tidak pernah ditinggalkan oleh Kurosawa. Namun film-filmnya dapat menarik perhatian baik itu movie-goer pemula atau mainstream maupun para “hard-to-please” movie critics. Film-filmnya sendiri banyak berkisah tentang epic dan legenda, not to mention Madadayo and Ikiru. Seperti Ran yang diangkat dari karya Shakespeare yaitu King Lear, atau Throne of Blood yang diangkat dari kisah Macbeth.
Sama seperti film-film dari sutradara besar dunia lainnya, film-film Kurosawa tidak pernah lekang dimakan waktu, alias timeless, alias masih bagus walau ditonton 50 tahun lebih setelah film tersebut diluncurkan. Favorit gue sendiri adalah Ran, kisah epic yang mengangkat tentang kisah raja tua yang sangat berkuasa yang merasa sudah uzur dan bingung untuk mewariskan kepada anaknya yang mana tahtanya tersebut akan diturunkan. Film-film Kurosawa cocok untuk movie goer yang adventorous yang bosan dengan tema-tema film masa kini dimana ada musuh, ada jagoan, dan jagoan kalah di akhir.
5. Andrei Tarkovsky
Tarkovsky meninggal pada saat berumur 56 tahun dimana banyak yang menganggap Tarkovsky terlalu cepat meninggalkan dunia sinema. Hanya dengan bermodalkan 7 full featured movies namun Tarkovsky telah menancapkan kukunya di bilantika perfilman dunia secara tajam (hehehe). Karena gue sendiri sudah menonton lebih dari setengah film yang dibuatnya, dimana tidak ada satu filmnya pun yang jelek. Bahkan Stalker yang menurut gue rada pretentious pun merupakan sebuah masterpiece yang wajib ditonton oleh penggemar film-film dari daratan Eropa.
Menonton film Tarkovsky untuk pertama kalinya gue rasa sangat berat, karena Tarkovsky tidak menggunakan bahasa percakapan sehari-hari dalam dialog di film-filmnya. Dialognya mengalir bagaikan puisi yang saling bersahutan dan kadang terdengar romantis. Selain itu untuk orang-orang yang belum akrab dengan gayanya film-filmnya akan terasa sangatttt lamban, bahkan lebih lamban dari film-filmnya Yasujiro Ozu, tapi visual dalam film-film Tarkovsky yang menakjubkan dapat membuat kita lupa kalau kita sedangn menyaksikan sebuah film, bagaikan sedang melihat rangkaian lukisan diiringi dialog. Tarkovsky sendiri tidak menggunakan special effect khusus dalam film-filmnya, since that thing was not common at that time.
Dari semua filmnya gue paling suka dengan Solyaris yaitu drama sci-fi yang merupakan kritik Tarkovsky terhadap film 2001:A Space Odyssey buatan Kubrick yang dinilai Tarkovsky sebagai kurang humanis. Lalu Mirror (Zerkalo) dimana buat Tarkovsky sendiri merupakan filmnya yang paling personal dimana merefleksikan kisah tentang perjuangan ibunya dalam membesarkan Tarkovsky dulu sewaktu ditinggal pergi suaminya (ayah Tarkovsky), dimana pada saat menonton Mirror untuk pertama kalinya, gue cuma bisa bengong pas film nya abis dan berujar what is this crap all about? Dan hal itu membuat gue penasaran untuk menontonnya lagi dan semua menjadi jelas pada second viewing dan gue menyadari inilah salah satu dari 10 film terbaik yang pernah gue tonton selama ini.
Tarkovsky sendiri pernah bilang bahwa film-filmnya bukan untuk dikonsumsi sekali tonton, dimana untuk memahami film-filmnya minimal orang harus menontonnya 2 sampai 3 kali, berbeda sekali dengan film-film zaman sekarang. Warning: menonton film-film Andrei Tarkovsky diusahakan hanya sendiri atau dengan teman yang juga suka art movies, jangan nonton bareng teman yang tujuan menonton film hanya untuk mendapat hiburan belakan, because he is going to waste your time with his questions and grumbles. Dah gitu tontonlah dalam keadaan fisik yang prima dan tidak ngantuk serta siap berkonsentrasi. It’s going to be a bumpy night, so fasten your seatbelt (Margo Channing in All About Eve)
6. David Lynch
Ada dua tipe movie goer di dunia ini, yang satu adalah yang cinta mati sama film-filmnya David Lynch dan paham akan kegilaan dan keanehan dalam film-filmnya, dan yang kedua adalah yang menganggap David Lynch hanya membuat film-film sampah selama ini.
It’s probably fair to say that David Lynch has a rather twisted view of life, which the same statement can be said of many top directors like Peter Greenaway, Terry Gilliam, and the Coen Brothers. David Lynch terkenal dengan keanehan adlam film-filmnya, perjalanannya dimulai dengan film independennya Eraserhead yang berkisah tentang seorang ayah yang bingung dalam menghadapi anak bayinya yang mempunyai rupa aneh seperti ET dan mempunyai penis berukuran raksasa dimana penis tersebut dapat mempengaruhi seksualitas si ayah, atau Blue Velvet dimana premis film dimulai dengan seorang mahasiswa yang menemukan potongan kuping yang sedang dirubung semut yang menuntunnya kepada suatu misteri, atau dari semua film Lynch yang paling normal adalah The Straight Story mengenai perjalanan seorang kakek berumur 80an untuk menemui adiknya yang sakit keras di negara bagian yang berbeda, namun tetap dipenuhi oleh karakter2 yang tidak kita temui dalam film-film pada umumnya.
David Lynch sendiri yang juga seorang pelukis dan pemusik, mengakui bahwa karya-karya baik itu film, lukisan, atau seni instalasinya adalah buruk, tapi di keburukan tersebutlah orang seharusnya dapat melihat lebih dekat dan dalam pada karya-karyanya untuk menemukan realita dan keindahan sebenarnya. Film-film David Lynch sendiri sering menampilkan karakter dalam kondisi mental pada titik paling rendah, atau bahkan lebih rendah daripada yang pernah kita rasakan atau pernah lihat,atau lebih tepatnya menonton film David Lynch seperti sedang menyaksikan atau merasakan sendiri sebuah mimpi buruk.
David Lynch mempunyai penggemar fanatik di seluruh penjuru dunia yang setia kepada film-filmnya baik itu filmnya dicap sangat buruk oleh para kritikus dunia sehingga membuatnya dicap sebagai salah satu Cult Director bersama-sama dengan John Waters dan Russ Meyer. Menonton film David Lynch kita harus melepaskan logika dimana jangan heran atau menggerutu bila tiba-tiba melihat seorang wanita tuna susila berjoget secara aneh di atas kap mobil atau nenek kakek yang tersenyum sangat lebar didalam taksi, namun tetap fokus pada filmnya karena jujur saja film-filmnya termasuk berat atau butuh perhatian khusus untuk dapat mengerti secara utuh apa yang ingin disampaikan oleh Lynch.
Karena sudah menonton menonton 8 dari 9 film nya dan seri TV Twin Peaks yang dibuatnya, gue berpendapat bahwa masetrpiece dari Lynch adalah pada Mulholland Drive dan Eraserhead, yang pertama karena gue merasa terserap dan bersimpati dengan karakternya dan yang kedua karena itulah bentuk karya Lynch yang sebenar-benarnya dan Eraserhead adalah salah astu film favorit dari salah satu sutradara favorit gue Stanley Kubrick. Untuk menonton film-film David Lynch disarankan matikan lampu, tengah malam, tutup semua pintu, dan surrender your thought to the movies.
7. Martin Scorsese
One of the living master in cinema. Film-film dari Scorsese umumnya tidak mempunyai suatu plot, melainkan suatu Character Study pada karakter utamanya atau sekelompok orang tertentu. Wajar saja karena Scorsese sendiri pernah mengakui ketertarikan utamanya adalah di bidang Antropologi. Scorsese sering mengangkat tema seks sebagai basic kebutuhan mendasar semua manusia dan kekerasan yang dilandasi dari seksualitas yang ada.
Scorsese tidak mengagungkan kekerasan dalam film-filmnya, namun justru membuatnya menjadi indah, contohnya adalah dalam Raging Bull dan Taxi Driver. Walau karya-karyanya banyak diasosiasikan dengan tema gangster seperti Mean Streets dan GoodFellas, bukan kekerasan dan aksi tembak2annyalah yang membuat film-filmnya begitu nikmat untuk ditonton, tapi lebih ke jiwa dan karakter dalam filmnya yang membuat mereka enjoyable.
Gayanya dalam mengedepankan narasi untuk mengembangkan karakter-karakternya menurut gue adalah yang terbaik dalam contemporary movies saat ini. Serta kamera dalam film-filmnya sangat hidup dan dinamis mengikuti perjalanan setiap karakter dalam film-filmnya. Tentu sebagai penggemar Magnolia mengetahui bahwa PT Anderson terinspirasi dari pergerakan kamera dalam Goodfellas. Kalau menonton film-filmnya Scorsese biasanya gue akan berakhir simpati terhadap karakter2nya karena penggambaran yang begitu mendetail dimana biasanya karakter2 dalam film Scorsese digambarkan dalam kondisi moral bobrok karena pengaruh lingkungan dan kebudayaan, contohnya King of Comedy atau Taxi Driver.
Film Scorsese yang paling gue suka adalah Raging Bull dimana menggambarkan perjalanan karir tinju Jake La Motta mulai dari dipuja sampai dicaci dan berakhir sebagai pemilik kafe dan melakukan standing comedy. Seperti Kurosawa, film-film Scorsese dapat mudah dinikmati baik oleh kalangan mainstream movie goer sampai kritikus film. Dan menurut gue salah satu alasannya adalah Scorsese sering memakai bintang-bintang film papan atas yang notabene akan memudahkan film-filmnya untuk diputar di bioskop-bioskop Jakarta.
8. Stanley Kubrick
Sama seperti Tarkovsky film-film yang dibuat oleh Kubrick tidak sebanyak sutradara-sutradara besar lain semacam Jean-Luc Godard, namun semua filmnya meninggalkan kesan mendalam untuk perkembangan dunia sinema. Tema besar yang selalu diangkat oleh Kubrick dalam film-filmnya sendiri adalah dehumanisasi atau gambaran manusia dalam bentuk moral terburuk, namun berbeda gaya dengan Scorsese yang menggarapnya lebih real, Kubrick menampilkan karakter2nya sesuai dengan gambaran yang ada di kepalanya.
Umumnya Kubrick membuat film-filmnya yang merupakan adaptasi dari novel atau literatur yang pernah dibaca atau disukainya, lalu menggarapnya sebagai film dimana hasilnya cenderung berbeda dengan novel atau literatur aslinya. Hal ini yang membuat Stephen King rada kesel waktu Kubrick melenceng jauh dengan The Shining dimana King yang menulisnya. Dalih Kubrick tetap pada pendiriannya, karena dia telah membeli hak cipta The Shining untuk difilmkan maka hak dia pulalah untuk membuat The SHining sesuai seleranya. Sehingga tersirat bahwa Kubrick menggunakan film sebagai ungkapan emosinya saat itu. Namun alih-alih hanya membiarkan audiens sebagai saksi mata sebuah pengalaman, Kubrick malah mengundang kita sebagai penonton untuk ikut merasakan pengalaman tersebut, seperti dalam 2001:A Space Odyssey dimana gue sendiri merasakan hampanya ruang udara di angkasa sana, dan semua di sekitar gue terasa lamban mengikuti alur film tersebut, atau merasa berada dalam lingkungan orgy seperti dalam Eyes Wide Shut.
Seperti film-filmnya Tarkovsky mungkin kita tidak akan suka sewaktu menontonnya pertama kali, karena selalu ada hal-hal yang ditampilkan di luar hal-hal yang kita lihat sehari-hari, namun semua akan semakin jelas pada kesempatan menonton berikutnya. DI gue sendiri hal ini terjadi pada film 2001 dan Dr Strangelove dimana pada first viewing gue cuman bisa bengong, dimana yang satu alurnya lambat banget dan i’m not a really big fan of sci-fi stuff, dan satu lagi tentang perang, which i’m not a fan of war movie too. Tapi di suatu sore iseng dimana ga ada lagi film yang menarik tuk ditonton, gue memberi kesempatan kedua pada kedua film tersebut which I was blown away, and end up with both of them as my all time fave movie.
Seorang editor film bernama Steve Hamilton pernah mengatakan bahwa Kubrick adalah seorang master dalam membuat art film dengan budget yang besar bahkan sangat besar, mengingat mayoritas film-filmnya dibuat dengan uang dari studio-studio besar yang berbeda dengan sutradara-sutradara semacam Ingmar Bergman dan Andrei Tarkovsky. Dan satu lagi yang gue sukai dari Kubrick adalah dia sudah menjelajah ke hampir semua genre film, dari sci-fi di 2001, epic di Barry Lyndon dan Spartacus, komedi di Dr Strangelove, perang di Full Metal Jacket, seksualitas di Eyes Wide Shut, bahkan film Noir dalam the Killing yang semuanya digarap tidak asal-asalan. Hidup sebagai seorang yang mengaku movie goer tidak akan pernah lengkap bila tidak pernah menonton dan menikmati salah satu film Kubrick.
9. Federico Fellini
Di Italia, yang negaranya terkenal dengan film-film semacam dokumenter bernuansa neorealis, dapat dikatakan ironis bahwa sutradara paling terkenal asal Italia sampai saat ini adalah Federico Fellini yang film-filmnya justru bernuansa Surrealis.
Berangkat dari genre Neorealis juga, Fellini yang sempat menjadi penulis naskah dalam film-film Roberto Rosellini sampai dengan filmnya yang bernuansa Neorelis terakhir adalah Nights of Cabiria. Inspirasi film-filmnya sendiri datang dari pengalaman hidupnya semenjak kecil, dapat kita lihat dalam film-filmnya sering muncul serombongan orang berbaris mengenakan kostum seperti orang-orang sirkus, karena sirkus telah menjadi bagian utama dalam diri semenjak dia kecil di kota Rimini. Karena kecintaannya pada sirkus dan dulunya adalah seorang kartunis dan pembuat karikatur adalah yang membuat gaya penyutradaraannya yang ceria dan playful atau lucu.
Surealism dalam film-filmnya sendiri kebanyakan bersandarkan dari mimpi2 Fellini sendiri baik mimpi buruk atau bagus juga baik mimpinya saat tidur atau saat terjaga. Namun cerita dalam film-filmnya quite accessible, sehingga mengukuhkan statusnya sebagai a true visionary. Gaya surrealisnya sendiri adalah cenderung membesar-besarkan sesuatu atau membuat sesuatu menjadi lucu, seperti sekumpulan orang berpakaian aneh dan berdandan nyentrik penuh dengan aksesoris warna-warni di ruangan dengan setting yang detail dan colorful juga.
Gayanya ini yang akhirnya dikenal sebagai “Felliniesque” paling banyak kita lihat pada sutradara zaman sekarang yaitu Tim Burton yang selalu menggunakan setting lokasi detail dengan nuansa warna-warni dan ceria, atau David Lynch dalam mengadopsi penampakkan karakter2 aneh yang tertawa lebar sambil diam saja. Yang membuat sulit dalam mencerna film-film Fellini adalah gaya penceritaanya yang episodic atau dipisahkan seperti babak-babak yang kadang antara satu babak dengan babak yang lainnya tidak berhubungan namun berfungsi untuk menguatkan karakter sentral yang sedang diceritakannya.
Dalam La Dolce Vita diceritakan perjalanan Marcello seorang jurnalis di 7 malam yang berbeda dan dengan masalah2nya yang berhubungan dengan wanita-wanita. Atau di Nights of Cabiria yang mengisahkan perjalanan seorang pelacur jalanan bernama Cabiria dari satu malam ke malam berikutnya dalam usaha memperbaiki kehidupannya. Saran gue jangan menyerah bila tidak mengerti dalam menonton film Fellini untuk pertama kalinya, karena seorang sutradara besar layaknya mempunyai gaya yang unik dan berbeda dengan sutradara lainnya, begitu pula dengan film-film Fellini, coba akrabi satu filmnya dulu lalu tonton ulang barulah pindah ke filmnya yang lain karena menurut gue filmnya adalah sebuah harta yang siap untuk ditemukan kapan saja.
Film favorit dari Fellini sendiri untuk gue adalah Otto e Mezzo atau 8 1/2, yang menceritakan tentang perjalanan seorang sutradara yang merupakan alter ego dari Fellini sendiri, yang dihadapkan dengan tuntutan untuk membuat film yang sama suksesnya bahkan lebih dari film sebelumnya (pada Fellini sendiri film sebelum otto e mezzo adalah La Dolce Vita dimana sukses besar-besaran di seluruh dunia). Dalam kondisi tertekan dari sang produser yang menuntut filmnya agar cepat dikerjakan dan crew lainnya yang minta untuk diajak turut serta dalam filmnya atau artis2 yang merengek untuk tampil di filmnya padahal sang sutradara belum mempunyai ide apapun untuk film berikutnya. Film Fellini disarankan untuk movie goer yang sabar dan suka humor dalam film serta tertarik dengan film bergaya Surrealis.